Saturday, 19 July 2014

MACAM_MACAM NOVEL

Ada beberapa macam-macam novel. Novel dapat dibagi berdasarkan bentuknya, waktunya, dan alurnya. Selain itu, Novel juga dapat dibagi menjadi beberapa macam berdasarkan isi dari novel tersebut.
Berikut terdapat macam-macam novel, yaitu:
Novel Romantis
Novel romantis adalah novel yang memuat cerita panjang bertemakan percintaan. Novel ini hanya dibaca khusus oleh para remaja dan orang dewasa. Alur ceritanya pertemuan kedua tokoh yang berlawanan jenis tersebut ditulis semenarik mungkin. Lalu dilanjutkan dengan konflik-konflik percintaan hingga mencapai sebuah titik klimaks, lalu diakhiri dengan sebuah ending yang kebanyakan bercabang jadi tiga: happy ending (dua tokoh utama bersatu), sad ending (dua tokoh utama tidak bersatu), dan ending menggantung (pembaca dibiarkan menyelesaikan sendiri kisah itu).
Novel Komedi
Novel komedi adalah novel yang memuat cerita yang humoris (lucu) dan menarik dengan gaya bahasa yang ringan dengan diiringi gaya humoris dan mudah dipahami.
Novel Religi
Novel ini bisa saja merupakan kisah romantis atau inspiratif yang ditulis lewat sudut pandang religi. Atau novel yang lebih mengarah kepada religi meski tema tersebut beragam.
Novel Horor
Novel ini biasanya bercerita seputar hantu. Sisi yang menarik dari novel ini adalah latar tempatnya, yang kebanyakan sebagai sumber hantu itu berasal. Cerita juga biasa disajikan dalam bentuk perjalanan sekelompok orang ke tempat angker.
Novel Misteri
Novel ini adalah novel yang biasanya memuat teka-teki rumit yang merespons pembacanya untuk berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah tersebut. Bersifat mistis, dan keras.Tokoh-tokoh yg terlibat biasanya banyak dan beragam, seperti polisi, detektif, ilmuwan, budayawan, dll.
Novel Inspiratif
Novel Inspiratif adalah novel yang menceritakan sebuah cerita yang bisa memberi inspirasi pembacanya. Biasanya novel inspiratif ini banyak yang berasal dari cerita nonfiksi atau nyata. Tema yang disuguhkan pun banyak, seperti tentang pendidikan, ekonomi, politik, prestasi, dan percintaan. Gaya bahasanya pun kuat, deskriptif, dan akhirnya menemui karakter tokoh yang tak terduga.

ANALISIS SEMIOTIKA

Dalam buku Analisis Teks Media, Alex Sobur memuat kerangka Analisis Semiotika yang dianut oleh Semiotik Sosial dari Halliday dan Hassan:
  1. Medan Wacana (field of discourse): menunjuk pada hal yang terjadi: apa yang dijadikan wacana oleh pelaku (=media massa) mengenai sesuatu yang sedang terjadi dilapangan peristiwa.
  2. Pelibat Wacana (tenor of discourse) menunjuk pada orang-orang yang dicantumkan dalam teks (berita); sifat orang-orang itu, kedudukan dan peranan mereka. Dengan kata lain, siapa saja yang dikutip dan bagaimana sumber itu digambarkan sifatnya.
  3. Sarana Wacana (mode of discourse) menunjuk pada bagian yang diperankan oleh bahasa: bagaimana komunikator (media massa) menggunakan gaya bahasa untuk menggambarkan medan (situasi) dan pelibat (orang-orang yang dikutip); apakah menggunakan bahasa yang diperhalus atau hiperbolik, eufemistik atau vulgar.

Majas

Ada beberapa pengertian majas. Pengertian Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.
Majas merupakan bahasa kias atau pengungkapan gaya bahasa yang dalam pemakaiannya bertujuan untuk memperoleh efek-efek tertentu agar tercipta sebuah kesan imajinatif bagi penyimak atau pendengarnya.
Seorang penulis sastra juga terkadang terkenal dengan tulisan-tulisan majas dalam karyanya. Dalam hal ini seorang penulis sastra dalam menyampaikan pikiran dan perasan, baik secara lisan dan tertulis kerap menyampaikannya dengan bahasa majas yang khas.
Pada dasarnya, majas dibagi ke dalam 4 kelompok utama yakni:
  1. Majas Perbandingan
  2. Majas Sindiran
  3. Majas Penegasan
  4. Majas Pertentangan
Masing-masing kelompok majas ini terdiri atas berbagai subjenis majas yang dikelompokkan berdasarkan identifikasi gayanya masing-masing. Adapun macam-macam majas yang masuk ke dalam kelompok majas perbandingan antara lain:
Alegori yakni majas yang menyatakan sesuatu melalui sebuah kiasan atau penggambaran. Misalnya: “Hidup ini bagai sungai yang mengalir. Sebelum bermuara, kita tak tahu apa yang terjadi di sepanjang alurnya.”
  1. Alusio, yakni majas berupa ungkapan yang tidak terselesaikan pada sesuatu yang dimaksud sebab telah diketahui siapa dan apa yang dimaksudkan. Contohnya: “Sudah lama aku tidak melihat batang hidungnya.” 
  2. Simile, yakni majas yang membandingkan dengan cara eksplisit. Majas ini gampang dikenali sebab menggunakan kata penghubung contohnya bagaikan, ibarat, umpama, bak dan masih banyak lagi lainnya. Contoh majas ini: “Bak seorang penari, gerak tubuhnya sangat luwes.”
  3. Metafora, yakni majas yang juga membandingkan suatu benda dengan benda lainnya dengan didasarkan pada sifatnya yang serupa. Contohnya: “Cuaca terlihat mendung berlangit abu-abu sebab sang raja siang tidak memunculkan dirinya.”
Masih ada macam-macam majas lainnya yang masuk ke dalam kelompok majas perbandingan antara lain: Majas metonimia, majas aptronim, majas antonomasia, majas hipokorisme, majas hiperbola, majas simbolik, majas eponym, majas fabel, majas litotes, majas asosiasi, majas persinifikasi, majas depersonifikasi, majas pars pro toto, majas totum pro parte, majas eufimisme, majas antropomorfisme, majas disfemisme dan masih banyak lagi lainnya.
Sementara itu, macam-macam majas yang masuk ke dalam kelompok majas sindiran antara lain:
  1. Majas ironi, yakni majas yang menyindir dengan menyatakan kebalikan dari fakta yang ada. Misalnya: “Kulitmu begitu putih serupa mayat.”
  2. Majas Sarkasme, yakni majas yang menyindir secara langsung dan lebih kasar. Misalnya: “Kamu dikenal sebagai pribadi yang pintar, lantas kenapa harus bertanya lagi padaku?”.
Majas lainnya yang masuk ke dalam kelompok majas sindiran ini antara lain: majas sinisme, majas satire, majas innuendo.
Adapun macam-macam majas yang masuk ke dalam kelompok majas penegasan antara lain:
  1. Majas apofasis yakni menegaskan dengan cara yang seolah menyangkal.
  2. Majas pleonasme, yakni majas yang menambahkan sejumlah keterangan pada sebuah pernyataan yang sebenarnya sudah jelas.
  3. Repetisi, yakni majas yang mengulang kata atau frase dalam satu kalimat.
  4. Majas pararima, yakni mengulang konsonan baik pada akhir maupun awalan dalam sebuah kata.
  5. Majas koreksio, yakni merupaka majas yang menyajikan hal-hal keliru dengan memaparkan maksud yang sesungguhnya.
  6. Majas asyndeton yakni majas yang menggunakan sebuah pengungkapan tanpa memakai kata penghubung.
  7. Majas aliterasi yakni majas yang menggunakan pengulangan konsonan di awal kata dengan tatanan yang berurut.
  8. Tautologi adalah majas yang mengulang kata dengan menggunakan semua sinonimnya.
  9. Majas sigmatisme adalah kalimat dimana terdapat gaya pengulangan huruf S untuk memperoleh kesan tertentu.
  10. Majas klimaks yakni majas yang memaparkan sebuah pikiran atau suatu hal secara berurutan dari sebuah hal yang sederhana hingga yang kompleks atau klimaks.
  11. Majas alonim adalah majas yang menggunakan berbagai jenis nama untuk menegaskan sesuatu, dll
Terakhir, macam-macam majas pertentangan antara lain:
  1. Majas paradox yakni majas yang mengungkapkan dengan cara menyatakan dua hal yang dibuat seolah bertentangan namun pada hakekatnya dua hal yang dikemukakan tersebut benar.
  2. Majas oksimoron yakni majas dengan menggunakan paradoks dalam 1 frasa.
  3. Majas antithesis yakni pengungkapan sesuatu dengan memakai kata-kata berlawanan makna dengan yang lain.
  4. Majas kontradiksi interminus yakni sebuah pernyataan yang memiliki sifat penyangkalan dan telah disebutkan pada bagian awal.
  5. Majas anakronisme merupakan ungkapan yang mengandung sebuah ketidaksesuaian antara sebuah peristiwa dengan waktu terjadinya persitiwa tersebut.

Pengertian Sajak

Ada beberapa pengertian sajak. Kata “SAJAK” Berasal dari kata Arab “saj” yang bermaksud karangan puisi. Sajak adalah persamaan bunyi. Persamaan yang terdapat pada kalimat atau perkataan, di awal, di tengah, dan di akhir perkataan. Walaupun sajak bukan menjadi syarat khusus bagi sesuatu puisi lama, tetapi pengaruhnya sangat mengikat kepada baentuk dan pilihan kata dalam puisi itu.
Sajak merupakan puisi Melayu moden yang berbentuk karangan  berangkap, berbentuk bebas dan tidak terikat pada jumlah baris, perkataan sebaris, suku kata sebaris, rangkap, rima dan sebagainya.
Tema - Persoalan pokok atau persoalan utama yang dikemukakan dalam sebuah puisi. Tema boleh juga di
artikan sebagai idea pusat atau idea dasar.
Abdul Hadi W.M. menjelaskan bahwa sajak itu ditulis untuk mencari kebenaran. Katanya lagi, "dalam sajak terdapat tanggapan terhadap hidup secara batiniah". Oleh itu bagi beliau, di dalam sajak harus ada gagasan dan keyakinan penyair terhadap kehidupan, atau lebih tepat lagi, nilai kemanusiaan.
Menurut H.B. Jassin, sajak itu adalah suara hati penyairnya, sajak lahir daripada jiwa dan perasaan tetapi sajak yang baik bukanlah hanya permainan kata semata-mata. Sajak yang baik membawa gagasan serta pemikiran yang dapat menjadi renungan masyarakat.
Sajak dibagi kepada jenis tertentu berdasarkan beberapa aspek, seperti berikut ini:
  • Dari aspek aliran, sajak dikatakan romantisme, realisme, eksistensialisme, dan lain-lain.
  • Dari aspek bentuk (luaran), sajak dikatakan kuatren, terzina, soneta, dll.
  • Dari aspek kebolehfahaman, sajak dikatakan polos (diaphan), taksa (ambiguous), prismatik, atau kabur; dan
  • Dari aspek ciri kandungan, sajak dikatakan abstrak atau konkrit. Sajak merupakan bahan yang sesuai untuk disampaikan kepada para pelajar sebagai bahan sastra di dalam pengajaran dan pembelajaran.

Perbedaan Puisi dan Prosa

Dilihat dengan detail, ada beberapa perbedaan prosa dengan puisi. Puisi merupakan aktivitas yang bersifat pencurahan jiwa yang padat, bersifat sugestif dan asosiatif. Sedangkan prosa merupakan aktivitas yang bersifat naratif, menguraikan, dan informatif (Pradopo, 1987).
Perbedaan lain yaitu puisi menyatakan sesuatu secara tidak langsung, sedangkan prosa menyatakan sesuatu secara langsung.
Slametmulyana (1956) mengatakan bahwa ada perbedaan pokok antara prosa dan puisi. Pertama, kesatuan prosa yang pokok adalah kesatuan sintaksis, sedangkan kesatuan puisi adalah kesatuan akustis. Kedua, puisi terdiri dari kesatuan-kesatuan yang disebut baris sajak, sedangkan dalam prosa kesatuannya disebut paragraf. Ketiga, di dalam baris sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir.
Pendapat lain mengatakan bahwa perbedaan prosa dan puisi bukan pada bahannya, melainkan pada perbedaan aktivitas kejiwaan. Puisi merupakan hasil aktivitas pemadatan, yaitu proses penciptaan dengan cara menangkap kesan-kesan lalu memadatkannya (kondensasi). Prosa merupakan aktivitas konstruktif, yaitu proses penciptaan dengan cara menyebarkan kesan-kesan dari ingatan (Djoko Pradopo, 1987).
Puisi: merupakan aktifitas jiwa yang menangkap kesan-kesan, kemudian kesan-kesan tersebut dipadatkan (dikondensasikan) dan dipusatkan. merupakan pancuran jiwa yang bersifat liris (emosional) dan ekspresif. seringkali kalimat dan isinya bersifat konotatif.
Prosa: merupakan aktifitas penyebaran (mendispersi) ide atau gagasan dalam bentuk uraian, bahkan kadang-kadang sampai merenik. merupakan pengungkapan gagasan yang bersifat epis atau naratif. pada umumnya bermakna denotasi, walaupun kadang ada karya yang isinya konotatif.
Dengan singkat bisa dikatakan bahwa prosa adalah pengucapan dengan pikiran dan puisi ialah pengucapan dengan perasaan. Bahasa ilmu pengetahuan ialah prosa. Di situlah pikiran dikemukakan dan pikiran yang menerima. Orang yang mengajarkan  matematik misalnya tidak akan mengemukakan perasaannya;  contoh: 1 + 1 = 2. Orang harus menerimanya saja tanpa merasakan keharuan.
Apakah ada prosa yang bersifat kesusasteraan?! Prosa baru bersifat kesusasteraan apabila memenuhi syarat kesenyawaan yang harmonis antara bentuk dan isi. Prosa biasa adalah laksana angka-angka yang berisi pengertian yang tetap, prosa kesusasteraan laksana manusia hidup, kesatuan tubuh dan jiwa, pikiran dan perasaan yang mengungkapkan yang serba mungkin. Perasaan itu lebih-lebih terkandung dalam puisi, tapi puisi yang baikpun tidak hanya sekedar perasaan belaka juga mengandung pemikiran dan tanggapan.
Didalam puisi, pikiran dan perasaan menyatu seolah-olah bersayap  terbang belanglang buana ke arah yang mereka suka membawa luapan emosi dan akhirnya,  membuahkan suatu karya dengan  keindahan gaya bahasa bagaikan bunyi dan lagu dengan tekanan suara (ritme) tertentu.
Prosa pada dasarnya menyodorkan suatu cara pengungkapan yang explisit, mengurai atau menjelaskan segala sesuatunya. Meskipun sama-sama menerapkan pengungkapan secara explisit, antara prosa dengan penulisan ilmiah tampak perbedaan dalam segi penerapan keindahan bahasa dan kalau kita mengambil perbandingan dengan gerak tubuh, maka pada prosa semisal orang menari, sedangkan pada ilmu adalah gerak tubuh sebagaimana yang wajar.
Kalau dalam puisi kita berhadapan dengan suatu cara pengungkapan yang menyirat, maka dalam sajak kita tidak saja berhadapan dengan cara pengungkapan yang menyirat, tetapi juga menghadapi “materi isi” atau lebih tepatnya “sunjct-matter” yang tersirat.
Puisi dibanding prosa adalah seperti orang menari dan berjalan biasa , atau seperti orang bernyanyi dan bicara biasa. Puisi tidak mengabdi kepada otak yang berpikir melainkan perasaan yang berbicara dan ini dapat menyentuh siapapun yang membaca atau mendengarkannya.
Kelebihan penyair dalam mempergunakan bahasa ialah bahwa ia menjiwai perkataan yang dilontarkannya, pemilihan kata-kata yang menarik dengan meng-kombinasikan kata-kata tersebut sehingga melahirkan kalimat yang indah enak didengar serta menyentuh perasaan yang dapat menyegarkan suasana.

Wednesday, 9 July 2014

ESOK PUN BERGANTI


: 9 Juli Esok

Esok yang menggulung berjuntai kenangan
yang menakar pada pucuk rembulan
Candu-candu kepahitan
sebentar lagi akan aku pulangkan
menggapai tujuan
Sudah saatnya melesatkan busur
keyakinan hati. Ketidakpedulianmu selama ini
melahirkan pembaharuan diri
Gugurlah segala ragu
Tumpahan pilu yang menderu
Terbukalah mata ini, mata hati
Hidup adalah untuk mengolah hidup
Hidup adalah cucuran peluh yang diperas,
diremas, dan diamplas
Tiada aku segan menatap bentang cakrawala
yang masih terbentang luas. Menjajaki samodra para dewa
Menerabas kabut semak belukar tanpa batas
Amblas!


Jombang, 8 Juli 2014
22:04

Tuesday, 8 July 2014

Merawat Lebih Baik Dari Mengobati



4437660_20120716070349Buku adalah gudang pengetahuan yang tak pernah ada habisnya. Hargai sumber pengetahuan Anda dengan memperlakukannya dengan baik. Banyak yang mengeluh bahwa buku koleksinya mulai rusak. Merawat buku bukanlah hal yang sulit, namun seringkali orang malas atau tidak tahu cara merawatnya, padahal buku yang dibelinya itu tidak murah loh. Nah, gimana sih cara merawat buku yang kita punya? Nah, Yuk kita Simak tips merawat buku berikut ini :

This entry was posted in

Sunday, 6 July 2014

Muara Terkasih




Oleh: Anggi Putri

Bulan penuh kemenangan,
Ia datang bertandang tiba
Nur Kasih-Nya pada hamba-hamba tercinta
Ia datang dari kemanisan madu kurma pahala

Berbondong-bondong meraih kebaikan
Bertarawih tuk genggam kenikmatan
Bahwa setiap detik adalah dentuman
yang berisi sari pati kehidupan

Suara-suara merdu tadarusan
Memecah keheningan alam
Hiasi malam penuh keindahan
Dalam diam kudengarkan
Suara siapakah gerangan?
Melenting indah dari kejauhan

Sujud selaksa ketenangan jiwa
Yang menentramkan hati para manusia
Ini bukanlah soal surga atau neraka
Karena hidup adalah samuderanya dewa

Aku tulis sajak ini,
Sebagai penyejuk hati
Sementara manusia akan berlari lagi
Menuju-Mu Yang Maha Suci

Jombang, 1 Juli 2014
04:42 WIB

Sajak Cinta (FTS)

anggi_putri


            Tidak terasa menginjak hari ke tujuh puasa. Angka tujuh merupakan angka kesukaanku. Semalam aku berpikir adakah kejadian indah di balik angka tujuh. Kata orang-orang jawa saja angka tujuh mengandung arti ‘pitulugan’ atau dalam bahasa Indonesianya pertolongan.

Friday, 4 July 2014

Rintihan Pepohonan



Tiadakah Kau segan?
Membantumu untuk terus bernapas
Akarku mencengkeram tanah agar tiada apa yang musnah
Tiadakkah kau segan semua itu wahai insan?

Diri ini tetap pilu, basah bersama manik-manik hujan
Kenangkanlah sejenis jasadku, jangan kau enggan
Aku hanya kau pandang sebagai semak yang tiada gunanya
Biarlah beku kedinginan di bawah cahaya rembulan
Menahan kepedihan dalam lindap malam

Maka aku pun pergi menatap wajah-wajah orang berjuta
Wajah legam yang menagis dalam kepiluan
Wajah kerumunan yang kehilangan sanak saudaranya
mengadu pada semesta yang enggan memandangnya

Wajah yang tiba-tiba menjerit melengking
merintih dan mengucap
Etalase pedih di kaki-kaki bukit
yang sekadar mencecap saripati kehidupan

Aku kalah ...
Aku kalah pada siapakah ini?

Jombang, 4 Juli 2014