Sabtu, 26 Desember 2015

ANALISIS TEORI HERMENEUTIKA NOVEL "NEGERI PARA BEDEBAH" TERE LIYE











NEBERI PARA BEDEBAH (TERE LIYE)
DALAM ANALISIS TEORI HERMENEUTIKA
Kajian Sastra dengan Pendekatan Hermeneutika
Dalam Novel Negeri Para Bedebah Karya “Tere Liye”
Oleh: Anggi Putri Winarti

I.     Pendahuluan
              Menurut Paul Ricouer (dalam Rafiek) hermeneutic adalah teori tentang bekerjanya pemahaman dalam menafsirkan teks. Dalam kata lain, hermeneutic adalah proses penguraian yang beranjak dari isi dan makna yang tampak ke arah makna terpendam dan tersembunyi. Objek interpretasi yaitu bisa berupa simbol dalam mimpi bahkan mitos-mitos dari simbol dalam masyarakat atau sastra.

              Novel Negeri Para Bedebah karya Tere Liye, dalam novel ini pengarang menceritakan tentang aksi seorang konsultan keuangan profesional bernama Thomas menuntaskan misinya dalam menyelamatkan Bank Semesta. Bedebah, merupakan sebutan yang Thomas peroleh dari gurunya sewaktu berada di sekolah berasrama. Sebutan tersebut ternyata kembali muncul dalam kehidupan dewasanya, yaitu pantas diberikan kepada pengkhianat-pengkhianat dalam keluarganya. Negeri Para Bedebah, simbol suatu negara yang berisi kebaikan dan keburukan yang sangat sulit membedakan antara keduanya.
              Secara etomologis, kata hermeneutika berasal dari bahasa Yunani, hermeneuein, yang berarti menafsirkan. Dalam mitologi Yunani, kata ini sering dikaitkan dengan tokoh bernama Hermes, seorang utusan yang mempunyai tugas menyampaikan pesan Jupiter kepada manusia. Tugas menyampaikan pesan berarti juga mengalih bahasakan ucapan para dewa ke dalam bahasa yang dapat dimengerti manusia.
              Hermeneutic diartikan juga sebagai proses mengubah sesuatu atau situasi-situasi ketidaktahuan menjadi mengerti. Pengalih bahasaan sesungguhnya identik dengan penafsiran. Dari situ kemudian pengertian kata hermeneutika memiliki kaitan dengan sebuah penafsiran atau interpretasi makna.
              Menurut Ricouer dalam bukunya hermeneutics and The Human Sciences. Ricouer mendefinisikan hermeneutic is theory of the operations of understanding of text, berdasarkan pengertian ini Recour mengatakan So, the key idea will be the realization of discourse as a text; and elaboration of the categories of the text will be concern of subsequent study. Yang berarti hermeneutic adalah teori tentang bekerjanya pemahaman dalam menafsirkan teks. Jadi gagasanya kuncinya adalah realisasi diskursus sebagai teks, sementara pendalaman tentang kategori-kategori teks akan menjadi objek pembahasan kajian selanjutnya. secara ontologis tidak lagi dipandang sekadar cara mengetahui tapi hendaknya menjadi cara mengada (way of being) dan cara berhubungan dengan segala yang ada (the beings) dan dengan megada-an (the being).
              Dengan demikian, Negeri Para Bedebah merupakan simbol politik-sosial dan hermeneutic (hermeneutika) adalah teori tentang berkerjanya pemahaman dalam menafsirkan teks yang interpretasinya melalui suatu simbol. Dalam hal ini, penulis akan mengkaji novel Negeri Para Bedebah dengan pendekatan (sisi pandang) hermeneutika.

II.  Pembahasan
            Setelah membaca novel Negeri Para Bedebah, penulis mengkaji dengan pendekatan hermeneutika sebagai berikut:
            “Apa pertanyaanmu tadi? Kau bergurau. Aku konsultan keuangan profesional, aku tidak peduli dengan kemiskinan. Yang aku cemaskan justru sebaliknya, kekayaan, ketika dunia dikuasai segelintir orang, nol koma dua persen, orang-orang yang terlalu kaya.” (Liye, 2013:17).
            Thomas, seorang konsultan keuangan profesional. Lelaki berumur 33 tahun yang biasa dipanggil Tommi dalam keluarganya ini sangat paham masalah berkaitan dengan ilmu ekonomi. Tommi lulusan dua sekolah bisnis ternama di luar negeri. Sekolah tersebut telah menjadikannya pribadi yang memiliki seribu akal, culas, bijaksana, serta berwibawa. Ia sangat profesional dalam pekerjaannya hingga kesibukannya mengalahkan kesibukan presiden. Wawancara, seminar, pengambilan foto, hingga pertemuan dengan orang-orang penting telah ia lakoni dengan tepat waktu dan tanpa rasa lelah.
“Semakin ke sini, kami membayar pelatih profesional, membuat jadwal, melengkapi ruang ganti, bertender, dan seluruh keperluan seperti samsak tinju. Dan anggota klub bertambah dengan caranya sendiri, hanya boleh mengajak orang yang paling dipercaya serta direkomendasikan anggota lama. Kupikir sekarang anggota klub sekitar tiga puluh orang. Cukup banyak untuk membuatmu menunggu dua bulan hingga jadwal bertarungmu tiba. Tapi itu bukan masalah. Lebih banyak yang menjadi anggota klub hanya untuk menonton pertarungan, bertaruh, dan bersenang-senang. Atau sekadar mencari tempat memukuli samsak, latihan.” (Liye, 2013:31).\
            Thomas masuk dalam klub petarung tiga tahun yang lalu diajak oleh Theo. Awalnya semua orang dalam klub adalah amatiran, bertanding tanpa jadwal. Anggota klub yang mau bertarung tinggal menuju lingkaran merah. Namun, lambat laun anggota klub mulai membayar pelatih profesional, membuat jadwal, melengkapi ruang ganti, bertender, dan seluruh keperluan seperti samsak tinju. Jumlah anggota klub pun bertambah dengan caranya sendiri. Mereka hanya mengajak orang yang paling dipercaya serta direkomendasikan anggota lama. Banyak anggota klub yang hanya menjadi penonton dan bertaruh, serta bersenang-senang. Atau sekadar mencari tempat memukuli samsak, latihan.
            Klub ini tak ubahnya klub petarung resmi, anggota klub menjadi petinju profesional layaknya pemain nasional. Begitu pula Thomas, ia menjadi lebih berani dan tangguh setelah masuk ke dalam klub ini. Latar belakang seseorang tidak menjadi masalah dalam klub, hanya ada satu sebutan di dalam klub yaitu teman petarung. Kurang lebih anggota klub berjumlah tiga puluh orang. Setiap orang bisa menunggu dua bulan untuk waktu pertandingannya. Dalam klub ini, Thomas mengenal Theo, Randy, Rudi, dan Erik.
Ram tertawa masam. “Dia punya lebih banyak musuh dan orang-orang yang ingin mengambil keuntungan dari kolapsnya Bank Semesta, Thom. Mereka berebut ingin mendapatkan aset berharga yang dijual murah. Dia sudah terdesak. Kabar terakhir yang kuterima, tapi off the record, pejabat bintang tiga kepolisian, petinggi kejaksaan, serta salah satu deputi bank sentral terlibat langsung atas penyidikan Bank Semesta. Semangat sekali mereka bekerja, seperti tidak ada kasus korup kroni-kroni mereka yang bisa diurus. Terlalu banyak misteri dalam kasus ini sejak peringatan pertama dari otoritas. Astaga, Thom, hanya hanya kalah kliring lima miliar, rusuhnya sudah seperti kalah kliring lima triliun. Buat apa coba?”(Liye, 2013:41)
            Ram, merupakan orang kepercayaan Om Liem, paman Thomas. Tepat pada malam hari Ram menemui Thomas untuk meminta bantuan menyelamatkan Bank Semesta agar tidak pailit. Bank milik pamannya, Om Liem itu telah kalah kliring lima miliar. Bank Sentral akan menutup Bank Semesta karena Om Liem juga telah melakukan pelanggaran-pelanggaran hukum lainnya. Thomas saat itu ragu mengambil langkah. Cukup waktu beberapa menit dalam menimbang segala kemungkinan sampai diputuskannya untuk membantu kasus ini. Ram membawa Thomas ke rumah Om Liem yang sedang dijaga ketat anggota kepolisian. Thomas dengan akal cerdiknya membawa kabur Om Liem dengan menyuruhnya berbaring di ranjang tempat orang sakit. Kamuflase yang cukup pintar dengan menukar Om Liem dan Tante Liem itu berhasil mengelabuhi pihak kepolisian. Lantas Thomas langsung membawa Om Liem kabur ke rumah persinggahan Opa di Waduk Jatiluhur.
            Setelah mengantar Om Liem ke rumah Opa, Thomas bersusah payah mempertahankan Bank Semesta agar diselamatkan oleh pemerintah. Ia membawa kabur Om Liem, mengelabui para polisi, menyimpan Om Liem di tempat tersembunyi, kemudian mendatangi orang-orang berpengaruh yang akan menentukan Bank Semesta akan diselamatkan atau tidak. Tidak main-main, dengan dikejar-kejar polisi di mana-mana, Thomas dengan cerdiknya bisa mendatangi orang-orang tersebut. Ibu Menteri, Putra Mahkota, petinggi lembaga keuangan, dan juga media berhasil ia pengaruhi. Dalam pertempurannya itu, ia ditemani seorang wartawan muda bernama Julia dan asistennya bernama Maggie yang cakap mengatur segala hal yang dibutuhkan Thomas.
Entah apa yang telah dilakukan Kadek tiga jam yang lalu saat tiba di dermaga, dan aku tidak ada di sana, juga tidak ada dokter dengan suntikan insulin. Dia seharusnya bisa bertindak cepat dan tenang. Ada banyak cara menyelamatkan Opa. Entah pula apa yang terjadi di pertemuan nasabah besar Bank Semesta pukul sebelas tadi. Seharusnya Ram bisa mengatasi setelah aku tidak kunjung datang. Maggie, aku mengusap wajah lagi, semoga dia tidak menghubungi telepon genggamku empat jam terakhir. Celaka benar urusan kalau dua bedebah yang menyita telepon genggamku menyadari Maggie menyimpan banyak data tersisa. Dan Julia, apakah dia berhasil meminta jadwal audiensi dengan menteri? Aku sungguh melibatkan banyak orang dalam pelarian ini. (Liye, 2013:194).
Thomas berhasil menyelamatkan Om Liem dan Opa dari kejaran polisi. Opa dan Om Liem diamankan di dalam sebuah kapal miliknya yang diberi nama Pasifik. Kadek, orang yang dipercaya oleh keluarga Thomas itu mempertaruhkan nyawanya untuk menjaga Om Liem dan Opa. Beberapa jam yang lalu Kadek telah melaporkan kondisi terkini, yaitu Opa semaput di tengah perjalanan. Thomas yang harusnya pergi ke dermaga Yacht terpaksa menunda keberangkatannya dikarenakan mendekam di jeruji penjara. Thomas tertangkap polisi. Telepon genggamnya disita oleh pihak kepolisian. Thomas mencemaskan segala kemungkinan yang terjadi karena sebelumnya ia telah membuat banyak rencana serta janji dengan banyak orang. Maggie, asisten cantiknya itu senantiasa menelepon Thomas dalam rangka melaporkan kabar terbaru. Sedangkan kini telepon genggam Thomas sudah berada pada tangan polisi. Kekhawatiran Thomas terus menggebu ketika pikirannya juga mengarah pada Julia, wartawan yang bertugas meminta jadwal audiensi dengan menteri. Sedangkan pukul sebelas tadi terjadi pertemuan nasabah besar Bank Semesta. Thomas tidak bisa berada di tempat kejadian di setiap janjinya itu. Menurutnya, Ram pastilah dapat menyelesaikan segala urusan nasabah dengan benar. Dengan iming-iming tawaran uang 2 M, Thomas bisa bebas dari jeruji penjara dan segera pergi meninggalkan tempat pengap itu menggunakan motor salah seorang polisi yang ia suap.
“Cepat atau lambat, mereka akan menemukan kita. Di masa lalu, mereka berdua tidak akan pernah berhenti sebelum tujuan mereka berdua berhasil, bahkan dengan cara paling licik sekalipun.” Om Liem bersandar pelan, setelah tawaku reda (Liye, 2013:211).
            Mereka adalah Wusdi dan Tunga. Wusdi seorang polisi bintang tiga sedangkan Tunga adalah petinggi kejaksaan. Mereka berdua adalah orang-orang masa lalu Thomas. Dua bedebah yang berkhinat pada keluarga Opa. Mereka pula yang telah sengaja membakar rumah keluarga Thomas. Dalam masa lalu, ketika Thomas mengantar susu menggunakan sepedanya. Banyak orang yang demo meminta uangnya kembali. Sebuah Arisan Berantai yang digagas Om Liem telah menemui kebangkrutan. Massa tidak bisa dikendalikan, Wusdi dan Tunga mengambil aset, akta tanah, serta dokumen-dokumen penting milik keluarga Opa. Setelah itu, papa dan mama Thomas dibakar beserta rumahnya. Hal itulah yang membuat Thomas benci Om Liem. Sejak saat itu, Thomas dengan membawa pakaian seadanya pergi ke sekolah berasrama karena dipikir dia anak yatim piatu. Tante, Om Liem, dan Opa berhasil melarikan diri dengan tabungan Opa.
            Thomas hanya sesekali ke rumah Opa di Jatiluhur. Hanya sekadar mendengar cerita, pelajaran mengemudi, dan pengetahuan alam. Namun, kedua orang itu kembali datang dengan tujuan yang sama. Mereka ingin merebut Bank Semesta.
            Wusdi dan Tunga menoleh ke layar televisi. Ram gugup membaca cepat headline yang tertulis di bawah layar televisi: Breaking News: Indonesian goverment decided to rescue Bank Semesta (Liye, 2013:412).
            Setelah menangkap Thomas dan Opa, ketiga penghianat itu tertawa puas. Wusdi, Tunga, dan Ram terdiam sejenak melihat tayangan televisi. Headline yang tertulis di layar televisi itu mengejutkan mereka. Bank Semesta akan ditalangi oleh pemerintah. Ram yang merupakan musuh di dalam selimut mengeram kesal. Ram meracuni Wusdi dan Tunga melalui minumannya. Tunga dan Wusdi diceburkannya ke laut. Setelah mengetahui tempat penyimpanan dokumen-dokumen penting milik Opa, Ram memutuskan untuk membuang Opa dan menembak Thomas ke laut. Kapal dikemudikan secara otomatis ke Hongkong untuk mencairkan dokumen-dokumen tersebut. Namun Thomas tidak menjalankan kemudi kepal ke arah Hongkong melainkan ke arah lautan tenang, lautan yang hilang dalam sejarah.
            Setelah tercebur ke laut, Thomas dan Opa menertawai kebodohan Ram. Kapal yang ia kemudikan akan kehabisan bahan bakar dalam waktu dekat. Bahan logistik pun akan habis selama dua hari. Kadek yang sebelumnya telah berenang kembali ke dermaga telah meminjam kapal untuk menjemput Thomas dan Opa. Mereka kembali ke daratan untuk menyelesaikan urusan lainnya, Tuan Shinpei.

Kesimpulan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa:
1.        Karya sastra merupakan sebuah fenomena dan produk sosial sehingga yang terlihat dalam karya sastra adalah sebuah entitas masyarakat yang bergerak, baik yang berkaitan dengan pola, struktur, fungsi, maupun aktivitas dan kondisi sosial budaya sebagai latar belakang kehidupan masyarakat pada saat karya sastra itu diciptakan.
2.        Hermeneutika adalah proses mengubah sesuatu atau situasi-situasi ketidaktahuan menjadi mengerti, dengan memperhatikan tiga hal komponen pokok dalam upaya penafsiran yaitu; teks, konteks, kemudian mengupayakan kontektualisasi.
3.        Novel Negeri Para Bedebah merupakan simbol politik dan perkembangan ekonomi dalam sebuah negara. Sebuah Negeri yang terdapat kasus keuangan di dalamnya. Tempat beradanya petarung sejati yang tak pernah berkhianat. Dan kini, petarung sejati yang mampu menuntaskan sebuah misi penting. Di Negeri Para Bedebah, kebaikan dan keburukan sulit dibedakan satu sama lainnya. Bahkan musang berbulu domba berkeliaran di halaman rumah.


 Daftar Pustaka
Liye, Tere, 2013. Negeri Para Bedebah, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Jabrohim, 2001, Metodologi Penelitian Sastra, Yogyakarta: PT. Hanindhita Graha Widia.


S. Iwan. Acep, Hermeneutika, 2008. Sebuah Cara untuk Memahami Teks. Jurnal Sosioteknologi                      Ed. 13 Tahun 7, April 2008


1 komentar :