Kamis, 16 Maret 2017

Cara Efektif Menulis Esai



Bagaimana cara menyusun esai? Pengertian esai sendiri merupakan sebuah jenis karangan mengenai penjabaran pendapat penulisnya terhadap satu masalah. Esai ditulis bebas karena berisi gagasan penulis. Pada kenyataannya tidak segampang itu. Bagi sebagian orang, menulis esai merupakan pekerjaan yang membosankan karena dirasa sangat rumit. Di sini akan dikupas tips menulis esai agar tidak lagi menjadi momok yang menyeramkan.

Esai langsung ditulis dengan bentuk naratif dan usahakan menghindari penggunaan bullet atau numbering. Jika diperlukan, gambar dan referensi lain bisa kita tambahkan sebagai pendukung argumentasi atau memperkuat fakta dengan tetap mencantumkan sumbernya.


Hal-hal yang wajib diperhatikan saat menulis esai:
1.   Kesesuaian tema dengan isi
2. Kekuatan argumentasi atau opini
3. Kreativitas serta ketajaman gagasan yang digunakan

Secara pokok sebuah esai harus mencakup tiga unsur:
  1. Pendahuluan, berisi latar belakang atau perkenalan terhadap masalah yang dibahas. Pendahuluan tidak perlu ditulis secara eksplisit seperti dalam makalah.  (A. Pendahuluan) hindari penggunaan bullet and numbering.

Pendahuluan atau abstraksi ini memiliki fungsi untuk memberikan gambaran mengenai isi esai kepada pembaca. Bagian ini kita bisa menjawab pertanyaan dan menyediakan rangkuman dari isi argument. Sampaikan kepada pembaca apa argument Anda dan yakin bahwa itu merupakan jawaban yang tepat. Buatlah abstraksi singkat dan padat, tapi jangan lupa menampilkan semua ide/gagasan di dalamnya. Abstraksi berisi definisi, etimologi, latar belakang, dll.


2. Isi/gagasan/pembahasan, yang berisi gagasan dan opini penulis yang disertai argumentasi      yang kuat dan ditambah dengan wawasan serta kreativitas berpikir. Hal ini akan lebih  menguatkan esai yang akan kita tulis. Jika perlu berikan pemecahan masalah yang ditanggapi.   Bagian ini mengandung garis besar keseluruhan isi essay. Tulislah dengan mengacu pada point   – point pada outline yang telah dibuat. Kembangkanlah point – point tersebut dan jangan lupa    untuk memberikan pendukung berupa data agar opini Anda tidak lemah.

3. Kesimpulan, berisi ringkasan yang mencakup keseluruhan isi esai, juga merupakan penutup esai. Dalam membuat kesimpulan, hindari penggunaan kalimat yang sama dengan bagian lainnya.

Tahap dalam penulisan esai:

1.       Tahap analisis tema
Gunakan identifikasi kata-kata kunci dalam tema yang mau kita tulis, lalu analisis apa kira-kira keluaran dari lingkup tema tersebut.

2.       Tahap observasi data dan pengembangan gagasan
Dalam melakukan observasi, hindari membuang waktu yang tidak ada hubungannya dengan tema. Pengumpulan data yang tidak ada sangkut pautnya dengan tema hanya akan menyebabkan pemborosan waktu dan pikiran. Berikut adalah pertimbangannya:
a.       Apakah bacaan/data bermanfaat bagi topik atau gagasan saya?
b.       Apakah ini dapat mendukung gagasan saya?
c.       Apakah saya harus membaca hal-hal lainnya agar dapat menjawab pertanyaan dari esai?
Jangan lupa untuk mencatat semua referensi, baik judul buku, nama pengarang, tanggal, penerbit serta tempat penerbitan untuk mereferensikan rangkuman tersebut kepada pengarang asli, untuk mencegah dugaan plagiarisme.

3.       Tahap menyusun gagasan dan menulis esai
Jangan lupa membuat kerangka tulisan untuk melihat apakah struktur dari esai sudah sesuai. Susunlah esai dalam cara yang paling efektif untuk memudahkan diri sendiri

4.       Tahap editing
Jika masih punya waktu, merupakan ide bagus untuk  meninggalkan esai selama beberapa hari untuk kembali memperbaikinya.

5.       Tahap finishing
Merupakan tahap akhir, pastikan esai sudah lengkap.

Contoh beberapa pendahuluan esai

Pahlawan di Dalam Diri

Krisis kebangsaan takkan pernah bisa menemukan penyelesaian apabila rakyat terus memandang kepahlawanan sebagai sesuatu yang berada di luar dirinya. Ketimbang terus menunggu kedatangan pahlawan di luar sana, lebih baik warga menghidupkan kekuatan kepahlawanan dalam diri sendiri. Seperti diingatkan psikolog Carl S Pearson, orang-orang biasa bisa menghadirkan kehidupan luar biasa apabila mampu mendayagunakan apa yang disebutnya sebagai ”the power of mythic archetypes”, yakni mitos tentang fitrah (archetype) kepahlawanan dalam diri.

Menurut Pearson, ada enam model fitrah kepahlawanan dalam diri. Pertama, model yatim piatu (orphan), dengan memandang hidup sebagai penderitaan, dan tugas kepahlawanannya adalah berjuang mengarungi kesulitan. Kedua, model pengembara (wanderer), dengan memandang hidup sebagai petualangan, dan tugas kepahlawanannya menemukan kesejatian diri. Ketiga, model pendekar (warrior), dengan memandang hidup sebagai pertarungan, dan tugas kepahlawanannya adalah membuktikan harga diri.


Rujukan:
[1] Disalin dari karya Yudi Latif
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Kompas"  17 November 2015 

Sastra Cyber, Jawaban Kegelisahan Penulis

Sastra erat kaitannya dengan dunia intuisi (baca: imajinasi). Sastra lahir karena dorongan manusia untuk mengungkapkan masalah manusia, kemanusiaan, dan semesta melalui imajinasi tersebut. Sastra juga merupakan karya kreatif yang dimanfaatkan sebagai konsumsi intelektual dan emosional. Sastra yang telah dilahirkan oleh sastrawan diharapkan dapat memberi kepuasaan estetika dan intelektual untuk pembaca. Siapa pun itu berhak mengekspresikan imajinasinya dan bebas menyampaikan pesan moral yang dibawanya melalui karya yang diciptakannya. Namun, sering karya sastra tidak mampu dinikmati oleh setiap orang karena berbagai keterbatasan. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya wahana pemublikasian karya sastra tersebut, sehingga kerap karya yang telah dilahirkan akhirnya harus mengendap di laci sang penulis, terutama bagi penulis pemula.

Rujukan:
[1] Disalin dari karya Anggi Putri
[2] Pernah tersiar di surat kabar "Radar Mojokerto"  22 Januari 2017

Semoga tips dan contoh-contoh di atas bisa membantu Anda. Salam literasi



-----

Referensi:
Aminuddin. 1990. Sekitar Masalah Sastra. Malang: Yayasan Asih Asah Asuh
Tompkins, Gail E. 1990. Teaching Writing Belancing Process and Product. New York: Macmillan Publishing Company
Zuchdi, Damiyati. 1997. Pembelajaran Menulis dengan Pendekatan Proses



0 komentar :

Posting Komentar