Friday, 16 January 2015

Sayap Kata, Jumat 16 Januari 2015

Ganti dengan “
/Secangkir Muara Rasa/
: Nasta’in Achmad Attabani

Jejak malam yang tersapu oleh sabda bintang
Tak mampu terjaga
Cecapi tiap denting waktu yang kian lama tergilas masa
Dingin menggelatuk, menyesakkan dada
Tengadah bulir mutiara terjatuh
di atas sajadah
Lautan kenang tergenang di antara kisah
Ketika itu aku meneguk secangkir rindu bermuara
Turun dari renik matamu yang terbalut sunyi
mematahkan ritual imaji
Gusti, aku sendiri memuji
: detik ini
Terciptalah puja suci yang memuisi

Surabaya, 13 Januari 2015


/Berpulanglah Kiranya/
Adakah cerlang sang fajar
memandikan tubuh
yang makin hari makin menua
: berbatas usia
Adakah melintas sepintas
desing angin yang terempas
tak henti menguras cemas
titik-titik candu semesta tak meretas
sepenggalah kenangan berpaut
ia bertukar tangkap dalam jubah waktu
yang kian lama tergerus derasnya zaman.
selang-menyelang menyisir hari yang sebenarnya
akan lepas,habis!
dimensi itu berbeda,
rindu rasa
rindu rupa
menakar kecewa bergelut sendu dunia
tiada guna bagi alam, manusia, keakuannya sendiri
Mati!
mengapa kita masih juga bercakap
di antara karangan bunga
sandiwara purnama
pertentangan lahir dan batin
Bait-bait itu tercecer sudah
mengurai puncak, buai rengsa di pagi buta
dan lusa
dengan dendang-dendang sajak kelasah
yang tertinggal di kikis ruang
Disana Dia telah menunggu dengan tangan terbuka

Surabaya, 7 Oktober 2014


Anggi Putri, pecinta sajak kelahiran Jombang, Jawa Timur. Kini berdomisili di Surabaya menempuh studi di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Karyanya termaktub dalam beberapa buku antologi. Buku terbarunya berjudul Siluet Jingga (Kumpulan Cerpen). FB: Anggi Putri W.

0 comments :

Post a Comment