Sabtu, 17 September 2016

Puisi Radar Surabaya 18 September 2016

Setelah minggu lalu puisi-puisi saya dimuat Duta Masyarakat, kali ini masih di kawasan Surabaya yakni Radar Surabaya. Ini kali kedua puisi-puisi saya nangkring di koran ini. Yang (katanya) ada honor pemuatan namun sulit pencairannya.

Nasib saya sama dengan teman-teman penulis lain, juga teman sekampus saya sudah ke tempat redaksinya namun nihil.Tapi, bagi saya ini untuk penyemangat buat diri sendiri dan orang lain. Selalu menebar kebaikan adalah segalanya.

Bagi kalian yang ingin kirim karya ke Radar Surabaya bisa melewati e-mail:radarsurabaya@yahoo.com.

Media ini menerima cerpen, esai, puisi, resensi.

Selamat berkarya!

Berikut dua diantara puisi yang dimuat:
EMBUN MENETES DI KELOPAKMU

embun menetes di kelopakmu
sapu tangan waktu berlarian
pada pipi yang berkerut samar
aku pun terjaga dari rasamu
sakit paling ngilu

embun menetes di kelopakmu
senyum tak tereja jelas
kata bungkam dan belum tuntas
seolah terpotong
jadi repih di pelataran

embun menetes di kelopakmu
kutahu kau adalah getas
yang diretas dua arah:
pagi dan malam tersedu
terbentang langit pengusung rindu-rindu

Surabaya, 23 April 2016

MENJAJAK KENANG

masih kutuntaskan
menggurat surat-surat
harum bunga mengusap cahaya
duduk mengeja kata

kelasah mengantar sunyi
di gerbang tua
waktu menggulung tak menjawab
mengalir dalam degup ratap

kubiarkan saja candu menjalar
meradang saat rembulan
di ujung malam
menuang imaji
dalam warna-warna rasa


Surabaya, 22 April 2016

4 komentar :

  1. Puisinya bagus-bagus mba..biasanya dapat inspirasi darimana?kerennn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, biasanya sering dapat inspirasi dari jalan-jalan. Sesekali saya memang meluangkan waktu sekadar jalan-jalan menyaksikan kehidupan di luar.

      Hapus
  2. Mantap ya mbak, Sudah Ketahuan memang klo cewek Suka membuat Puisi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak semua cewe sepertinya hehe :D

      Hapus