Jumat, 01 Juli 2016

Peran Mahasiswa dalam Menyikapi Eksistensi Literasi sebagai Jendela Perubahan Bangsa



anggi_putri

Peran Mahasiswa dalam Menyikapi  Eksistensi Literasi sebagai Jendela Perubahan  BangsaMenurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Mahasiswa ialah orang yang belajar di perguruan tinggi, disebut sebagai Mahasiswa bukan lagi sebagai siswa yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas maupun Sekolah Menengah Pertama. Secara langsung mahasiswa dianggap orang yang paling tinggi tingkatannya dibandingkan dengan siswa-siswa yang lain. Tidak berhenti sampai di situ, saat ini sering kita saksikan di layar kaca mengenai aksi-aksi mahasiswa yang saling beradu kreativitas dan pemikiran untuk memberikan argumen mereka terhadap segala hal yang terjadi di kehidupan nyata terutama yang menyangkut bangsa Indonesia atau segala hal yang berhubungan dengan kemajuan peradaban manusia yang semakin berkembang dari waktu  ke waktu.


Akhir-akhir ini pun masalah kreativitas dan produktivitas menulis mulai diperbincangkan, baik di media elektronik maupun cetak. Beberapa forum diskusi pun dibuka untuk menyelenggarakan seminar dan pelatihan kepenulisan serta pelatihan soft skill khususnya tentang menulis. Tak bisa dipungkiri, menulis merupakan sesuatu yang urgent bagi mahasiswa seiring perkembangan jaman yang hampir menenggelamkan keberaksaraan, bangsa dituntut lebih produktif dan bisa menjadi bangsa yang melek literasi.

Menurut penelitian Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia berada pada posisi kedua dari 65 negara dengan Budaya Literasi terburuk. Tingkat membaca siswa di Indonesia mendapat peringkat ke-57 dari 65 negara (PISA, 2010). Sedangkan indeks minat baca hanya 0,001 berarti setiap 1000 penduduk hanya satu yang memiliki minat baca. Tingkat melek huruf orang dewasa hanya 65,5 persen (UNESCO, 2012). Sedangkan Malaysia sudah 86,4 persen (Republika, 2014).
Menurut Kepala Pusat Pembinaan dan Pemasyarakatan Badan Pemasyarakatan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Yeyen Muryani hal ini dikarenakan budaya masyarakat Indonesia yang lebih sering menonton dibandingkan membaca apalagi menulis. Beliau sangat menyayangkan hal ini karena literasi menjadi penentu daya saing bangsa.
Dewasa ini menjadikan bangsa Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara berkembang lainnya, apalagi dengan negara maju seperti Jepang, Jerman, dan Amerika yang mahasiswanya selalu sedia buku dalam genggamannya. Mahasiswa di sana tak segan untuk membaca buku ketika di bus, di halte, bahkan sambil berjalan. Fakta inilah yang menjadikan mahasiswa di Indonesia tertinggal sangat jauh.
Mahasiswa sebagai agent of change dituntut memiliki tingkat kepekaan yang lebih dalam untuk mewujudkan perubahan dunia. Salah satunya dengan literasi. Literasi diwujudkan dalam bentuk membaca dan menulis. Menulis dapat mewujudkan sebuah perubahan dunia karena menulis memiliki manfaat yang kental. Banyak sekali manfaat menulis, yang efektif pendapat Ridwan (2015) diantaranya; instrumen perekam jejak sejarah, jika hendak merekam sesuatu, cukuplah tuangkan lewat tulisan. Inilah cara klasik yang tak akan pernah tergantikan oleh apapun. Misalnya saja menulis tentang kearifan lokal daerah setempat, maka hal yang ditulis bisa menjadi jejak sejarah dan mampu membuat sebuah perubahan. Dalam dewasa ini, fakta yang telah dibuktikan lahirnya buku Tentang Kota Kita, sebuah antologi cerpen dan  puisi  tetang Jombang (2015) yang digagas penulis serta kegiatan bincang-bincang sastra di bumi bung karno yang mendobrak semangat menulis di Blitar (April, 2016). Kedua, menulis adalah media belajar. Sebagai mahasiswa belajar adalah sebuah kewajiban yang tak perlu lagi diingatkan. Mahasiswa yang kreatif dan produktif akan mengisi dirinya dengan ilmu sebanyak-banyaknya kemudian mengimplementasikan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, Instrumen untuk menjaga ilmu, pendapat, opini, dan argumen dari keraiban dan untuk menyebarkannya secara lebih luas. Dengan demikian, hal yang ditulis akan menyebar luas sehingga bisa dibaca oleh masyarakat lainnya. Bisa dibayangkan apabila sepuluh mahasiswa saja menulis dan membaca maka ilmu yang dapat diinovasi dan diaplikasikan justru semakin banyak.
Bentuk literasi lainnya selain menulis adalah membaca. Pepatah yang mengatakan bahwa membaca adalah jendela dunia patut disetujui. Membaca mampu menimbulkan dorongan motivasi, ilmu dan pengetahuan seseorang sehingga mampu diwujudkan dalam kehidupan.
Generasi muda adalah generasi emas, apalagi di Kompas (2016) menyebutkan lahirnya generasi Y atau generasi milenial yakni generasi yang lahir dalam kurun waktu 1980-1999 akan menjadi perubahan dunia. Generasi Y adalah gambaran dari mahasiswa sekarang, generasi yang mampu berkreasi dan berpikir cepat, mereka suka dengan hal-hal baru dan menurut pengamatan seharusnya mampu mendongkrak ranah literasi lebih baik lagi.
Inovasi-inovasi yang saat ini banyak dilakukan oleh mahasiswa dalam ranah literasi diantaranya, banyak penulis-penulis muda yang lahir khususnya para mahasiswa. Hal ini menunjukkan bahwa telah muncul kesadaran dalam mendobrak literasi. Selain itu, fakta lainnya adalah banyak muncul  penerbit-penerbit yang pengelola dan pimpinannya adalah masih berstatus mahasiswa, relawan rumah baca juga dominan dari mahasiswa, dan mahasiswa sudah mampu mengangkat eksistensi literasi ke media cetak seperti koran dan majalah.
Kontribusi generasi muda yang jika setiap tahun semakin ditingkatkan akan berimbas pada pesatnya dan naiknya presentasi melek literasi di Indonesia. Bukan tidak mungkin jika mulai dari kesadaran diri sendiri untuk melakukan perubahan bangsa.
Pentingnya menuliskan “Daftar Kesuksesn” bukan hanya untuk mereka yang sudah meraih kebenaran “kekuatan sugesti mimpi”, tapi pula untuk semua orang, tak terkecuali bangsa kita Indonesia. Literasi ada di pundak generasi muda. Segala keberhasilan tanpa disadari merupakan buah hasil dari pergulatan rencana, usaha dan doa yang tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat. (Wibowo, Nurdiansyah, 2016). Jangan sampai literasi hanya menjadi life style, tetapi yang paling penting yaitu sebagai kawah candradimuka dan ruang ekspresi.




Daftar Pustaka

Winarti, Anggi Putri. (2016). Menulis Cerita Bertema Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Kreativitas dan Produktivitas Mahasiswa PBSI. Surabaya: Universitas Wijaya Kusuma Surabaya
Putri, Anggi, dkk. 2015. Tentang Kota Kita. Jombang: Pustaka Kata

Wibowo, Wahyu dan Nurdiansyah, Ales. 2016. Mendayung Impian Menuju Samudera. Yogyakarta: Pustaka Senja

Septiadi, Ridwan . (2013). Pentingnya Menulis. Jakarta: Kompasiana. http://m.kompasiana.com/ridwanseptiadi/pentingnyamenulis_55587916523bd66539f9d diakses pada 17 Mei 2016 pada 15:09 WIB



---      Generasi Y Mengubah Wajah Korporasi. Jakarta: Kompas http://print.kompas.com/baca/2016/03/14/Generasi-Y-Mengubah-Wajah-Korporasi diakses pada 20 Mei 2016 pukul 11:54 WIB


This entry was posted in

0 komentar :

Posting Komentar