Wednesday, 29 November 2017

Perbedaan Mentega dan Margarin

margarin nih bentuknya


Apakah kamu tahu perbedaan antara margarin dan mentega? Atau kamu menganggap bahwa dua produk ini adalah produk yang sama? 

Margarin dan Mentega (Butter) - Bagi orang yang tidak terbiasa berkutat di dapur, mungkin kedua bahan ini cukup sulit dibedakan.

Tak sedikit yang mengira bahwa mentega dan margarin adalah bahan yang sama. Sama-sama bahan kue, hanya berbeda istilah saja.

Padahal, kedua bahan ini berbeda baik dari bahan dasar, tekstur hingga penggunaannya Lantas jika memang berbeda, apa saja perbedaan utama antara margarin dan mentega?
Biar tidak bingung, langsung saja kita simak sedikit ulasannya berikut ini.

Bahan Dasar
Mentega atau butter terbuat dari lemak hewani yang disebut butterfat, yaitu lemak susu atau krim susu yang mengandung lemak jenuh cukup tinggi. Krim ini diperoleh setelah susu dibiarkan beberapa hari dalam suhu dingin, sehingga terbentuk gumpalan setengah padat (krim) yang terpisah dari bagian cairnya (skim).


sumber gambar;  dunyanews.tv


Margarin dibuat dari minyak nabati, air, pengemulsi dan beberapa bahan pendukung lainnya sehingga membentuk krim padat. Karena sebagian besar terbuat dari minyak nabati, margarin memiliki kadar lemak dan kolesterol yang lebih rendah dari mentega.

Tekstur

Mentega memiliki tekstur yang lebih lunak, sehingga lebih baik disimpan didalam lemari pendingin.


Di tempat yang bersuhu ruang, mentega memiliki tekstur yang lembek dan cenderung meleleh.

Sedangkan margarin memiliki tekstur yang lebih stabil, meskipun lunak tetapi tidak meleleh dalam suhu ruang.


sumber gambar  thrivemarket.com
Dalam suhu ruang, margarin lebih stabil dan tetap dalam bentuk krim padat (tidak meleleh).

Warna

Biasanya, mentega memiliki warna yang lebih pucat atau lebih putih dibandingkan dengan margarin.

Sementara margarin memiliki warna yang lebih terang dan lebih kuning dibandingkan dengan mentega. Perbedaan ini memang tidak bersifat mutlak, karena ada beberapa mentega yang warnanya lebih kuning dibanding margarin.

Rasa

Secara umum, mentega memiliki rasa yang lebih tawar dibandingkan dengan margarin. Sebaliknya, margarin memiliki rasa yang lebih asin dibandingkan dengan mentega. Tetapi terkadang rasa ini tidak menjadi patokan, karena mentega juga ada beberapa jenis seperti salted butter dan unsalted butter.

Demikian juga dengan margarin. Namun secara umum, biasanya margarin lebih asin dibandingkan dengan mentega.

Aroma
Karena terbuat dari krim susu, mentega memiliki aroma yang harum dan menggugah selera sebagaimana aroma susu pada umumnya. Sedangkan margarin memiliki aroma edikit kecut yang khas, terutama saat margarin dipanaskan.

Penggunaan

Mentega dengan teksturnya yang lembek cocok digunakan untuk membuat kue kering seperti cookies. Mentega menghasilkan tekstur kue yang lembut dan ringan, sehingga tidak cocok digunakan untuk membuat kue basah seperti cake.

Margarin memiliki sifat sebaliknya, lebih cocok digunakan untuk membuat kue basah namun kurang cocok digunakan untuk membuat kue kering.

Margarin cocok untuk membuat cake yang kokoh namun lembut, sehingga cake gampang dibentuk dan dihiasi berbagai topping serta tidak mudah hancur. Untuk mendapatkan semua keunggulan mentega dan margarin, biasanya kedua bahan ini dipadukan dengan perbandingan tertentu.

Dengan begitu bisa didapat hasil kue yang pas, memiliki aroma lebih wangi, lembut namun tidak mudah hancur.


Belakangan ini, sudah banyak produk yang menawarkan keunggulan keduanya. Yaitu campuran antara margarin dan mentega serbaguna siap pakai.

Kandungan Kolestrol

Karena terbuat dari lemak hewani, kandungan kolesterol dan lemak jenuh pada mentega lebih tinggi daripada margarin. Namun, untuk produk mentega oles memiliki kalori dan lemak yang lebih rendah. Mentega yang biasa dijual secara komersil di Amerika mengandung sekitar 80% lemak. Dan yang yang membuatnya makin berbeda dengan margarin adalah, mentega bisa dibuat sendiri di rumah sedangkan margarin harus diolah di pabrik. 

Sama seperti mentega, margarin oles mengandung lemak yang lebih rendah sekitar 10-90%. Tinggi rendahnya  kandungan lemak pada margarin tergantung pada kandungan lemak yang berasal dari minyak sayur. Semakin rendah kandungan lemak pada margarin, maka semakin banyak kandungan air pada margarin tersebut. 

Karena margarin terbuat dari minyak sayur, kandungan kolesterol dan minyak jenuh pada margarin jauh lebih rendah dibandingkan dengan mentega. Namun, margarin memiliki persentase yang lebih tinggi untuk kandungan lemak tak jenuh ganda dan lemak tak jenuh tunggal. 

BISAKAH MARGARIN DAN MENTEGA SALING MENGGANTIKAN?

Secara teknis, mentega dan margarin tidak dapat saling menggantikan tapi tidak bersifat mutlak. Mentega kurang cocok untuk menggantikan margarin dalam hal membuat kue basah karena tekstur kue yang didapat menjadi lembek dan tak berbentuk namun rasanya memang lebih enak.

Sementara margarin kurang cocok untuk menggantikan mentega dalam hal membuat kue kering. Tekstur yang didapat nantinya menjadi kurang garing dan kurang lembut serta cenderung agak keras.

Untuk mendapat hasil yang terbaik saat membuat cake, biasanya mentega dan margarin dipadukan dengan tujuan mendapatkan tekstur yang baik dengan rasa dan aroma yang enak. Sementara untuk membuat kue kering, mentega menjadi prioritas untuk mendapatkan tekstur dan rasa yang terbaik. Margarin lebih cocok untuk penggunaan multifungsi yang tidak didapatkan dari mentega seperti menggoreng, menumis dan keperluan memasak yang lainnya.

Perbedaan margarin dan mentega tersebut sekaligus merupakan kekurangan dan kelebihan dari keduanya. Kendati tidak dapat saling menggantikan secara keseluruhan, keduanya dapat dipadukan untuk mendapatkan hasil yang terbaik.


Contoh Produk di Pasaran
Beberapa contoh mentega yang beredar di pasaran dalam negeri antara lain dengan merk dagang Wijsman, Golden Churn, Orchid Butter dan Elle & Vire.


contoh mentega di pasaran

Beberapa contoh margarin yang populer di pasaran dengan merek dagan antara lain Blueband, Simas Palmia, Filma, Palmboom dll.


contoh margarin di pasaran


Bagaimana? Dengan penjelasan singkat diatas apakah kalian sudah bisa membedakan antara margarin dan mentega? Semoga membantu.

Tuesday, 28 November 2017

Inilah Tips Melakukan Reportase yang Baik

https://2.bp.blogspot.com

Sebelumnya apakah sudah pernah mendengar kata reportase? Saya yakin anda sudah pernah mendengarnya di televisi. Lalu, apakah anda sudah pernah melakukan reportase? Jika belum, sangat pas kalau anda membaca tulisan saya kali ini mengenai Tips Reportase yang Baik.

Reportase dapat diartikan sebagai proses pengumpulan data yang digunakan untuk penulisan karya jusnalistik. Objek pengumpulan data tersebut dapat berupa manusia, makhluk hidup selain manusia, buku-buku, tempat bersejarah, dan lain sebagainya. Suatu reportase disebut sebagai wawancara jika objek reportasenya adalah manusia.

Wawancara VS Reportase. 
Apakah wawancara sama dengan reportase? Jawabannya adalah tidak. Reportase memiliki ruang lingkup yang jauh lebih luas daripada wawancara, sedangkan wawancara merupakan satu diantara jenis teknik reportase.

Wawancara adalah tanya-jawab dengan seseorang untuk mendapatkan keterangan atau pendapatnya tentang suatu hal atau masalah. Wawancara sering dihubungkan dengan pekerjaan jurnalistik untuk keperluan penulisan berita yang disiarkan di media massa. Dalam konteks ini, wawancara merupakan proses pencarian data berupa pendapat/pandangan/pengamatan seseorang yang akan digunakan sebagai salah satu bahan penulisan karya jurnalistik. Dari wawancara, sebuah berita didapat dan dilaporkan kepada masyarakat. Untuk itu, wawancara sedikit banyak memengaruhi sebuah kualitas berita. Sebab wawancara dibutuhkan untuk mendapatkan keterangan, fakta, data-data, penegasan serta beragam jenis informasi lainnya. Kegunaan wawancara bisa untuk memastikan sebuah kebenaran, mengklarifikasi, me-recheck, atau meluruskan kembali berbagai informasi yang didapat.

Jenis wawancara
1. News interview, yaitu wawancara dalam rangka memperoleh informasi dan berita dari sumber-sumber yang mempunyai kredibilitas ataupun reputasi di bidangnya.

2. Casual interview, atau disebut juga wawancara mendadak. Ini adalah jenis wawancara yang dilakukan tanpa persiapan/perencanaan sebelumnya.

3. Man in the street interview. Tujuan untuk mengetahui pendapat umum masyarakat terhadap isu atau persoalan yang hendak diangkat menjadi bahan berita.

4. Personality interview, yaitu wawancara yang dilakukan terhadap figur-figur publik yang terkenal, atau bisa juga terhadap orang-orang yang dianggap memiliki sifat/kebiasaan/prestasi yang unik, yang menarik untuk diangkat sebagai bahan berita.

Persiapan Wawancara
Semua pekerjaan akan lebih berhasil jika disertai dengan persiapan yang matang begitupun dengan wawancara. Secara sederhana terdapat sedikitnya dua tahap untuk melakukan persiapan wawancara;

1. Tahapan Biografis
Tahapan untuk mengumpulkan tentang gelar, nama, tempat tinggal, data-data umum lain.

2. Tahapan non Biografis
Mengumpulkan keterangan seputar subyek, seperti yang terkait dengan kehidupan tokoh selain biografis.

Model Wawancara
·Wawancara langsung (Tatap Muka)
· Wawancara tidak langsung (Telpon dan Tertulis)

Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Wawancara
Agar tugas wawancara kita dapat berhasil, maka hendaknya diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Lakukanlah persiapan sebelum melakukan wawancara.
Persiapan tersebut menyangkut outline wawancara, penguasaan materi wawancara, pengenalan mengenai sifat/karakter/kebiasaan orang yang hendak kita wawancarai, dan sebagainya.

2. Taatilah peraturan dan norma-norma yang berlaku.
Sopan santun, jenis pakaian yang dikenakan, pengenalan terhadap norma/etika setempat, adalah hal-hal yang juga perlu diperhatikan agar kita dapat beradaptasi dengan lingkungan tempat pelaksanaan wawancara.

3. Jangan mendebat narasumber.
Tugas seorang pewawancara adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya dari nara sumber, bukan berdiskusi. Jika Anda tidak setuju dengan pendapatnya, biarkan saja. Jangan didebat. Kalaupun harus didebat, sampaikan dengan nada bertanya, alias jangan terkesan membantah.

Contoh yang baik: “Tetapi apakah hal seperti itu tidak berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri, Pak?”

Contoh yang lebih baik lagi: “Tetapi menurut Tuan X, hal seperti itu kan berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri. Bagaimana pendapat Bapak?”

Contoh yang tidak baik: “Tetapi hal itu kan dapat berbahaya bagi pertumbuhan iklim demokrasi itu sendiri, Pak.”

4. Hindarilah menanyakan sesuatu yang bersifat umum
Biasakanlah menanyakan hal-hal yang khusus. Hal ini akan sangat membantu untuk memfokuskan jawaban nara sumber.

5. Ungkapkanlah pertanyaan dengan kalimat yang sesingkat mungkin dan to the point.
Selain untuk menghemat waktu, hal ini juga bertujuan agar nara sumber tidak kebingungan mencerna ucapan si pewawancara.

6. Hindari pengajuan dua pertanyaan dalam satu kali bertanya.
Hal ini dapat merugikan kita sendiri, karena nara sumber biasanya cenderung untuk menjawab hanya pertanyaan terakhir yang didengarnya.

7. Pewawancara hendaknya pintar menyesuaikan diri terhadap berbagai karakter nara sumber.
Untuk nara sumber yang pendiam, pewawancara hendaknya dapat melontarkan ungkapan-ungkapan pemancing yang membuat si nara sumber “buka mulut”. Sedangkan untuk narasumber yang doyan ngomong, pewawancara hendaknya bisa mengarahkan pembicaraan agar narasumber hanya bicara mengenai hal-hal yang berhubungan dengan materi wawancara.

8. Pewawancara juga hendaknya bisa menjalin hubungan personal dengan nara sumber
Dengan cara memanfaatkan waktu luang yang tersedia sebelum dan sesudah wawancara. Kedua belah pihak dapat ngobrol mengenai hal-hal yang bersifat pribadi, atau hal- hal lain yang berguna untuk mengakrabkan diri. Ini akan sangat membantu proses wawancara itu sendiri, dan juga untuk hubungan baik dengan nara sumber di waktu-waktu yang akan datang.

9. Memihak Narasumber
Jika kita mewawancarai seorang tokoh yang memiliki lawan ataupun musuh tertentu, bersikaplah seolah-olah kita memihaknya, walaupun sebenarnya tidak demikian. Seperti kata pepatah, “Jangan bicara tentang apel di depan seorang pecinta pisang”.


Baiklah itu semua adalah tips yang bisa anda gunakan saat wawancara. Semoga tulisan ini dapat membantu dan bermanfaat.

Monday, 27 November 2017

Resensi Novel Pulang Karya Leila S. Chudori




“La Lutte Continue”
 1.      Identita Buku

Judul Buku/ Novel      : Pulang
Penerjemah                  : -
Penerbit                       : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Tahun Terbit                : 2012
Cetakan                       : Cetakan Kedelapan. Jakarta, Februari 2017
Tebal Buku                  : viii+461; 13,5 x 20 cm
Harga Buku                 : Rp. 99.000
Pengarang                   : Leila S. Chudori


2.      Kepengarangan
Latar Belakang Pengarang

            Leila S. Chudori. Lahir di Jakarta 12 Desember 1962. Karya-karya awal Leila dipublikasikan saat ia berusia 12 tahun di majalah Si Kuncung, Kawanku, dan Hai. Pada usia dini, dia menghasilkan buku kumpulan ceren berjudul Sebuah Kejutan, Empat Pemuda Kecil, dan Seputih Hati Andra.

            Leila menempuh pendidikan di Lester B. Person College of the Pasific (United World of Colleges) di Victoria, Kanada, dan dilanjutkan studi Political Science dan Comparative Development Studies di Universitas Tent, Kanada. Selama ini dia menulis di majalah Zaman, Horison, Matra, jurnal sastra Solidarity (Filipina), Menagerie (Indonesia), dan Tenggara (Malaysia). Buku kumpulan cerita pendeknya Malam Terakhir (Pustaka Utama Grafiti, 1989; Kepustakaan Populer Gramedia, 2009,2012) telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman Die Letzte Nacht (Horlemman Verlag).
Sejak tahun 1989 hingga kini bekerja sebagai wartawan majalah berita Tempo.

Leila adalah penggagas dan penulis skenario dalam drama televisi berjudul Dunia Tanpa Koma (produksi SenemArt, sutradara Maruli Ara) yang menampilkan Dian Sastrowardoyo dan ditayangkan RCTI pada 2006. Drama televisi ini mendapat penghargaan Sinetron Terpuji Festival Film Bandung 2007 dan Leila menerima penghargaan sebagai Penulis Skenario Drama Terpuji pada festival dan tahun yang sama.

Terakhir, Leila menuis skenario film pendek Drupadi (produksi SinemArt dan MilesFilm, sutradara Riri Riza), sebuah tafsir kisah Mahabarata; dan film Kata Maaf Terakhir (Maruli Ara, 2009) yang diproduksi SinemArt.

Pada tahun 2009, Leila S. Chudori meluncurkan buu kumpulan cerpen terbarunya “9 dari Nadira” dan penerbitan ulang buku “Malam Terakhir” oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) yang dilangsir oleh Agus Noor dalam harian Kompas sebagai “ kembalinya anak emas sastra Indonesia”. Kedua buku nya Malam Terakhir dan 9 dari Nadira kini dalam proses penerjemahan ke dalam Bahasa Inggris dan akan diterbitkan oleh Yayasan Lontar.

Leila kini sedang menggarap lanjutan 9 dari Nadira dan kumpulan cerita seorang pembunuh bayaran, Lembayung Senja.

Leila berdomisilidi Jakarta bersama putri tunggalnya, Rain Chudori-Soerjoatmojo yang juga menulis cerita pendek an resensi film. ( Dikutip dari novel Pulang, 459-460)

3.      Sinopsis
Paspor dicabut, berpindah negara, berpindah kota,
Berubah pekerjaan, berubah keluarga...
... segalanya terjadi tanpa rencana. Semua terjadi sembari kami terengah-engah berburu identitas
Seperti ruh yang mengejar-ngejar tubuhnya sendiri
--Dimas Suryo

            Sebelum saya menulis sinopsis ceritanya lebih lanjut, persiapkan dulu sejenak ketidakpercayaan anda. Ketidakpercayaan bahwa sejarah tak mungkin salah, ketidakpercayaan bahwa keluarga adalah satu-satunya yang absolut yang kita punya, dan ketidakpercayaan anda untuk hanya membaca resensi saya.

            Cerita ini bermula pada April 1968, sudah tiga tahun pelaksanaan misi untuk membumi hanguskan PKI dan bahkan juga kepada orang-orang yang hanya tertempel bau PKI. Dimas Suryo, Nugroho, Tjai, dan Risjaf adalah emat sekawan sahabat lama ini adalah mantan wartawan di Kantor Berita Nusantara, dan pada masa itu wartawan adalah sesuatu yang menyinggung sentimentil politik bahkan wartawan adalah salah satu kata yang diharamkan. Pada masa itu mereka adalah buronan. Mereka merasa hidupnya telah cukup dikejar-kejar ketidak adilan. Namun hari itu April 1968 hidup mereka kembali diselimuti mendung pekat ketika kabar Hananto Prawiro sahabat mereka, telah ditangkap dan dinyatakan tewas. Kini hidup mereka pun dikejar-kejar rasa berslah karena kawannya di Indonesia dikaejar, ditembak, atau menghilang begitu saja dalam perburuan peristiwa 30 September.

            Hananto Prawiro adalah sahabat Dimas Suryo (Tokoh Utama) namun mereka juga musuh . Mereka adalah musuh dihadapan Surti Anandari, tetangga kos mereka saat Dimas kuliah di UI dahulu. Surti adalah cinta pertama Dimas Suryo. Wanita yang bahkan menjadikan Dimas Surya mengeluarkan kata Kenanga, Bulan, dan Alam dari kosa kata cintanya. Mereka adalah nama yang telah dipersiapkan Dimas Suryo untuk anak-anaknya dari Surti. Namun, pada suatu hari, tanpa pamit dan sepatah katapun, Surti menghilang. Berbalik arah, menjauh dari kata cinta Dimas Suryo. Surti akhirnya tetap menjadi Surti yang ibu dari Kenanga, Bulan, dan Alam. Namun kini Surti adalah istri dari Hananto Prawiro, sahabat dekat Dimas Suryo.

            Surti adalah salah satu kepingan indah kisah cinta Dimas Suryo sebelum ia harus berlari-larian mencari suaka politik. Sebelum ia dan ke-tiga temannya mendarat di Paris. Indonesia sampai Paris. Bagi ia perjalanan itu telah cukup untuk melepaskan segala identitas dirinya dalam sejauh perjalananya. Di Paris mereka berbeda, identitas mereka, segala kepenatan mereka, mereka tanggalkan. Di sini, mereka baru, mereka ingin mendapatkan keluarga yang baru. Mereka hanya ingin keadilan yang baru. Di Paris 1968. Mereka tiba pada waktu yang kurang tepat rupanya, Paris pada tahun itu adalah lautan pergolakan. Pergolakan yang membuat mereka iri. Di sini, pertarungannya jelas keinginannya. Jelas Siapa yang dituntut dan siapa yang menggugat. Perseteruan ini antara mahasiswa dan buruh melawan pemerintahan De Gaulle. Di sana, diIndonesia, akrab dengan kekisruhan dan kekacauan namun tak tau siapa kawan siapa lawan. Di Indonesia bahkan tidak tau apa yang dicita-citakan pihak-pihak yang bertikai, kecuali kekuasaan. Betapa porak-poranda. Betapa gelap.

            Di Paris juga, Dimas Suryo bertemu Vivienne Deveroux. Seseorang yang akhirnya akan menjadi kepingan indah kisah cintanya lagi. Wanita bermata hijau itu membuatnya jatuh cinta. Wanita itu juga akhirnya memberinya seorang putri yang pemberani bernama Lintang Utara. Putri yang akhirnya menitipkan sparuh jiwanya untuk kembali ke Indonesia. Negara yang menurutnya penuh dengan ketidak adilan, namun sakan selalu ia rindukan. Dan setelah kembali ke Indonesia pada 1998, fakta apa yang akan diperoleh Lintang Utara? Ikuti kisahnya dan rasakan drama keluarga, persahabatan, cinta, dan penghianatan berlatar beakang tiga peristiwa bersejarah: Indonesia 30 September 1965, perancis, Mei 1968, dan Indonesia 1998.

            Apakah anda masih memiliki rasa ketidak percayaan yang anda bangun sebelum membaca ini? Jika iya, maka rasakan sendiri sensasinya dalan 458 halaman novel Pulang. Selamat membaca.

4.      Kelebihan dan Kekurangan Buku
-          Kelebihan
Buku ini akan mempermainkan imajinasi yang bahkan belum pernah kita bayangkan sebelumnya. Membuat kita mengagumi keindahan sejarah. Dan membuat kita percaya bahwa sejarah adalah salah satu sesuatu yang absolut. Kata per kata dalam novel ini seakan-akan memberikan makna yang tersimpan, renyah untuk dibaca namun juga akan memuaskan rasa lapar kita terhadap novel-novel yang anti mainstream. Peloncatan sudut pandang yang tak terduga membuat kita bingung saat pertama membaca novel ini. Setiap bab menyajikan sudut pandang pada tokoh yang berbeda-beda membuat pembaca mencari-cari siapa tokoh utama sebenarnya.

-            Kekurangan
Sejujurnya saya hampir tidak menemukan cela tentang karya ini. Perfect. Dari segi penulisan, alur cerita, tema, dan sisi humanis yang diangkat semuanya istimewa. Hanya satu catatan saya. Sisi sentilan politik di dalam novel ini (yang mengambil setting politik) terasa kurang gahar. Hanya itu.
 5.      Kritik dan Saran
Saya speechless untuk mengkritiknya, sebagai saran adalah untuk mempercepat karya-karya terbarunya Leila S. Chudori.


Friday, 17 November 2017

5 Perjalanan Spektakuler Wisata Keliling Papua Bersama Trigana


Wisata keliling Papua bersama Trigana adalah salah satu opsi terbaik buat kamu yang ingin eksplor pulau eksotis ini. Salah satu alasannya adalah rute Trigana Air yang cukup banyak di wilayah Papua.

So, perjalanan kamu bakal lebih praktis untuk mengelilingi medan Papua yang memang terbilang sulit dijangkau.

Berencana untuk ke Papua dalam waktu dekat? 5 (lima) pilihan destinasi berikut bakal jadi perjalanan spektakuler kamu di wilayah paling timur Tanah Air tersebut. Namun kali ini, tidak ada Raja Ampat dalam list, ya. Ini karena Raja Ampat sudah cukup sering disebutkan di berbagai artikel. Yuk, coba yang lain deh.

Destinasi Wisata Keliling Papua dengan Pengalaman Spektakuler

  1. Puncak Jayawijaya
sumber:trekpapua.com


Yap! Ini adalah salah satu puncak tertinggi dengan pengalaman yang sangat berbeda di Indonesia. Jayawijaya menawarkan puncak “berbalut” salju. Kawasan ini juga menjadi incaran pendaki gunung, tidak hanya dari Indonesia tetapi juga dari negeri-negeri lainnya. Dengan ketinggian 4.884 mdpl, wilayah puncak gunung tersebut benar-benar jadi pengalaman yang tak akan terlupakan. Bikin kamu makin cinta Indonesia karena Indonesia punya hampir “segalanya”.

  1. Danau Sentani
sumber:tirto.id

Jika di barat Indonesia terdapat Danau Toba, maka di timur ada Danau Sentani. Terbentang seluas 9 ribu hektar lebih, danau tersebut menawarkan sejuta keindahan menarik dengan hamparan 22 pulau kecil-kecil serta 24 desa yang berdiri mengeliingi danau tersebut. Yang unik dari danau ini lagi adalah keragaman ikan air tawar yang hidup di dalamnya dengan jumlah lebih dari 30 spesies. Di waktu-waktu tertentu, kamu dapat menyaksikan atraksi menarik dari berbagai festival yang sering diadakan di kawasan ini.

  1. Pulau Rumberpon
sumber:khajock.wordpress.com

Berbeda dengan Raja Ampat yang sering disebut sebagai “big paradise” maka Rumberpon disebut sebagai “little paradise”. Pulau tersebut dikelilingi oleh pantai yang menyembunyikan pesonanya dibalik hiasan padang ilalang dan pohon mangrove. Ada banyak kegiatan menarik yang bisa kamu lakukan di sini sebagaimana di pantai-pantai lainnya. Namun tentu saja pemandangan di pulau ini, khususnya wisata airnya, menghadirkan view yang lebih jernih lagi.

  1. Taman Nasional Teluk Cenderawasih
sumber: Moelyadi - telukcendrawasih-nationalpark.org

Sebagai ikon wisata Pulau Papua, kawasan konservasi ini wajib untuk kamu sambangi saat sudah sampai di pulau tersebut. Tidak hanya dijadikan tempat konservasi burung cenderawasih yang memang langka tetapi juga menjadi konservasi laut paling besar dan luas yang ada di Tanah Air! Oh ya, di kawasan yang sangat luas ini, kamu bakal temukan beberapa pulau menarik, seperti Pulau Nusrowi, Pulau Numfor dan Pulau Mioswaar dan Pulau Yoop serta lainnya.

  1. Lembah Baliem
sumber: Barry Kusuma - superadventure.co.id

 
Yang satu ini menghadirkan pengalaman yang tidak hanya untuk menikmati pemandangan alam saja tetapi interaksi mendalam. Di Lembah Baliem, kamu dapat berinteraksi dengan penduduk suku Dani, Lani dan Yali. Lokasinya ada di pegunungan Jayawijaya. Suku asli yang ada disana masih jauh dari sentuhan teknologi dan sebagainya. Orang-orang di sana masih menggunakan pakaian tradisional seperti koteka serta rok rumbai. Oh ya, as info, ada festival tahunan bernama Festival Lembah Baliem yang worth it untuk kamu saksikan.


Bicara Papua memang tidak ada habisnya dan bahkan bisa jadi masih ada yang baru lagi yang ditemukan! Kelima tempat di atas hanya sebagian kecil. Oleh karena itu, siapkan diri dari sekarang untuk terbang ke Papua. Trigana Air jadi salah satu maskapai paling direkomendasikan saat ini buat yang pengin menjelajah Papua. Happy exploring!

Viva Cosmetics Blogger Gathering And Factory Visit [Event Report]



Kalau ditanya pernah masuk pabrik? Jawabanku iya, pernah. Dulu sewaktu masih kecil sering diajak Bbiku buat ambil gaji di pabrik sumpit yang tak jauh dari rumah. Awal masuk sebuah gedung besar yang super menyeramkan bagiku. Kenapa? Sebab banyak sekali suara mesin-mesin yang mirip monster di film-film kartun. Mesin-mesin itu juga bisa menyulap produk-produk yang siap untuk dikemas. Setelah keluar dari mesin produknya jadi rapi dengan packaging yang aduhai.

Tuesday, 14 November 2017

Pengalaman Jadi Pembicara di Acara Sastra



Mbak, dulunya pernah mimpi menjadi seorang pembicara atau pemateri di acara sastra?

Tentu jawaban saya TIDAK PERNAH. Asal tahu saja, dulunya saya adalah orang introvert, jarang keluar rumah kalau dirasa nggak penting atau justru dapat memotong waktu saya secara sia-sia. Yup, akhirnya para tetangga bergunjing "Anggi tuh nggak pernah keluar rumah ya, pasti dia nggak punya temen, pasti dia males, palingan dia nggak bisa sosialisasi sama orang"

Hemm…

Hal itu membuat saya agak ‘bergejolak’ juga. Sebenarnya kalau dibilang nggak punya temen, temen saya tuh banyak bahkan di tiap kota insyaAllah ada. Mereka saya dapat karena sering kopdar penulis di berbagai kota. Hasil ikut acara-acara kepenulisan juga.
Simpelnya begini, tetangga saya memang tahunya pas saya di rumah dan mereka nggak pernah tahu pas saya keluar rumah. Karena kalau keluar rumah saya selalu keluar kota dan which is mereka jelas nggak ada yang memata-matai saya, hehe…

Namun untuk menjadi speakers saya tak pernah bermimpi untuk itu. Tapi seneng aja lihat orang yang bisa ngomong di hadapan orang banyak. Suka lihat mereka kok bisa menjawab pertanyaan apapun yang dilontarkan para audiens. Hebat ya mereka.

Pikiran itu muncul dan membuat saya pernah ikut kursus public speakers via online dan itu berbayar. Namun nasib saya tak semujur yang saya harapkan. Saya malah ditipu program tersebut yang tak kunjung memulai program sebelum akhirnya orang yang mengadakan program menghilang entah ke planet mana.

Selanjutnya saya ditawari menjadi narasumber untuk bedah buku saya, dan akhirnya saya pun cukup belajar bagaimana berbicara di hadapan orang dan saat itu semua pertanyaan bisa saya jawab karena saya penulis dari buku yang dibedah, tentu saja cukup mudah menjawabnya.

Berjalan waktu… saya ditawari sebuah acara yang terlalu besar bagi saya ketika saya menginjak semester 3. Ya, saya diminta mengisi workshopSastra dalam Lokalitas di UNISBA (Universitas Islam Balitar). Ini merupakan pengalaman saya mengisi acara di kampus orang lain dan banyak yang mengira saya sudah S2. WHOHOO…

Mbak S2 dimana, kok enak banget jawab pertanyaan peserta dan materinya selalu ada sumber rujukan dan hafal pendapat-pendapat sastrawan?

Ya, itu mungkin hasil dari MEMBACA. Yang jelas hobi membaca itu kini ada manfaatnya, bukan berarti saya sudah S-2, saya semester 3, jawab saya. Sontak ketua panitia tersebut yang memang beliau background-nya awal semester S-2 kaget. Lho, masa Mba? Semester 3 itu kan termasuk Maba (Mahasiswa Baru).

Saya hanya senyumin Mas-Mas tersebut.

Kesempatan lainnya datang dari SMA saya dulu yang akan mengadakan bedah buku dan langsung menawari saya untuk mengisi acara tersebut. ANGIN KEMBARA adalah buku saya yang akan dibedah waktu itu. Saya kira acaranya layaknya bedah buku biasanya lesehan, atau kursi yang dijejer sejajar. Dan wow… saya kaget pas hari H kalau penuh sesak satu aula.

Mas ini berapa pesertanya? tanya saya ke panitia.
200-an Mbak, lebih kayaknya ada yang tidak kebagian kursi dan masih kami usahakan.

Langsunglah saya deg-degan, apa bisa saya menghadapi orang sebanyak ini? Awal yang di UNISBA hanya 70-an orang dan di sini berlipat-lipat. Apakah saya bisa? Mencoba meyakinkan diri sendiri untuk santai saja itu agak susah ternyata. Dan sekaranglah terungkap yang beberapa kali bertanya ke saya apakah pernah deg-degan. Tentu pernah, saya juga manusia…

Awal memang agak tidak enak tapi menit selanjutnya mulai menguasai keadaan dan mulai enjoy untuk terus berbicara. Lega deh rasanya.

Nah, kembali tahun ini SMAN Mojoagung kembali menggelar acara serupa. Bedanya kali ini ada musikalisasi dari sastrawan Mojokerto Akhmad Fatoni dan penulis Madi Ar-ranim. Kali ini juga dengan jumlah 200-an peserta.

Dengan dimoderatori Agung, junior pramuka saya. Acara kali ini mengaitkan antara literasi dan prestasi. Apakah keterkitan literasi dan prestasi, bisakah berliterasi dan prestasi dilakukan salah satunya saja atau bagaimana cara mudah menyatukan kedua komponen tersebut. Bonus kiat-kiat menulis yang bisa mengalir itu semacam apa. Semua dikupas tuntas setajam silet, hihi…
Swafoto bareng Moderator

Moderator juga membuat ulah yang membuat saya agak kaget, yaitu berkolaborasi musikalisasi puisi dadakan. Ah, yang benar saja… karena sudah sering akhirnya bisa juga melewati rintangan ini.

Selain kegiatan di atas, saya juga pernah jadi pembicara di Terminal Sastra Mojokerto, Malam Puisi Sidoarjo, bedah buku di kampus, workshop menulis puisi di Mojowarno, juga acara-acara lain.

Memang semuanya dilakukan secara otodidak. Saya nggak jadi ikut kursus lho. Dan kita harus trial and error dulu sebelum akhirnya mengalami fase terbiasa, fase enjoy, fase menguasai materi pembicaraan dan lain sebagainya.


Mencoba adalah hal lebih baik daripada tidak mencobanya sama sekali.