Sabtu, 05 Juli 2014

Sajak Cinta (FTS)

anggi_putri


            Tidak terasa menginjak hari ke tujuh puasa. Angka tujuh merupakan angka kesukaanku. Semalam aku berpikir adakah kejadian indah di balik angka tujuh. Kata orang-orang jawa saja angka tujuh mengandung arti ‘pitulugan’ atau dalam bahasa Indonesianya pertolongan.
            Setelah shalat dzuhur aku membuka layar laptop. Menyalakan koneksi modem dan membuka layar biru. Ya, facebook. Dunia maya yang tak ada habisnya. Seperti biasa melalui chat inbox aku bercakap-cakap dengan teman-teman penulis, dengan adik kelas, dan orang yang baru kukenal di layar biru.
            Awalnya aku chatting dengan Sindi, membahas proyek kami yang akan membuat buku duet tentang kehidupan segment dewasa. Kami ingin membuat tulisan mengenai arti kehidupan. Yang menginspirasilah intinya.
            Beberapa saat kemudian aku membahas acara besok di sebuah terminal sastra di kota Mojokerto dengan rekan menulis. Tiap satu bulan ke depan acara itu diselenggarakan. Pertemuan penulis dan pembaca. Dari sana aku dapat mengeruk banyak ilmu dari penulis-penulis senior.
            Aku tercengang ketika ada seseorang mengirimi aku pesan yang berisi bahwa dirinya akan membuat status dan aku dimintanya memberi komentar. Aku mengiyakan hal itu tanpa pikir banyak. Sungguh, aku terlalu ceroboh. Aku mengira yang akan dibuat adalah status biasa layaknya teman-temanku yang membuat status-status alay, status yang meluapkan hatinya terkini. Terkadang aku berpikir apakah saat ini ada breaking news ungkapan hati, hehe ...
            KEPADA SESEORANG YANG KUPANGGIL NDUK
(part XIX)
pada malam yang cahaya
ku pinang engkau pada purnama
angsoka suka cita
mahar mayapada
sajadah semesta
pada malam cahaya raya
ku pinang engkau pada
Nya
Bondowoso, 5 Juli 2014
11.45 wib
            Mataku mengerjap penasaran tentang aksud penulisan sajak tersebut. Aku sangat bingung mau jawab dengan kata-kata seperti apa. Apakah aku harus membalas dengan sajak pula?
            “Aku harus komen bagaimana?” tanyaku.
            “Terserah. Tadi kan sudah janji, janji adalah hutang.”
            Akhirnya aku menulis satu kalimat untuk membuatnya kesal.
            Puisinya selalu keren J
            Waaa ... padahal aku nggak pengen komen seperti itu coba bukan puasaan, aku nangis dah,” ucapnya. Aku tertawa membaca kalimatnya.
            Aku mengerti sajak itu, namun aku tak kuasa membalasnya. Aku takut. Aku masih punya banyak hal belum terwujud. Jadi, maaf ...
***

0 komentar :

Posting Komentar