Sabtu, 26 Desember 2015

MAKALAH SEJARAH SASTRA ANGKATAN MASA JEPANG

MAKALAH SEJARAH SASTRA
ANGKATAN MASA JEPANG
Periode 1942-1945






Disusun oleh:
1.      Anggi Putri Winarti (14610033)
2.      Dyah Ayu Permatasari (14620005)
3.      Nisa’ul Fadhilah (14610019)
4.      Kolekta Dewi Satri (14610016)
5.      Merza Carolina (14610025)


UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA
2014-2015







KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjaatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena karunia, rahmat, serta hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Karya Sastra Angkatan Masa Jepang” untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Sastra.
Makalah ini juga untuk menambah tingkat apresiasi terhadap sejarah, salah satunya yaitu Sejarah Sastra. Kami menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak terdapat kekurangan, khususnya menyangkut masalah pembahasan sastra angkatan Masa Jepang yang keseluruhannya itu disebabkan oleh minimnya pengetahuan kami, maka dari itu saran dan kritik sangat kami harapkan untuk kesempurnaan makalah ini.
Oleh sebab itu, segala tegur sapa demi penyempurnaan makalah ini sangat kami nantikan. Demikian prakata dari kami sekian dan terima kasih.


Surabaya, 17 Oktober 2014
Penulis

 

















BAB I
PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang
Taufik Ismail dikenal sebagai penyair puisi-puisi demonstrasi. Ia sendiri ikut aktif dalam demonstrasi mahasiswa untuk menumbangkan Orde Lama. Puisi-puisinya yang terkenal pada masa itu adalah dalam buku antologinya yang berjudul Tirani. Dalam buku tersebutlah terdapat puisi yang berjudul “Kami Pemilik Sah Republik Ini” dan “Sebuah Jaket Berlumur Darah”.
Kata tirani sendiri diambil dari bahasa Yunani yang berarti model kekuasaan yang dipegang oleh satu penguasa yang tiran atau semena-mena. Puisi dalam antologi tersebut sampai sekarang masih dikagumi oleh masyarakat karena penggambaran kejadian dalam puisi tersebut sangat realita dan sarat makna.
Taufik Ismail pun terkenal pada masanya hingga sekarang namanya masih sering disebut sebagai sastrawan berpengaruh di Indonesia. Dengan demikian, kami mengkaji puisi-puisi karya Taufik Ismail.

1.2.            Rumusan Masalah

1.2.1.      Apakah ciri bahasa dan pemaknaan dalam puisi karya Taufik Ismail pada Angkatan Masa Jepang?
1.2.2.      Apakah tema dan persoalan puisi karya Taufik Ismail?
1.2.3.       Bagaimana pengaruh dan cerminan dunia nyata?

1.3.            Tujuan
1.3.1.      Untuk mengetahui ciri bahasa dan pemaknaan karya sastra Taufik Ismail pada Angkatan Masa Jepang.
1.3.2.      Untuk mengetahui tema dan persoalan yang terdapat dalam karya sastra Taufik Ismail pada Angkatan Masa Jepang.
1.3.3.      Untuk mengetahui pengaruh dan cerminan dunia nyata yang terdapat pada karya sastra Taufik Ismail Angkatan Masa Jepang.




BAB II
PEMBAHASAN

Kita adalah Pemilik Sah Republik ini
Karya Taufik Ismail

Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus
Karena berhenti atau mundur
Berarti hancur.
Apakah akan kita jual keyakinan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran:
“Dulu tuanku”?
Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata kuyuh, yang
Di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan
Bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun
Hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan
hama
Dan bertanya-tanya diam inikah yang
namanya merdeka
Kita yang tak punya kepentingan dengan
Seribu selogan
Dan seribu pengeras suara yang hampa.
Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus.

Analisis:
1.      Ciri bahasa dan pemaknaan dalam puisi “Kita adalah Pemilik Sah Republik ini”
Ø  Ciri bahasa: Menggunakan kalimat-kalimat pendek yang sederhana, terdapat kata simbolis, namun sarat makna.
Ø  Pemaknaan:
Kita adalah Pemilik Sah Republik ini
Judul puisi memberi makna bahwa kita adalah masyarakat tanah air.


Tidak ada lagi pilihan lain.  kita harus berjalan terus
Gelora semangat masyarakat untuk tetap berjuang tanpa kenal lelah. Sehingga tidak ada pilihan lain selain melawan penjajah.

Karena berhenti atau  mundur berarti hancur.
Menyerah tanpa berperang berarti merelakan untuk dihancurkan atau membiarkan untuk dijajah.

Apakah akan kita jual  keyakinan  kita dalam  pengabdian tanpa harga
                                Apakah kita menyerahkan harga diri untuk rela dijajah.

Akan maukah kita duduk satu  meja dengan  para pembunuh tahun lalu”
Sudihkah kita berkumpul dengan para penjajah yang telah menindas tanah air kita.

Dalam setiap kalimat yang berakhiran:“Dulu tuanku”?
Masyarakat kita dijajah dengan cara pengabdian berupa kerja paksa terhadap penjajah.


Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus berjalan terus
Penyair memberi semangat kepada masyarakat untuk tetap berjuang tanpa kenal lelah. Sehingga tidak ada pilihan lain selain melawan penjajah.


Kita adalah  manusia bermata kuyuh, yang di tepi jalan
Penyair menggambarkan masyarakat yang lelah menunggu datangnya kemerdekaan

Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Masyarakat meminta pertolongan kepada penjajah. Namun, tak ada perhatian sedikit pun dari penjajah.


                                         “Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara”
                                Sudah lama masyarakat negeri kita dijajah dan menderita cukup lama.

Dipukul banjir, gunung api, kutuk danhama
                                Di antara kesengsaraan itu berupa bencana

Dan bertanya-tanya diam inikah  yang namanya  merdeka
Dalam benak diri masyarakat timbul pertanyaan apakah kesengsaraan dan penindasan dapat disebut kemerdekaan.

Kita yang tak punya kepentingan dengan seribu selogan
Seolah harapan dan keinginan untuk merdeka hanya angin lalu, tak ada yang menghiraukan.

Dan seribu pengeras suara yang hampa
                                Permintaan masyarakat tanpa makna dan tak ada timbal baliknya.
                                   

Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus berjalan terus
Penyair memberi semangat kepada masyarakat untuk tetap berjuang tanpa kenal lelah. Sehingga tidak ada pilihan lain selain melawan penjajah.



2.      Tema dan persoalan dalam puisi “Kitaadalah Pemilik Sah Republik ini”
Ø  Tema: Perjuangan Bangsa atau Patriotisme
Ø  Persoalan:
Puisi “Kita adalah Pemilik Sah Republik Ini” merupakan puisi patriotisme, dan semangat melawan penjajah. Puisi ini menceritakan keadaan keadaan bangsa ketika dijajah. Bangsa kita dengan susah payah, meminta pertolongan hingga memutuskan untuk berjalan maju yaitu melawan penjajah hanya sekadar mendapatkan kemerdekaan yang telah lama diidam-idamkannya. Penjajah menjadikan masyarakat Indonesia layaknya budak yang dipertuankan. Dengan asa yang tersisa, bangsa Indonesia pun memilih berjuang dan terus berjuang dalam melawan penjajah yang menindas kehormatan serta kepribadian bangsa.
3.      Pengaruh dan cerminan dunia nyata dalam puisi “Kita adalah Pemilik Sah Republik ini”
Pada zaman itu, masyarakat atau bangsa kita merasakan kesengsaraan dijajah dan memiliki keinginan besar untuk terlepas dari cengkeraman penjajah yaitu sebuah kemerdekaan. Sehingga dibutuhkan perjuangan yang keras untuk meraih sebuah kemerdekaan itu sendri.



Sebuah Jaket Berlumur Darah
Karya Taufik Ismail

Sebuah jaket berlumur darah
Kami semua telah menatapmu
Telah berbagi duka yang agung

Dalam kepedihan bertahun-tahun
Sebuah sungai membatasi kita
Di bawah terik matahari Jakarta
Antara kebebasan dan penindasan
Berlapis senjata dan tersungkur baja

Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ‘Selamat tinggal perjuangan’
Berikrar setia kepada tirani
Dan memakai baju kebesaran sang pelayan?

Spanduk kumal itu, ya spanduk itu
Kami semua telah menatapmu
Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang

Pesan itu telah sampai kemana-mana
Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman
Mereka berkata
Semuanya berkata
LANJUTKAN PERJUANGAN!

Analisis:
1.      Ciri bahasa dan pemaknaan dalam puisi “Sebuah Jaket Berlumur Darah”
Ø  Ciri bahasa: Menggunakan kalimat-kalimat pendek yang sederhana, menggunakan kata sebagai simbol dari sesuatu yang ingin diungkapkan, namun sarat makna.
Ø  Pemaknaan:
“Sebuah Jaket Berlumur Darah”
Menggambarkan sebuah penderitaan dan pengorbanan, yaitu perjuangan yang berlumur darah pada ujungnya. Penyair memilih kata /jaket/ di sini menunjukkan sebuah identitas atau almamater dari mahasiswa. Dan kata /darah/ mengindikasikan adanya perjuangan yang amat besar.


“Kami telah menatapmu
Telah berbagi duka yang agung
Dalam kepedihan bertahun-tahun”
Adanya rasa duka dan rasa sakit yang mendalam dan sudah lama tersimpan serta bisa diartikan bahwa potret kejadian tersebut telah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
“Sebuah sungai membatasi kita”
Adanya pembatas atau hambatan dalam berjuang.

Di bawah terik matahari Jakarta
Mengindikasikan kejadian tersebut terjadi pada pagi atau siang hari di kota Jakarta.

Antara kebebasan dan penindasan
Dalam hal ini penyair menyuguhkan dua kata yang berlawanan, sehingga lebih tampak perjuangan yang sebenarnya.

“Berlapis senjata dan tersungkur baja”
Yang bisa memperkuat bahwa hambatan /sungai/ adalah orang-orang yang bersenjata dan bersangkur baja, yaitu aparat-aparat kemanan dan kepolisian.

“Akan mundurkah kita sekarang
Seraya mengucapkan ‘Selamat tinggal perjuangan’
Berikrar setia kepada tirani
Dan memakai baju kebesaran sang pelayan?”
Jika kita mundur atau meninggalkan perjuangan ini, maka kita akan menjadi pengecut karena selamanya dijajah oleh tirani dan ketidakadilan kekuasaan.

“Spanduk kumal itu, ya spanduk itu”
Adanya spanduk-spanduk atau slogan-slogan dari para pejuang, yaitu mahasiswa yang tersebar luas berisi kritik politik kekuasaan dan pemberantasan ketidakadilan.

“Kami semua telah menatapmu”
Sebuah perjuangan dan pengorbanan yang benar-benar terlihat dengan panca indera.

Dan di atas bangunan-bangunan
Menunduk bendera setengah tiang”
Menunjukkan simbol penghormatan tertinggi atas pejuang yang mengalami kematian atau gugur dalam perjuangan.

“Pesan itu telah sampai kemana-mana”
Berita demonstrasi tersebut telah menyebar ke penjuru tanah air.

“Melalui kendaraan yang melintas
Abang-abang beca, kuli-kuli pelabuhan
Menunjukkan bahwa penyair melihat kendaraan, abang beca, dan kuli-kuli pelabuhan, sehingga lebih meyakinkan bahwa kejadian itu faktual dan disaksikan oleh orang-orang tersebut.



Teriakan-teriakan di atas bis kota, pawai-pawai perkasa
Prosesi jenazah ke pemakaman”
Penyair mendengar teriakan-teriakan dan seruan untuk berjuang dengan keras dan semangat.

“Mereka berkata
Semuanya berkata”
Penggunaan kata /kami/ dan /mereka/ merupakan simbol dari masyarakat secara universal dari berbagai lapisan, karena penyair mungkin beranggapan bahwa perjuangan milik dan hak semua orang.

“LANJUTKAN PERJUANGAN!”
Penggunaan huruf kapital mengindikasikan adanya penegasan dan memperkuat statement perjuangan, yaitu melanjutkan perjuangan dari pahlawan yang telah gugur, meskipun akan menghadapi risiko dan halangan.
2.      Tema dan persoalan dalam puisi “Sebuah Jaket Berlumur Darah”
Ø  Tema: Perjuangan
Ø  Persoalan:
Puisi “Sebuah Jaket Berlumur Darah” termasuk puisi elegi karena mengungkapkan perasaan duka dan berisi ratapan-ratapan penyair. Disini penyair menceritakan pengalamannya yang banyak menemui rintangan dan hambatan dalam berjuang. Dari sajak inilah tampak sebuah potret pengorbanan yang disampaikan penyair.
3.      Pengaruh dan cerminan dunia nyata dalam  puisi “Sebuah Jaket Berlumur Darah”
Pada masa itu terjadi demonstrasi besar-besaran oleh mahasiswa yang memperjuangkan negara dari ancaman penguasa tiran, yaitu PKI.





BAB III
KESIMPULAN

            Dari kedua puisi karya Taufik Ismail tersebut, menggunakan bahasa yang sederhana, padat tetapi sarat makna, sehingga mampu menggambarkan dunia dalam kata.
            Kedua puisi tersebut menggambarkan perjuangan dan pengorbanan melawan penjajah, serta semangat untuk melanjutkan perjuangan para pahlawan yang gugur di medan perang.
            Dengan adanya puisi “Sebuah Jaket Berlumur Darah” penyair berpesan untuk melanjutkan perjuangan dan jangan menyerah untuk melawan penindasan dan kesewenangan oleh penguasa tiran. Kebebasan dan kemakmuran rakyat itu harus diperjuangkan walaupun harus mengorbankan diri sendiri.



 DAFTAR PUSTAKA

http://ayu-candra-fib12.web..unair.ac.id (15/10/2014)
http://monster007.blogdetik.com/analisis-unsur-fisik-dan-batin-puisi (12/10/2014)
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Taufiq_Ismail (14/102014)



0 komentar :

Posting Komentar