Tampilkan postingan dengan label Secangkir Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Secangkir Sajak. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Maret 2016

Betapapun Gerimis




















betapapun gerimis berlari
menggerus payah hati
yang menunggu hari surut
dari airmata dan darah
mengalir ke muara kasih;
Kekasih


kita hampir sampai puncak
airmata bianglala
yang sepersekian detik
menetes di atas sajadah

Aku ingin selalu terbalut rindu yang membeku
diantara ruang tempat kita mendulang masa
bicara soal rumah dan ranah bersemayam
celoteh kanak-kanak
saat senja menggoyangkan kursi di pelataran
: tanpa jeda, tanpa jarak


gerhana malam ini seolah candu bulat pada relung jiwaku. sedang temaram langit hunjami sepi ketika kupandang jauh ke arah timur; kupinang namamu dalam sunyi. tungku pertemuan rupanya masih terasa panas dan belum padam sama sekali. bahkan wirasa rindu menari gemulai di puncak ubun-ubun; ritual mukim hati


Payah hati, 2 Maret 2016

Senin, 15 Juni 2015

Sebuah Catatan


pada detik itulah kenangan mencuat
ketika dingin makin mencekat
menusuk ligamen tulang dan pori kulit
yang saling berdesakan
sumpah merah putih,
rasa korsa yang tak pernah luntur
hingga puncak akhir
paling lelah
dan kita lantangkan suara juang
di antara gerimis dan tangis
yang selalu hadir ketika matahari
membakar diri dengan asa paling nyala
kenang itu kini tergenang
mengendap dan ingin dimunculkan
ke permukaan. agar jadi obat, agar jadi candu
di sela liku-liku jalan yang menghambat
kesendirian dan kekosonganku
negeriku,
dwiwarna di pematang resah
yang payah mencumbu buana;
samudra kisah

Mojokerto, 2015
*ketika ingat paskibra
yang pernah mencumbu di sejenak waktu

Jumat, 20 Maret 2015

ARUS WAKTU

Ia memintal harap dan impian
sedang aku terpental
mengingat narasi siang itu
sandiwara di kota seksi
bergeliat diantara lampu kota
remang-remang

elegi di bawah awan gelap
dua katanya mantap
dan dada ini sesak
seketika itu aku membenci waktu
muasal segala belenggu
misteri yang belum terlucuti
tiga, empat, siapa tahu nanti

Ah, gelisah merenda seluruh hati
rasa ini meremasku
kerna sebentar sepi merenggutku
dalam kelu
akankah kutolak rindu
di tiap minggu pun ragu

Surabaya, 20 Maret 2015

Senin, 26 Januari 2015

Di Penghujung Senja

seratus jalan yang telah disediakan musim
warna pelangi yang mana
kan kau pilih di hatimu hari ini
sedang usia senantiasa menggulung; menipis
terkikis hampir habis

kaki mungil itu kini bisa menjajaki tanah
saksi atas cinta pada ranah
dan airmata tumpah ruah
ketika dunia berhasil kau duduki
dengan sejuta ambisi; tak terperi

"Langkahkan kaki itu sejauh mata memandang."
kulum semua remah-remah kehidupan
ketika itu semua terlihat dalam kesabaran
bukti atas pengabdian

pada masanya semua akan lenyap
mimpi, cita, cinta, dan harap
menguning senja dan pulang ke peraduannya
sesungging senyum hanyalah sisa-sisa
notulen hidup yang hampir sirna
kenangan akan terlupa
: seketika itu juga

Surabaya, 26 Januari 2015

Minggu, 18 Januari 2015

Pasca Hari Itu

: Elegi 11 Agustus 2014

Ketika nyala lampu remang terawang. Kedua orang itu mengadu wicara malam. Ia menanyakan isi hati yang belum rontok sampai sekarang. Sedang aku terdiam, mematung depan cermin dan bergumam pada jendela yang usianya empat kali usiaku. Terlebih mutiara hangat itu mulai meluncur dari bilik sumber airmataku. Jangan! Pilu dan kelu dalam lubuk sukma tiada kunjung musnah. Meski ia tak sadar akan kelasah dalam dada. Sekitar pukul delapan, buyarlah semua lungrah. Aku terperanjat dengan kisah dua tahun lamanya. Kelana yang tertaut dalam dirinya. Gelap hatiku ketika penat meyusuri tiap jengkal otot lurik dan otot polosku. Mitokondriaku tak lagi bersinergi, menggiling karbohidrat menjadi energi. Karena energiku telah pergi ...

Sabtu, 17 Januari 2015

Senandung Kecil untuk Nasta


Napas cintamu tiada kentara
Aku lungrah di balik dinding kisah
Sementara kau mencampur-aduk kenang lalu
Tuk memilah setiap jeda yang membelenggu
Aku
Ingin menyesap sedih pada renik matamu
Namun rasamu tiada tumpah pada waktu

Aku
Cintamu
Hidup di ujung duri sunyi
Masa yang hampir mati
Ataukah sajak yang memuisi
Dalam diri yang belum terlucuti

Akar rindu tak dapat tercabut lagi
Tak bisa dibabat, dipangkas
Tanpa mengulitinya amblas
Aku
Bendungan cahya mentari
Angin penyejuk hati
Nadi-nadi asa dalam diri
Intuisi yang tak pernah mati

Surabaya, 17 Januari 2015

Jumat, 07 November 2014

Lentera di Balik Hujan





Sebatas itu kau berada
Sebenarnya kau menyalahi dirimu sendiri
Kau menyalahi takdirmu sendiri
Mending jadi matahari atau rembulan
Terang menyinari
Jangan jadi korek api!
Kamu kian redup diteroa hujan
Aku tidak melihat egoisme dalam dirimu
Aku tidak melihat kata optimis dalam dirimu
Kamu hanya tertawa saat bersama
Dan kembali,
Sendiri dalam sunyi
Lenteraku
Kenapa? Kau bakar dirimu itu
Jelas tidak imapulata!

Surabaya, 4 November 2014

Pengungkapan




Selagu merdu nyanyian pagi
Mendayung jiwa ke ujung pelangi
Gelombang kenang membanting diri
:gemetar menitu sunyi

Berpendar asmara meneguk kelana
Mengadu samsara bertopang cakrawala
Kau bertudung sutra senja
Sayang berpulang pada-Mu jua

Di layar bingar bertukar sapa
Dalam mimpi Kau menjelma
Dalam hati Kau bertahta
:datang semasa

Libas habis waktuku!
Ah, bertukar rayu pun tak mau
Negosiasi kan kelabu
Surabaya, 4 November 2014

Kamis, 09 Oktober 2014

Ketika Api Melibas Puisi

Bagaimana jika api amarah melahap diri tanpa sisa?
Bahkan sajak ini pun ikut lebur bersama pekatnya jelaga
luluh-lantah hingga tiada kan tahu arah
merantau lama dalam ketiadaan

Tak puaskah merajut duka samsara dalam linang air mata?
yang mengubur dalam kedamaian dalam jurang kekecewaan semata
bahwa yang terukir tinggallah sisa-sia
: ampas dunia

kesendirian yang menentang segala,
mengadu penuh pertentangan dan wicara hati yang bungkam
tiada arti, tak terdengar dalam kelopak mimpi
metamorfosa tak bergulir lagi

membakar bait-bait lama yang tiada bertepi
puisi ini pun meruang dan memakan hati


Surabaya, 9 Oktober 2014
9:55 WIB

Senin, 06 Oktober 2014

Pengelana


Setiap yang tercipta akan lenyap
berlanjut pada pembaruan yang lebih sempurna
begitupun syair ini akan luluh
dan mengalir menuju ceruk muara yang disebut keakuan

daun jendela yang melambai
memanggil suara hati yang terdiam
membisu dalam sebuah ruang-ruang
sudut perhentian yang menjadi saksi ketiadaan

Ia merantau ke kota ke desa,
Pun menyusuri laut dan samodra
mencari pijakan yang sebenarnya maya
tak bertuan, tak berpenghuni, hanya akan menghamba

:pada semesta raya
jejaki buana
istana jiwa-jiwa pengelana
aksara

Surabaya, 6 Oktober 2014
20:36 WIB



Minggu, 28 September 2014

Rabu, 09 Juli 2014

ESOK PUN BERGANTI


: 9 Juli Esok

Esok yang menggulung berjuntai kenangan
yang menakar pada pucuk rembulan
Candu-candu kepahitan
sebentar lagi akan aku pulangkan
menggapai tujuan
Sudah saatnya melesatkan busur
keyakinan hati. Ketidakpedulianmu selama ini
melahirkan pembaharuan diri
Gugurlah segala ragu
Tumpahan pilu yang menderu
Terbukalah mata ini, mata hati
Hidup adalah untuk mengolah hidup
Hidup adalah cucuran peluh yang diperas,
diremas, dan diamplas
Tiada aku segan menatap bentang cakrawala
yang masih terbentang luas. Menjajaki samodra para dewa
Menerabas kabut semak belukar tanpa batas
Amblas!


Jombang, 8 Juli 2014
22:04

Minggu, 06 Juli 2014

Muara Terkasih




Oleh: Anggi Putri

Bulan penuh kemenangan,
Ia datang bertandang tiba
Nur Kasih-Nya pada hamba-hamba tercinta
Ia datang dari kemanisan madu kurma pahala

Berbondong-bondong meraih kebaikan
Bertarawih tuk genggam kenikmatan
Bahwa setiap detik adalah dentuman
yang berisi sari pati kehidupan

Suara-suara merdu tadarusan
Memecah keheningan alam
Hiasi malam penuh keindahan
Dalam diam kudengarkan
Suara siapakah gerangan?
Melenting indah dari kejauhan

Sujud selaksa ketenangan jiwa
Yang menentramkan hati para manusia
Ini bukanlah soal surga atau neraka
Karena hidup adalah samuderanya dewa

Aku tulis sajak ini,
Sebagai penyejuk hati
Sementara manusia akan berlari lagi
Menuju-Mu Yang Maha Suci

Jombang, 1 Juli 2014
04:42 WIB

Jumat, 04 Juli 2014

Rintihan Pepohonan



Tiadakah Kau segan?
Membantumu untuk terus bernapas
Akarku mencengkeram tanah agar tiada apa yang musnah
Tiadakkah kau segan semua itu wahai insan?

Diri ini tetap pilu, basah bersama manik-manik hujan
Kenangkanlah sejenis jasadku, jangan kau enggan
Aku hanya kau pandang sebagai semak yang tiada gunanya
Biarlah beku kedinginan di bawah cahaya rembulan
Menahan kepedihan dalam lindap malam

Maka aku pun pergi menatap wajah-wajah orang berjuta
Wajah legam yang menagis dalam kepiluan
Wajah kerumunan yang kehilangan sanak saudaranya
mengadu pada semesta yang enggan memandangnya

Wajah yang tiba-tiba menjerit melengking
merintih dan mengucap
Etalase pedih di kaki-kaki bukit
yang sekadar mencecap saripati kehidupan

Aku kalah ...
Aku kalah pada siapakah ini?

Jombang, 4 Juli 2014

Jumat, 06 Juni 2014

Berbalut Kasihmu




Di balik daun telingaku,
Aku mendengar halus kasihmu
Terayun-ayun dengan sejuta mimpi yang belum tercipta
Seulas senyum berbalut rindu

Dari ranah kota kecil tercinta,
Tuhan menitipkanku pada timangan wanita perkasa
Pada punggung yang senantiasa membanting tulang tiada henti
: dalam sebuah asa

Lelakumu, lelakuku
Kekata yang teruntai adalah semangat
Puja yang terangkai adalah payung kehangatan
Menuntun selalu tapak masa demi masa

Mulai fajar mengajarkan merangkak,
Hingga sang senja melukis arti kehidupan
Aku masih teteskan mutiara cinta
Untuk Bunda, jua Ayah

Sayang itu masih merenggutku?
Menenggelamkan dalam samudera rasa
Tiap rintik hujan yang menyapa
Daku bertasbih untuk Bunda

Tiap mentari bersinar terang,
Daku merapal puja pada semesta
: jiwa
Pada Muti Mahamulia,
Kusebut nama-nama di sepertiga malam
Seulas senyum yang membuat tidurku lelap
Pun sebuah risalah yang bangkitkan mimpi

Tiada kasih yang kian abadi
Kecuali kasih orang tua tercinta
: gelora