Minggu, 03 Juli 2016

Another Secret

Sebenarnya akhir-akhir ini aku sudah nggak posting cerpen, ff atau fts karena takut nggak ada yang baca. Tapi  beberapa  hari yang lalu, ada yang request cerpen untuk diposting. Akhirnya mulai ubek-ubek file lama untuk dijadwalkan posting deh. Semoga terhibur ya, ini adalah FF tahun 2014. :D Belum nulis yang baru, hihi :)
Happy reading guys!
-------


“Boleh gue tanya satu hal?”
Azka menyunggingkan senyum liciknya ketika mendengar pertanyaan Arga.
“Pertanyaan sebelum meregang nyawa, heh?” Azka terkekeh.
 “Apa?!”
Arga melirik Rey yang berdiri dalam diam di belakang Azka. Laki-laki itu sedang mengawasi gerak-gerik Azka. Rey sudah menyiapkan senapan di saku belakangnya. Namun sampai kini belum ada tindakan yang diambilnya.
 “Apa selama ini, setelah lo tau bahwa gue adalah Azka yang asli, lo selalu mengawasi gue?” tanya Arga seraya menatap tajam Azka.
 “Tolol! Lo pikir gue akan ngebiarin lo begitu saja, iya? Gue tentu saja harus memastikan kalau lo nggak bersatu kembali sama kedua orangtua lo.” tukas Azka.
“Pertanyaan kedua,”
 “Ada berapa sih pertanyaan, sebelum lo bertemu sama maut?” desis Azka.
Vera meringis merasakan lengan Azka di lehernya makin menguat. Melihat itu, Arga menahan diri untuk tidak bertindak gegabah. Demi keselamatan orang yang dicintainya
 Apa lo pernah, memiliki perasaan sama Vera?” tanya Arga penuh selidik. Azka terkekeh.
“Vera? Buat apa gue suka sama gadis bau kencur seperti Vera. Asal lo tahu, gue menggunakan Vera sebagai alat. Ya, sekadar untuk menjauhkan lo dari orangtua asli lo.
“Kamu sudah gila, Azka!”
“Aku memang gila!”
Rey sudah bersiap menembak Azka terlebih dulu sebelum Arga tertembak. Ditatapnya tajam raut wajah Azka penuh amarah.
Peluru senapan yang dibawa Azka hampir melesat. Tawa Azka meledak.
Sesaat sebelum peluru melesat, Vera berhasil melepaskan diri dari ikatan dan berteriak histeris.
“Tidakkk ...!”
Rey dan Vera berteriak. Mereka berlari menghampiri Arga yang sudah memejamkan mata. Sedang Azka berteriak seperti orang gila dan berlari meninggalkan tempat tersebut.
Vera merasa kepalanya berputar-putar. Pandangannya mulai tidak terfokus. Rasanya dia sulit bernapas. Detik berikutnya, gelap menguasai tubuhnya.
“CUT”
Ravina mengusap airmatanya dan tertawa keras. Gadis itu kemudian menghampiri Ando dan menjitak kepalanya pelan.

“Udah istirahat, woy! Mau sampai kapan lo pura-pura pingsan di situ?”

2 komentar :

  1. njirr... ternyata dramanya ngena banget wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhehe, tulisan lama nih Mba Rohmah. Makasih udah mampir :)

      Hapus