Kamis, 21 April 2016

Menjawab Bincang-bincang di Bumi Bung Karno

Pekan lalu akhirnya sebuah acara yang diselenggarakan oleh Universitas Islam Balitar dengan tema "Sastra di Bumi Bung Karno" selesai dengan sukses. Saya dan Rahman el Hakim datang sehari sebelum acara. Saya sendiri berangkat dari Surabaya, dan transit di Malang setelah itu melanjutkan dengan bus yang berbeda ke Blitar. Rahman el Hakim berangkat hari Jumatnya karena memang jarak Bondowoso yang terlampau jauh hingga harus berganti-ganti bus. Kami bertemu di Malang, Terminal Arjosari dan berangkat ke Blitar bersama.



Saya tak menyangka kalau sampai di Blitar dengan disambut hujan sejak di Malang. Sesampainya di Blitar pukul 22:30 Wib. Sebenarnya saya sangat sungkan dengan Alfa Anisa, dan sang ketua FLP, Mas Saif yang harus menjemput saya di perempatan jalan karena memang sopir busnya bilang kalau Unisba sudah lewat. Akhirnya saya dan Kek Rahman menunggu di perempatan jalan kemudian ada 3 orang yang menjemput dan mengantar ke rumah Alfa Anisa.

Keesokan paginya, pukul tujuh saya sudah bersiap untuk berangkat. Acara ada di lantai 3 gedung sebelah selatan (kalau gak salah). Saya naik ke tempat acara, di sana sudah ada beberapa panitia dan ternyata acaranya lesehan. Meski disediakan kursi dan meja untuk pembicara. Saya dan Kek Rahman tentu tidak akan duduk di sana, karena temanya sudah bincang-bincang dan sharing sehingga kedudukan kita adalah sama, tidak ada yang menggurui. Akhirnya saya dan Kek Rahman duduk di bawah. 


Kek Rahman bilang, seharusnya panitia menata posisi duduknya melingkar agar kedudukan setara dan lebih dekat. Saya berpikir dan cukup membenarkannya. Dengan adanya sekat seolah ada jarak pembeda, bahkan saya yang masih mahasiswa semester empat ini berbagi ilmu dengan yang tua. Agak terkesan bagaimana kalau menurut saya. Tapi, peserta yang berasal dari SMA sangat terbuka. Mereka fair dan sangat menerima segala pendapat dan menanyakan semua hal yang tidak mereka mengerti. Pertanyaan bahkan berlangsung hampir pukul satu siang.

Kek Rahman seolah tak terima dan membisikkan kepada saya, sebaiknya ada jeda dan dimulai lagi pukul dua atau dilangsung sampai pukul dua. Aku tahu mereka punya unek-unek untuk ditanyakan lagi tapi mereka terbentur waktu. 

Saya hanya tersenyum dan menatap peserta yang memang masih ingin bertanya tetapi sang moderator sudah menutup acara bincang-bincang ini. Saya hanya legowo dan berharap jika mereka masih punya unek-unek bisa disampaikan meski tanpa tatap muka bisa melalui media sosial ataupun via telepon  Saya sangat membuka diri untuk hal tersebut. Begitupun Kek Rahman pastilah menjawab dengan hal yang sama.

Akhir kata saya sangat berterima kasih kepada semua pihak yang turut menyukseskan acara ini. Dan untuk segenap panitia yang dengan segenap hati merangkai dan menyelenggarakan acara yang bermanfaat ini. Terima kasih, di sini pula saya menemukan keluarga baru, keluarga yang bisa membuat tersenyum meski sehari. Semoga tapi silaturahmi tetap terjalin antara kita. 

Salam kreatif! 
NB: Acara ini juga dimuat Harian Surya rubrik Citizen Snap Edisi 17 April 2016

0 komentar :

Posting Komentar