Minggu, 20 April 2014

Maza (Cerpen)



Maza (Sebuah Nama)
Mazarina Varisha menatap lengkung pelangi itu sekali lagi. Matanya mulai berkaca-kaca. Tirai air mata yang selama ini dibendungnya akhirnya tumpah juga. Puncak cerita yang tak pernah terpikir dalam angahnya, kini terjadi. Perlahan tangan kanannya mengusap air mata yang meluber pada pelipis kirinya. Sebelum melangkahkan kaki meninggalkan tempat kenangannya itu, gadis yang biasa dipanggil dengan sebutan Maza ini pun memutar badannya, menatap sosok tegap yang tak jauh dari pandangannya. Kembali terasa sesak di dadanya. Maza menarik napas berat lalu mengembuskannya perlahan.
            Cukup sampai di sini, pikirnya.
            Vino Alvareza, lelaki yang telah menjalin hubungan dengan Maza lebih dari lima tahun. Sama halnya dengan Maza, Vino merasa berat untuk melangkahkan kaki pergi meninggalkan tanah airnya tercinta. Terutama gadisnya, Maza.
            “Maafkan aku, Za. Ini bukanlah akhir kisah kita, belajarlah mengerti keadaan agar kamu dapat menjadi gadis yang lebih tegar dan siap untuk menghadapi kerikil-kerikil dunia,” pesan Vino kepada Maza sebelum memutuskan pergi ke negeri orang.
            Maza mengangguk pelan. “Aku memahami itu, Vin. Jarak bukanlah hal yang dapat memutuskan hubungan kita, bukan? Aku akan menunggumu, sampai urusanmu menuntut ilmu selesai. Jadilah seseorang yang sukses,” tanggapan Maza sembari menitikkan air mata.
            Vino tak tega melihat kekasihnya itu, diusapnya air mata Maza dengan jemarinya. Maza pun tersenyum di balik air mata yang turun ke sekian kalinya. Dirinya telah rela dengan keputusan Vino.
            Vino tersadar dengan bayangannya. Sesaat Vino membalik badannya untuk melihat sosok Maza untuk terakhir kalinya.
            “Maza ....”
            Terlihat tatapan kecewa di raut wajah Vino. Sosok yang dicarinya sudah tak lagi di tempat. Dengan perasaan sedih, Vino menyeret koper-kopernya dan masuk ke ruang tunggu bandara.
*
            “Za ... Maza ....”
            Maza tersadar dari lamunannya. Tepukan Sindi, sahabatnya sejak kecil itu mampu membuatnya kaget dan terkesiap.
            “Siang bolong kenapa melamun?” tanya Sindi sembari duduk di sebelah Maza.
            “Kira-kira, Vino sekarang lagi apa, ya, Sin? Barangkali dia sudah tak lagi ingat siapa sosok Maza. Hari ini tepat tiga tahun dia meninggalkan kita.”
            “Kamu omong apa, sih? Mana mungkin Vino tak ingat kamu, seorang Vino hanya pernah mencintai seorang gadis, yaitu Maza.”
            Maza menggeleng seraya air matanya jatuh menetes membasahi pipinya. “Jerman itu luas, Sin. Dan kamu tahu ... di sana banyak cewek-cewek cantik, pintar, dan sosialisasi mereka sangat tinggi ... sedangkan ... aku di sini tak berdaya. Hidupku hanya untuk melawan sakit yang senantiasa menggerogoti diriku. Mana mungkin ... Vino ....”
            “Ssssttt ... cukup! Jangan teruskan, Za.” Sindi memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat. Lantas Maza masih sesegukkan dalam tangisnya.
            “Kamu pasti kuat. Seorang Maza yang aku kenal ... sangat tangguh, sabar dalam menghadapi cobaan.”
*
            Senja sudah pulang ke peraduannya sejak tiga jam yang lalu. Kini bebintang sudah menampakkan kerlipnya di antara senyum rembulan. Seperti biasa, Maza duduk di depan meja belajarnya sambil menggenggam pena berwarna merah. Secarik kertas diambilnya dari laci almari buku miliknya. Penanya mulai menari-nari di atas permukaan kertas putih, meluapkan rasa dalam rangkaian aksara.
            Dalam satu cakrawala kita mencumbu kisah, hingga kini pun sama
            Biarkan angin mengempas, berembus
            Hingga daku tenang mencecap moksa. Dan engkau pun tahu,
            Sebongkah rasa terselip dalam jubah waktu
            Entah sudah berapa sajak yang sudah Maza rangkai semenjak kepergian Vino. Kertas-kertas itu tersimpan rapi di laci meja belajarnya. Hanya itu yang bisa dilakukan Maza untuk Vino. Walaupun sebenarnya Vino tak akan pernah mengetahui kerinduan Maza yang telah disimpannya sejak lama.
            “Bahkan sampai sekarang manik matamu tak terlihat olehku ....” gumam Maza sebelum memejamkan mata dan menikmati dunia kapuk.
*
            “Apakah tak ada cara lain, Dok?”
            “Maaf, Bu ...”
            Bunda Maza tak henti merintih dan menangisi takdir anaknya. Anak semata wayangya itu sudah menjadi teman hidupnya semenjak sang suami meninggal dunia. Sejak saat itu hanya Maza teman, sahabat, keluarga, sekaligus anaknya. Peran Maza tak dapat tergantikan.
            Namun kini keadaan terbalik. Dirinya tak rela apabila teman hidupnya itu harus pergi juga menyusul sang suami.
            Kanker dalam diri Moza telah menyebar hingga ke paru-paru. Dokter sudah mengoptimalkan kinerja mulai dari pengobatan jalan hingga melakukan kemoterapi. Namun tak banyak perubahan yang terjadi.
            “Tante yang sabar, ya. Aku yakin Maza pasti bisa sembuh. Maza seorang gadis yang kuat,” ucap Sindi menguatkan hati Bunda Maza.
            “Semoga dia tetap semangat. Tante justru merasa bersalah, sebagai seorang Ibu, Tante belum bisa membuatnya bahagia. Bahkan Tante pernah menentang keinginannya untuk menjadi seorang penulis. Dan ... kini Tante tidak bisa berbuat banyak .... dia hampir menghabiskan hidupnya untuk menunggu Vino, yang tak kunjung menemuinya.” Bunda Maza masih terus menangis.
            “Maza pasti memahami itu, dia sangat sayang dengan Tante.”
            “Apa harus, kita bawa Maza ke luar negeri untuk menjalani kemoterapi? Tante rasa di luar negeri peralatan lebih canggih. Hanya ini yang bisa Tante usahakan. Walaupun harta habis, asalkan Maza tetap hidup ... di samping Tante.”
            “Bisa saja, di Jerman aku pernah dengar ada cara pengobatan untuk pasien kanker. Dan peralatan mereka lebih canggih. Setidaknya bisa memperpanjang vonis Dokter.”
            “Kalau begitu, kita berangkat nanti sore. Kamu ikut, ya?”
            “Pasti, Tante.”
*
            “Sin, tolong jangan lupa membawa kertas-kertasku di laci meja belajar.”
            “Untuk apa?”
            “Kumohon ...” ucap Maza seraya menggenggam pergelangan tangan Sindi. Karena merasa iba, Sindi pun menuruti keinginan sahabatnya itu.
            Sudah sekitar dua tahun Maza tidak naik pesawat. Terakhir kali naik pesawat saat pergi ke Jepang untuk pertukaran pelajar. Tak heran jika kini wajahnya sumringah ketika berada di bangku pesawat. Tak lupa Sindi dan Bundanya menemani perjalanannya ke Jerman.
            “Bund, Maza mau ke toilet dulu. Maza mual.”
            “Bunda antar, ya? Atau mau diantar Sindi?”
            “Tidak perlu. Maza bisa sendiri.”
            “Tapi Za ... kamu pucat sekali, kamu kan masih ....”
            “Apa? Sakit? Aku tidak sakit! Aku sehat Sin, jangan selalu menganggap aku manusia paling lemah di dunia ini, yang selalu harus diantar kemana-mana.”
            Setelah berkata demikian, Maza melangkahkan kaki menuju toilet. Tak dapat dipungkiri, di dalam toilet Maza muntah dan merasa mual yang luar biasa. Kepalanya berkunang-kunang. Semakin lama dirasakannya sakit di sekitar tulang rusuknya. Tangan kanannya tak henti mencengkeram erat dadanya.
            “Tuhan ... jangan sekarang.”
            Badannya sempat terhuyung. Tangan kirinya memegang pinggiran westafel dengan erat. Ketika dirasa tangannya tidak kuat menahan tubuhnya, Maza menyandarkan punggungnya ke tembok toilet.
            “Maza ... kamu kenapa?”
            Seketika itu diulaskan senyum kepada Sindi yang memergokinya terduduk di lantai toilet. “Aku nggak papa. Hanya tadi ada kecoa di bawah.”
            “Masa sih, ada kecoa?”
            “Udahlah, ayo kita kembali.”
*
            Setelah turun dari pesawat, Maza terlihat sangat pucat dan napasnya tak beraturan. Tim medis langsung memberikan tindakan. Sedangkan Sindi dan Bundanya menunggu dengan hati resah di luar ruang tindakan. Tak lama kemudian, seorang dokter berkewarganegaraan Jerman keluar dari ruangan.
            “Bagaimana keadaan Maza?”
            “Sie sehr gut. Jangan khawatir.” Rupanya sang Dokter dapat berbahasa Indonesia sedikit-sedikit.
            Bunda dan Sindi pun bergegas masuk ke ruangan. Tepat di atas ranjang, Maza terbaring sembari mengulas senyuman. “I am fine, Mom.”
            “Sin, di mana penaku?”
            “Pena? Di dalam tas.”
            Kembali Maza mengukir sajaknya.
            Negeri hamburger pun kususuri. Mencari sebongkah harap pada cela nan ambigu ini. Rasa pun taksa terasa. Senja kembali menemaniku dalam sebuah sandiwara cerita. Tak penat! Daku menabur senyum pada pelita jiwa. Pula menanti kisahkasih selanjutnya. Bahkan frasa yang kucurahkan dalam lantunan doa-doa. Pada malam kulumat perih-perih rindu rahasia. Per bab kitab-kitab wicara. Denting waktu telah dibunyikan. Terasa sayap mengajak terbang, beranjak pulang.
            “Kamu menulis apa, Za?”
            “Aku minta tolong ... jika suatu saat nanti aku tiada, aku akan serahkan kertas-kertas ini kepadamu. Bukukan sajak sederhana ini dalam sebuah buku berjudul ‘Repih-repih Kisah’ Setidaknya aku bisa menjadi penulis sesaat, hehe ...”
            “Tidak! Kamu pasti sembuh, Za. Percayalah ...”
*
            Mazarina Varisha
            Nama itu terpatri di sebilah papan. Tidak! Tepatnya sebuah batu nisan. Seorang yang bersemangat tinggi dan berjiwa tegar kini sudah saatnya mencecap moksa.
            Sindi hanya bisa mengenang memori bersama sahabatnya itu. Walaupun pernah ditentang untuk menjadi seorang penulis, kini karyanya sudah mampu dinikmati khalayak banyak. Walaupun sang author telah tiada. Namun karyanya akan selalu ada dalam hati pembaca.
            Vino, seseorang yang dinantinya kini datang. Namun dalam keadaan menyedihkan. Sosok yang dicintainya telah tiada. Hanya sebuah buku yang berjudul Repih-repih Kisah yang dapat dia nikmati. Dan dengan membaca lembar-lembarnya dia mengerti, bahwa Maza sangat teramat merindukannya. Dalam sebuah rindu rahasia.
*The End*

0 komentar :

Posting Komentar