Saturday, 13 January 2018

Mencicipi Pical Sikai, Kuliner Bukittinggi

Ada yang khas Bukittinggi, nggak Uda Fanz?

Tanya saya penasaran pada salah satu teman blogger yang bertemu di Panorama Medan Nan Bapaneh. Penyesalan itu akan muncul belakangan kalau saya tidak memanfaatkan waktu sebaik mungkin saat berada di Sumatera Barat ini. Jadi, meskipun perut sudah lumayan kenyang tapi tetap mengiyakan untuk melancong lagi, hehe... nggak kerasa betah juga di Sumbar. Banyak hal baru buat saya contohnya makan bajamba, kopi kawa, dll. 

Nah, akhirnya pertanyaan saya tadi dijawab sama Uda Fanz. Kita kemana nih...

Ada Warung Pical Sikai di dekat sini. Yuk, kita kesana!

Warung Pical Sikai ini wajib didatangi saat datang ke Bukittinggi, Sumatera Barat. Lokasi warung yang sudah berdiri sejak 1948 itu melengkapi keragaman kuliner kota kelahiran salah satu proklamator Indonesia, Bung Hatta.

penampaan Pical Sikai

Tempatnya memang tidak terlihat seperti restoran mewah, warungnya sederhana namun terasa menyenangkan. Sangat terasa bahwa tidak ada usaha untuk mendekor warung secara berlebihan; benar-benar otentik, bersih, dan apa adanya.  Menu utama yang dijual hanya dua jenis, pecel (pical) dan lamang tapai. Bahan baku pecel yang digunakan berbeda dengan yang ditemui di Pulau Jawa. Asli, bayangan awal saya adalah pecel yang biasa dijajakan tiap pagi di pinggir jalan di Jawa. Pas makanannya datang, barulah mengerti perbedaannya.

ini saya ketemu temen baru namanya Kak Ami dari Suliki

Pical Sikai menggunakan rebusan jantung pisang, rebung, pucuk daun ubi, kol rebus, kol mentah, dan sebagai pelengkap diberi keripik sanjay (singkong) dan kerupuk merah, dan akhirnya disiram dengan bumbu kacang. Bisa dibilang menu Pical Sikai ini adalah menu vegetarian. Saya bersyukur banget menemukan menu vegetarian, karena beberapa hari di Payakumbuh sudah makan makanan berlemak seperti ayam dan ikan yang pedas.

Bu Ade, pemilik warung


Namun bumbu kacang di Pical Sikai ini benar berbeda dengan pecel di Jawa. Rasanya berbeda, pical ini bumbu kacangnya agak encer ketimbang pecel di Jawa, bahkan menurutku seperti kuah kacang bukan bumbu kacang, tapi lidahku masih bisa menyantap dan menghabiskannya. Perbedaan lainnya tentu saja komposisi sayuran yang digunakan sebagai bahan isian pun berbeda. Kalau di Jawa terlihat hijau semua kalau ini putih karena didominasi dengan kubis.

Coba juga lamang tapai ketan hitam, karena di warung ini juga menjual lamang tapai. Paduan rasa antara gurih dan legitnya tapai ketan akan menjadi kenangan. Untuk camilan, mesti mencoba lepet pisang (nagasari) khas Pical Sikai. Lembut, gurih, dan legit. Harga makanan di Pical Sikai sangat bersahabat kok jadi jangan khawatir kantong jebol. Bahkan menurutku di Sumbar makanan harganya relative standar, termasuk di Pical Sikai ini. Seporsi pecel dan lamang tak lebih dari @Rp 15 ribu. Lepet pisangnya pun hanya Rp1.000/bungkus.
lamang tapai

Sajian di Pical Sikai menjadi variasi makanan khas Sumatera Barat yang didominasi santan.  Warung Pical Sikai dikelola Ibu Ade, generasi kedua. Orangtuanya memulai usaha sejak 1948 ketika berusia 16 tahun. Harus diakui bahwa konsistensi dalam mempertahankan kualitas telah membuat usaha Pical Sikai ini bertahan di tengah gempuran arus zaman. Rasa berbicara, dan para pengunjung pun menyebarkan kabarnya dari mulut ke mulut, tanpa Ibu Ade perlu repot-repot mengelola promosi melalui media massa ataupun kanal-kanal lainnya. Memang di warung ini pelanggan tak pernah surut hingga jam tutup pukul 18.00 WIB. Saya di sana sampai tutup lho, karena baru ke tempat itu sore hari, harusnya lebih awal.



Pical Sikai Bukittinggi buka mulai pukul  07.30 hingga 18.00. Lokasinya sedikit masuk gang di Jalan Panorama, satu deret dengan pintu masuk menuju Gua Jepang (salah satu objek wisata utama di Bukittinggi), atau tepat di depan Hotel Melindo.

Ah, saya jadi ingin ke sana lagi. Semoga bisa ke sana lagi bersama keluarga.


Warung Pical Sikai
Jl Panorama no.19c, Bukittinggi, Sumatra Barat
(Masuk gang depan Hotel Melindo)



1 comment :

  1. Enak ya kuliner nusantara emang bervariasi banget
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete