Kamis, 29 Mei 2014

Biarlah DIA yang Tentukan

Mataku menerawang ke setiap sudut ruangan berukuran sedang berwarna putih. Bukan rumah sakit seperti kebanyakan film pada saat adegan pingsan dan clinggg ... berada di rumah sakit. Aku masih berada dalam kamarku sendiri. Sebuah bilik tempatku menumpahkan segala perih, segala rasa yang tak mungkin semua orang kan mengerti.

Aku termangu, sendiri. Ya, seorang diri. Sekitar sepuluh menit yang lalu aku telah usai mendengarkan suara lelaki yang selama ini memberi andil dalam kehidupanku. Dia bukan Ayahku, juga Kakakku. Aku anak sulung sehingga mustahil aku memiliki seorang Kakak. Mimpiku akan sosok Kakak laki-laki tergilas sirna.

"Apabila setelah Idul Fitri nanti ada yang melamarmu, apa tanggapanmu, Nduk?"

Rahangku terkatup. Tak mampu ungkapkan sekelumit kata pun. Aku terdiam sejenak hingga sang suara membangunkanku dari lamunan yang merajai jiwaku.
"Nduk, kok diem," ucap suara itu.
"Emm ... ti-tidak."
"Apanya yang tidak?"
"Bukan begitu, memangnya siapa yang akan melamarku?"
"Aku."

Jleb! Terasa ada batu yang menghantam ulu hatiku saat itu juga. Napasku mulai berat. Dadaku terkoyak. Ada rasa kecewa, sedih, dan tidak percaya beradu padu bagai es campur.

"Jangan bercanda," ucapku berusaha mencairkan suasana.
"Apakah aku kelihatan seperti bercanda? Ya sudah, jangan dipikirkan. Yang penting nanti aku pasti minta ijin untuk mencium keningmu."

What? Dia bilang, apa?

"Kalau begitu tidurlah, sudah malam. Assalamualaikum."
"Wa-waalaikumsalam."

Ponselku terjatuh lemah di atas kasur. Aku mengempaskan seluruh tubuhku ke kasur. Aku tak percaya. Dia ... dia sudah aku anggap sebagai Kakak, Guru, dan sebagai Sahabat yang selalu mengiringi langkahku. Aku amat berterima kasih untuk itu. Aku tahu dia menyimpan rasa yang lebih dari sesosok sahabat kepadaku sejak pertama kali mengenalku.

Namun aku tak dapat membalas rasanya kepadaku. Bukan karena usianya dua kali dari usiaku sekarang, bukan karena aku menyepelekannya, namun karena ... hanya karena ... biarkan Allah yang menentukan yang terbaik untuk kita berdua.

Pertama kalinya kaum adam yang mengucapkan akan melamarku. Banyak kaum adam yang menyatakan cintanya padaku, namun aku menolaknya, karena kurasa Allah akan memberikanku jodoh pada waktunya. Saat waktu itu tiba, aku akan menerimanya.

Bunda, Ayah ... aku tak akan melalaikan amanah kalian untuk menjadi sukses, oleh karena itu, menikah merupakan hal nomor akhir. Setidaknya untuk saat ini, terlalu muda bagiku memahami arti sebuah rumah tangga.

Kelanaku masih panjang, semangat yang aku butuhkan masih banyak pula. Belum menggenggam dunia! Belum menakhlukkan Mimpi.

0 komentar :

Posting Komentar