Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Personal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 April 2022

Toxic Work Culture: Pengalaman Tercebur dalam Perusahaan Toxic

sumber: freepik


Holla! Kali ini aku bakal cerita sedikit mengenai kerja di perusahaan toxic. Mungkin kamu sering mendengar istilah ini. Stres di tempat kerja sebenarnya wajar-wajar aja, kok. Saat kamu merasa lelah dan butuh istirahat, ternyata target belum tercapai, dikejar deadline, harus kerja ekstra, client yang agak ‘rewel’, dan hal-hal lainnya yang terasa sedikit menjengkelkan bisa aja justru terjadi. Well, kalau nggak stres mungkin keberadaan kamu sebagai manusia harus dipertanyakan.


Memang pekerjaan apapun dan dimana pun gak lepas dari risiko tercebur dalam perusahaan yang toxic dan hanya bikin sakit hati. Meski begitu, memang banyak tempat kerja di luar sana yang budaya kerjanya sehat dan selalu memprioritaskan karyawannya.


Oke, sebenarnya aku tuh orangnya kurang suka dengan hal-hal yang monoton, menjalankan kehidupan yang sama setiap harinya kayaknya bukan aku banget deh. Tapi, semenjak awal pandemi aku pun memutuskan untuk bekerja sebagai full time content writer di sebuah start-up dengan ritme 9am to 5pm.


Aku tak ada masalah apapun dengan jenis pekerjaannya, karena memang aku punya skill menulis yang cukup bagus (pede dulu kan ya). Aku pun sudah berpengalaman nulis konten kurang lebih 4 tahunan sebelum masuk di perusahaan tersebut. Sehingga aku tak ada hal yang memberatkan dengan pekerjaan. 


Hingga suatu hari aku mengetahui budaya perusahaan yang tak sejalan denganku. Kamu tahulah, sekalinya masuk perusahaan, sulit untuk keluar dan cari kerja baru. Begitu tahu gimana rasanya dapat rekan kerja atau boss toxic, kita jadi takut kalau mau melamar kerja. Sayangnya, serajin apapun kamu meneliti pas cari kerja, yang namanya perusahaan toxic itu baru ketahuan kalau kamu sudah diterima! 


Penulis Hyacinth mengemukakan bahwa toxic work culture adalah akumulasi atau kumpulan dari banyak faktor, yang umumnya merupakan kombinasi kepemimpinan yang buruk dan individu yang melestarikan budaya tersebut. Toksisitas di tempat kerja itu mahal, karyawan yang tidak bahagia dapat merugikan perusahaan.


Sebelumnya, aku mau ngejelasin beberapa ciri perusahaan toxic yang perlu kamu tahu juga dan bisa diwaspadai ya. 


1. Lebih banyak kehidupan kerja daripada kehidupan pribadi



Ini hal yang pertama aku rasakan. Bahkan saat hari libur masih mengurusi pekerjaan, saat inilah aku merasa budaya perusahaan yang mulai gak sehat. Meski aku memang orang yang senang bekerja keras, tapi semakin lama aku merasa pekerjaan memotong waktu pribadi bahkan merusak kebahagiaan.


Bahkan ada satu titik di suatu weekend aku tidak tidur selama 2 hari karena banyak pikiran dalam otak dan menyebabkan migrain yang sangat panjang. Terkadang sampai menangis sendiri dengan rasa sesak dalam dada karena menyayangkan kehidupan yang habis dengan bekerja tanpa ada space buat diri sendiri. 


2. Tidak Berkembang



Seiring berjalannya waktu, aku merasa berjalan di tempat dalam waktu yang cukup lama. Tak ada potensi yang berkembang, tak ada peningkatan skill, merasa gak bersemangat setiap hari. Padahal harapan ketika masuk kerja ingin menjadi pribadi yang berkembang dari segi potensi, skill dan keterampilan. 


Inginnya ada ilmu baru yang akan didapat dari senior atau bos tapi nihil. Bahkan aku belajar semuanya dengan otodidak dan jika ingin nambah skill ya harus ambil kursus online dengan budget pribadi. 


3. Bos yang Kejam

Aku percaya, seseorang yang punya kekuasaan lebih besar belum tentu punya jiwa kepemimpinan yang baik. Jika atasan sering menuntut untuk selalu setuju dengannya dan memberi tahu bahwa ia benar serta mengharapkan orang lain untuk menjadi sempurna “it’s a big no no”


Selain itu tak ada apresiasi yang diberikan ketika sudah melakukan banyak pekerjaan bahkan melakukannya dalam waktu yang singkat. Meski hanya sekadar ucapan “terima kasih, kerjamu bagus” syukur-syukur kalau ada bonus tambahan itu menjadi setitik semangat untuk bisa bangun dan bekerja lagi di hari selanjutnya. Namun, semua itu tak ada.


4. Salary yang Gak Kompetitif


Sebuah pekerjaan itu dilakukan dengan profesional bukan seperti kerja bakti yang hanya dilakukan sukarela. Sehingga semua hal seharusnya ada perhitungannya karena hal tersbut pun masuk sebagai profit perusahaan.


Jika salary sudah tidak kompetitif, rasanya sedih banget sudah bekerja keras tanpa diapresiasi selayaknya. Mungkin kamu tahu gimana rasanya sudah lembur sampai malam tapi gak ada uang lembur dan sudah merangkap 3 jobdesk tanpa kompensasi sama sekali.


“Biasanya, karyawan dengan kinerja yang paling baiklah yang akan menjadi pionir untuk hengkang dari tempat kerja.”


Ini sudah dilakukan oleh temanku terlebih dulu. Hingga aku pun sadar, aku tak bisa bertahan lebih lama lagi di dalam gua gelap ini. Aku tak bisa selalu egois pada diri sendiri dan terus menyiksa mental sendiri. Aku yakin aku punya skill dan masih banyak orang di luar sana yang membutuhkanku dengan skill yang kumiliki. 


Memang  sangat sulit mengubah budaya di tempat kerja, meski sudah berusaha melawan energi negatif di tempat kerja ini, tapi aku memilih mundur. Sepertinya cukup di sini energiku habis untuk melawan semua energi negatif itu dan bersikap egois pada diri sendiri. 

Namun, in the end ada hikmah yaitu gak boleh sembarangan masuk perusahaan dan jika sudah tahu toxic harus secepatnya keluar jika memang banyak hal yang sulit dipertimbangkan, jangan buang waktumu di situ, Bestie.


Mungkin kamu yang baca punya pengalaman yang sama, aku doakan semoga kuat dan bisa mendapatkan hal yang lebih baik di hari esok ya. Terima kasih sudah membaca tulisanku mengenai perusahaan toxic yang pada akhirnya aku yang menyerah dan memilih untuk kembali menjadi freelance writer agar bisa bernapas sejenak. 

Rabu, 29 Mei 2019

5 Alasan Mengikuti 12 Day Blog Challenge


Sebuah tantangan memang selalu menegangkan. Dulu, saya pernah mengikuti tantangan menulis fiksi, cukup mudah. Kemudian pernah juga 30 Nonstop Menulis Puisi alhamdulillah kelar juga. Dan di bulan Ramadan kali ini saya memberanikan diri untuk ikutan 12 Day Blog Challenge. Selama 12 hari nonstop menulis Blog sesuai dengan tema yang ditentukan. Gimana? Ya, menurut saya sangat seru. Apalagi tema yang digunakan di-share H-1. Salah satu alasan mengikuti 12 Day Blog Challenge yakni cukup menantang sehingga harus berpikir apa yang akan ditulis.

Selasa, 28 Mei 2019

Kurang Piknik atau Kurang Silaturahmi?



Sudah masuk ke Ramadan ke berapa nih? Sudah masuk 10 hari terakhir, alhamdulillah. Nah, jelang usainya bulan suci Ramadan, seberapa banyak temen-temen menyempatkan silaturahmi dengan kerabat maupun sahabat? Hm, kalau belum sama sekali perlu introspeksi diri nih. Masa belum ada undangan buka puasa bersama sama sekali. Pastinya sudah menumpuk undangan bukber, hanya saja bimbang mau memprioritaskan yang mana.

Senin, 27 Mei 2019

Apa Makanan Favorit Berbuka Kamu? Kalau Saya Sederhana


Setelah seharian puasa, pasti banyak yang mempersiapkan sajian istimewa untuk menu buka. Tapi,  tidak semua lho. Kalau saya di rumah, tentu saja Mama saya masak Apa sampai Z. Tapi,  kalau saya sedang di kost ya makan apa saja boleh. Entah saya ini sedang berpikir sebenarnya makanan favorit berbuka puasa apa. Belum menemukan jawaban. 

Sabtu, 25 Mei 2019

Selasa, 21 Mei 2019

Ramadan yang Dulu Bukanlah yang Sekarang, Lalu Apa Bedanya?



Sudah berbuka puasa malam ini? Alhamdulillah buat yang sudah. Nah, malam ini saya sedikit memasuki labirin-labirin waktu yang sudah berlalu. Bulan Puasa tahun lalu, dan tahun-tahun sebelumnya. Saat itulah menyimpan kenangan Ramadan berkesan dan tak terlupakan. Mungkin agak melankolis tulisan saya malam ini.

Senin, 20 Mei 2019

Sabtu, 18 Mei 2019

Menahan Diri Saat Ramadan Bisa Jadi Lebih Sulit daripada Menahan Lapar



Hai temen-temen semua, gimana puasanya? Masih lancar kan, ya. Pada dasarnya, puasa tidak hanya soal menahan lapar dan haus. Enggak hanya perubahan pola makan kita, tapi lebih dari itu. Puasa juga harus latihan mengendalikan diri dan mengelola emosi. Hmm, ini yang amat berattt. Bahkan lebih berat dari menahan diri dari diskon Ramadan *eh*. Menahan diri saat Ramadan seolah menjadi hal tersulit.

Jumat, 17 Mei 2019

Jalan-Jalan Saat Puasa Tanpa Menguras Tenaga? Bisa Kok!


Sudah hari ke berapa nih puasanya? Enggak terasa hampir setengah bulan Ramadan saja. Mungkin banyak orang yang menganggap kalau puasa itu bikin badan lemes, sehingga akan mengurangi aktivitas, lebih banyak tiduran, nonton YouTube, nonton TV, mager, atau nunda nyuci baju dengan alasan biar tenaga enggak habis. Hmm, gimana kalau kita ingin jalan-jalan saat puasa? Mau ditunda juga?

Kamis, 16 Mei 2019

5 Berkah Ramadan yang Saya Dapat Sejak Hari Pertama Puasa

foto di Yello Hotel Jemursari

Alhamdulillah, kita masih diberikan umur panjang sehingga bisa bertemu dengan Ramadan tahun 2019. Biasanya saat Ramadan suka males-malesan, ngantuk, dan mengundur-undur Deadline. Tapi, ada yang berbeda di Ramadan tahun ini. Saya banyak sekali Deadline tapi cukup rajin mengerjakannya. Peningkatan kan yak :D Selain itu, banyak berkah Ramadan yang saya dapat mulai hari pertama puasa lho. Nah, penasaran? Berikut saya rangkum berkah apa saja yang saya dapatkan dan patut disyukuri.

Jumat, 15 Maret 2019

Keseruan Ikut Blogger Day 2019 dan Mencoba Wahana Trans Studio Bandung


Berawal dari hobi, kenekatan, dan keinginan silaturahmi. Saya hanya berpikir sangat singkat hingga akhirnya memutuskan untuk mengikuti acara Blogger Day 2019 yang diselenggarakan komunitas tercinta BCC (Blogger Crony Community)

Sebuah hal yang tak pernah direncakan sebelumnya dan belum pernah terpikir kalau saya akan berangkat ke Bandung sebagai 100 blogger terpilih yang beruntung seseruan di Trans Studio Bandung dan bertemu teman-teman blogger Nusantara. Baiklah, begini ceritanya.

Selasa, 19 Februari 2019

Minggu, 17 Februari 2019

Pengalaman Ikut Unsa Ambassador Part 1: Melawan Senior?


Unsa Ambassador 2019

Holla, pada postingan kali ini saya tidak akan begitu formal karena memang berniat untuk bercerita pada kalian semua. Banyak yang nanya ke saya baik melalui Whatsapp, inbox, maupun DM di instagram (kok Geer-nya berasa artis). Nah, akhirnya saya akan berbagi sedikit pengalaman saya dari awal ikut Unsa Ambassador 2019.

Rabu, 15 Agustus 2018

Kamis, 24 Mei 2018

Kesibukan Selama Ramadan? Ini yang Saya Lakukan



Kesibukan hari biasa dan selama puasa memang sedikit berbeda. Ada beberapa hal yang saya fokuskan, meski saya pun tidak tahu apakah ini maksimal atau tidak.Hmm, apalagi setelah wisuda banyak waktu luang 'seharusnya'. Tapi, pada kenyataannya saya masih terbelenggu dengan waktu. Bahkan, ada beberapa hal yang tidak bisa saya lakukan.

Sabtu, 06 Januari 2018

Selasa, 12 Desember 2017

Sensasi Ikut Makan Bajamba di Ranah Minang



Sebelumnya banyak yang DM saya setelah melihat status saya yang pada tanggal 29 November kok unggah foto di Bandara Minangkabau.

Mbak traveling ya? Tapi setelahnya kok unggah foto rumah gadang, kok foto bareng Wakil Wali Kota, kok ada juga foto bareng penari bahkan sama sastrawan. Sebenere sampean lapo ke Sumatera Barat?

Baiklah, saya mau klarifikasi, cieelah bahasanya. Jadi, saya mendapat undangan ke Payakumbuh Botuang Festival yang acaranya tanggal 1-2 Desember 2017. Lha, kok berangkat tanggal 29 November? Iya, itu saya sengaja karena ingin berkunjung ke beberapa tempat dan ketemu teman dunia maya yang ingin saya tahu wujud asli mereka whuhahaha..

Dan lagi seperti biasa…

Sambil menyelam minum kopi.

Di Payakumbuh, setelah saya nomaden sebelum acara berlangsung, saya akhirnya ke tempat panitia di Balai Kaliki, Koto Nan Gadang. Lebih lengkapnya bisa langsung lihat Vlog Tour Room di Rumah Gadang Dt. Gindo Sinaro nan Kuniang di sini.

Perjalanan saya ke Padang-Bukittinggi-Payakumbuh akan saya tulis dalam beberapa Part agar enak dibaca dan tak terlalu panjang per postingan. As you can see on the tittle, kali ini mengenai makan bajamba yang saya alami di tanah Minang. Sebuah tradisi yang pertama kali saya ikuti. Sangat senang dong tentunya, karena tidak setiap hari tradisi ini digelar lho.

Apa sih Makan Bajamba?
Makan bajamba itu makan bersama-sama yang dibagi dalam kelompok-kelompok bisa berjumlah 5-7 orang di tiap lingkaran. Kali ini kelompok makan saya terdiri dari Bu Rina (Jakarta), Uni Ami (Suliki), Naff (Yunani), Sarah (Padang), Winni (Medan), Finni (Padang), dan Annisa (duh maaf, lupa dari mana). Tradisi ini juga dikenal sebagai makan barapak ini dilakukan masyarakat Minangkabau pada hari-hari besar keagamaan, pesta atau upacara adat, dan hal penting lain.



Ada hal-hal unik yang wajib dilakukan saat makan bajamba, nasi harus diambil sesuap saja dengan tangan kanan. Setelah ambil sedikit lauk pauk, nasi dimasukkan ke mulut dengan cara dilempar dalam jarak yang dekat. Ketika tangan kanan menyuap nasi, tangan kiri telah ada di bawahnya untuk menghindari kemungkinan tercecernya nasi. Jika nasi yang tercecer di tangan kiri, harus dipindahkan ke tangan kanan lalu dimasukkan ke mulut dengan cara yang sama. Oh, ya kami makan bajamba ini di tengah sawah yang baru saja dipanen.


Sebelum makan bajamba, menu makan dibawa masyarakat setempat dengan tampeh lalu diarak dari kampung ke sawah


Untuk menuju sawah yang dimaksud, kami harus berjalan sekitar 2 kilometer menaiki dan menuruni bukit. Setelah itu lewat beberapa pematang sawah yang hanya cukup untuk satu kaki. Seru-seru ngeri rasanya, jika jatuh ya wallahu alam, bercampur lumpur deh. Hal yang saya suka di Payakumbuh ini adalah setiap sawah pasti terdapat ekosistem belut yang jumlahnya tidak sedikit. Ada juga alat untuk menangkap belut yang biasa digunakan masyarakat setempat menangkapi belut, namanya Luka (luka-luka yang kurasakan, wkwk) semacam bambu berbentuk mirip jaring, cara pakainya tinggal ditanam ke dalam tanah. Tunggu 2-3 jam dan angkat. Voila! Sudah ada belut yang tercyduk.
Saat menanjak, semangat pagi

Selain hal di atas, ada yang menarik nih, disajikan pertunjukan pacu itiak (balap itik) dan silek lunau (4 orang pria bersilat di dalam lumpur) untuk memeriahkan dan menambah kekhasan acara Minangkabau ini.

Sangat bersyukur kepada Allah karena saya bisa terbang ke Sumbar dengan FREE Tiket Pesawat. Semuanya memanglah proses dan kerja keras. Dan hasil memang tak pernah mengkhianati proses. Reportase mengenai makan bajamba ini juga dimuat Koran Surya Rubrik Citizen Reporter jadi Headline 10 Desember 2017.




Selasa, 14 November 2017

Pengalaman Jadi Pembicara di Acara Sastra



Mbak, dulunya pernah mimpi menjadi seorang pembicara atau pemateri di acara sastra?

Tentu jawaban saya TIDAK PERNAH. Asal tahu saja, dulunya saya adalah orang introvert, jarang keluar rumah kalau dirasa nggak penting atau justru dapat memotong waktu saya secara sia-sia. Yup, akhirnya para tetangga bergunjing "Anggi tuh nggak pernah keluar rumah ya, pasti dia nggak punya temen, pasti dia males, palingan dia nggak bisa sosialisasi sama orang"

Hemm…

Hal itu membuat saya agak ‘bergejolak’ juga. Sebenarnya kalau dibilang nggak punya temen, temen saya tuh banyak bahkan di tiap kota insyaAllah ada. Mereka saya dapat karena sering kopdar penulis di berbagai kota. Hasil ikut acara-acara kepenulisan juga.
Simpelnya begini, tetangga saya memang tahunya pas saya di rumah dan mereka nggak pernah tahu pas saya keluar rumah. Karena kalau keluar rumah saya selalu keluar kota dan which is mereka jelas nggak ada yang memata-matai saya, hehe…

Namun untuk menjadi speakers saya tak pernah bermimpi untuk itu. Tapi seneng aja lihat orang yang bisa ngomong di hadapan orang banyak. Suka lihat mereka kok bisa menjawab pertanyaan apapun yang dilontarkan para audiens. Hebat ya mereka.

Pikiran itu muncul dan membuat saya pernah ikut kursus public speakers via online dan itu berbayar. Namun nasib saya tak semujur yang saya harapkan. Saya malah ditipu program tersebut yang tak kunjung memulai program sebelum akhirnya orang yang mengadakan program menghilang entah ke planet mana.

Selanjutnya saya ditawari menjadi narasumber untuk bedah buku saya, dan akhirnya saya pun cukup belajar bagaimana berbicara di hadapan orang dan saat itu semua pertanyaan bisa saya jawab karena saya penulis dari buku yang dibedah, tentu saja cukup mudah menjawabnya.

Berjalan waktu… saya ditawari sebuah acara yang terlalu besar bagi saya ketika saya menginjak semester 3. Ya, saya diminta mengisi workshopSastra dalam Lokalitas di UNISBA (Universitas Islam Balitar). Ini merupakan pengalaman saya mengisi acara di kampus orang lain dan banyak yang mengira saya sudah S2. WHOHOO…

Mbak S2 dimana, kok enak banget jawab pertanyaan peserta dan materinya selalu ada sumber rujukan dan hafal pendapat-pendapat sastrawan?

Ya, itu mungkin hasil dari MEMBACA. Yang jelas hobi membaca itu kini ada manfaatnya, bukan berarti saya sudah S-2, saya semester 3, jawab saya. Sontak ketua panitia tersebut yang memang beliau background-nya awal semester S-2 kaget. Lho, masa Mba? Semester 3 itu kan termasuk Maba (Mahasiswa Baru).

Saya hanya senyumin Mas-Mas tersebut.

Kesempatan lainnya datang dari SMA saya dulu yang akan mengadakan bedah buku dan langsung menawari saya untuk mengisi acara tersebut. ANGIN KEMBARA adalah buku saya yang akan dibedah waktu itu. Saya kira acaranya layaknya bedah buku biasanya lesehan, atau kursi yang dijejer sejajar. Dan wow… saya kaget pas hari H kalau penuh sesak satu aula.

Mas ini berapa pesertanya? tanya saya ke panitia.
200-an Mbak, lebih kayaknya ada yang tidak kebagian kursi dan masih kami usahakan.

Langsunglah saya deg-degan, apa bisa saya menghadapi orang sebanyak ini? Awal yang di UNISBA hanya 70-an orang dan di sini berlipat-lipat. Apakah saya bisa? Mencoba meyakinkan diri sendiri untuk santai saja itu agak susah ternyata. Dan sekaranglah terungkap yang beberapa kali bertanya ke saya apakah pernah deg-degan. Tentu pernah, saya juga manusia…

Awal memang agak tidak enak tapi menit selanjutnya mulai menguasai keadaan dan mulai enjoy untuk terus berbicara. Lega deh rasanya.

Nah, kembali tahun ini SMAN Mojoagung kembali menggelar acara serupa. Bedanya kali ini ada musikalisasi dari sastrawan Mojokerto Akhmad Fatoni dan penulis Madi Ar-ranim. Kali ini juga dengan jumlah 200-an peserta.

Dengan dimoderatori Agung, junior pramuka saya. Acara kali ini mengaitkan antara literasi dan prestasi. Apakah keterkitan literasi dan prestasi, bisakah berliterasi dan prestasi dilakukan salah satunya saja atau bagaimana cara mudah menyatukan kedua komponen tersebut. Bonus kiat-kiat menulis yang bisa mengalir itu semacam apa. Semua dikupas tuntas setajam silet, hihi…
Swafoto bareng Moderator

Moderator juga membuat ulah yang membuat saya agak kaget, yaitu berkolaborasi musikalisasi puisi dadakan. Ah, yang benar saja… karena sudah sering akhirnya bisa juga melewati rintangan ini.

Selain kegiatan di atas, saya juga pernah jadi pembicara di Terminal Sastra Mojokerto, Malam Puisi Sidoarjo, bedah buku di kampus, workshop menulis puisi di Mojowarno, juga acara-acara lain.

Memang semuanya dilakukan secara otodidak. Saya nggak jadi ikut kursus lho. Dan kita harus trial and error dulu sebelum akhirnya mengalami fase terbiasa, fase enjoy, fase menguasai materi pembicaraan dan lain sebagainya.


Mencoba adalah hal lebih baik daripada tidak mencobanya sama sekali.

Kamis, 09 November 2017

Diary PPL Part 5; Berpisah




Sebelum baca part ini sebaiknya baca part sebelumnya yah..

Diary PPL Part 4; Tak Siap untuk Merindu


Alhamdulillah ini akan menjadi tulisan Diary PPL saya yang terakhir. Yahhh kok terakhir sih, tambahin dong Kak.

Duhh, saya nggak bisa menambah ya. Sedih juga sebenarnya harus berakhir begini.

Dalam minggu terakhir PPL ini saya menjadi agak cengeng masalah 'PERPISAHAN' bahkan rencana penutupan yang memang akan digelar Kamis esok, saya ingin memundurkan menjadi minggu depannya lagi.



Eh, udah enak ini mau selesai. Nggak usah ditambah lagi, dah nggak betah. Begitu ucap salah seorang teman seperjuangan PPL. Saya pun hanya tersenyum kecut.

Ya. mungkin kau tak betah dan ada alasannya tentunya. Tapi, aku sudah merasa nyaman dengan murid-muridku. Mereka seperti adik dan teman saja bagiku. Mereka pun menghormatiku dan senang tiap kali aku mengajar mereka. Apapun materinya, mereka selalu menuruti kegiatan yang ingin kubuat.

Iya, itu kan muridmu... kalau aku wis males. Lelahhh...

Hm, ya sudahlah tiap orang bisa mengutarakan isi hatinya masing-masing kok.

------
bersama Ernes Mo dan Stefany Ananda uyee...

Sampai saya masih nggak rela waktu itu harus di-cut ngajar hari Selasa. Penutupan atau pamitan dengan mereka tepat di hari Selasa tapi sebenarnya Rabu masih ada jadwal. Otomatis mereka protes berjamaah minta Rabu juga masih ngajar. Tapi apalah daya guru pamong meminta agar saya selesai di Selasa.

Dan itu masih beruntung karena awalnya terakhir adalah Hari Rabu sebelumnya, namun saya ditambah satu materi teks ceramah sehingga bisa agak panjang satu pertemuan. Waktu perpisahan macam-macam komentar mereka sih.

Bu, ngajar disini aja
Bu jangan pulang dong Bu... ngajar kami terus
Bu, ngajar sampe kita naik kelas aja

Ah, kalian so sweet banget. Tapi, mohon maaf saya tidak bisa... benar-benar tak bisa menyalahi aturan yang sudah dibuat pihak sekolah dan universitas. Semoga setelah ini kalian mengerti Arti Cara Belajar Bahasa Indonesia yang Menyenangkan.

Semoga semua sukses dan mendapatkan impian yang diinginkan. Jangan sungkan untuk chat, DM, WA atau apapun itu selagi kita masih hidup.



Kamis, 02 November 2017

Diary PPL Part 4; Tak Siap untuk Merindu



Bu, Azzam makan nih Bu...Azzam, nanti saja makannya.Iya, Bu,'jawabnya dengan cengengesan

Wahhh, nggak terasa ini minggu keempat di sekolah ini. Pikiran saya mulai tak karuan. Hanya satu minggu di depan langkah dan akhirnya tugas ini akan selesai, itu artinya... saya tak bisa melihat tawa renyah mereka lagi, tak bisa merasakan angin sepoi-sepoi dari kebun belakang kelas, tak bisa menggoda mereka lagi. Ah, pikiran itu hanya membuat ketakutan-ketakutan menggumpal.
saya suka semua hasil daur ulangnya

Di minggu keempat ini akhir dari bab Teks Eksplanasi. Mereka harus membuat teks eksplanasi dengan susunan struktur yang benar serta isi yang logis plus sistematis. Mudah kedengarannya kan 'wong ya tinggal buat' jare Simbah, hehe... 

Kenyataannya, saya pusing memikirkan media pembelajaran yang menarik agar proses memproduksi teks menjadi suatu hal yang menarik dan tidak 'itu-itu saja' Akhirnya saya buat rantai peristiwa. Saya membuat/menggunting kertas hampir 100 buah belum lagi menali dan menggabungkan kertas satu dengan yang lain. Selain itu masih harus menempelkan tema-tema berupa gambar ke kertas tersebut. Lalu... masih ada lagi nih, saya masukkan ke dalam amplop sebanyak 10 amplop.Fiuhhhh....

para Cogan/cowok ganteng lagi diskusi

Diary PPL Part 1; Oh My God


Meskipun ribet setengah mati, akhirnya selesai pukul 02.00 Yeyy ternyata sudah pagi. Dan saya tidur 2 jam kemudian bersiap ke sekolah. Mereka Rupanya cukup penasaran dengan media kali ini. Media rantai peristiwa ini akhirnya membuahkan hasil dengan tulisan mereka yang rapi di dalam kertas dan sesuai struktur. Syukur deh...


Minggu ini pula SMAN 12 Surabaya untuk pertama kalinya mengadakan ESO yang merupakan singkatan dari Eco Smandalas Olympic. Saya mengamati anak-anak XI IPA 7 yang antusias dengan acara ini dengan 'tercyduknya' Valerie, Raflie, Rieldo sebagai panitia (lainnya saya nggak liat) dan Stefanni Hildegard sebagai host yang kipas-kipas terus karena kepanasan. Dan saya baru tahu juga kalau Bagas ikut di Rolas Fighter menyanyikan lagu mengharukan... begini cuplikan lagunya

Diary PPL Part 2: Kalian Unik

ada akan tiadabertemu akan berpisahsemua kan berakhirterbit kan tenggelampasang akan surut
hei sampai jumpa di lain hariuntuk kita bertemu lagikurela dirimu pergi
meskipun ku tak siap untuk merinduku tak siap untuk menunggu....





Sampai sekarang rasanya lagu itu masih terngiang di kepala deh, hehe... dan saya akan selalu merindukan kalian, seolah tak ingin melangkah pergi dan ingin menoleh lagi.

Diary PPL Part 3 : Sebuah Keluarga


Dalam kegitan ESO itu banyak hal yang saya petik dari kreativitas anak SMP dan tentunya panitia yang betapa semangatnya mengadakan olimpiade lingkungan perdana. Apalagi tidak hanya satu lomba namun ada tiga/kalau tak salah.



Minggu keempat ini rasanya pokoknya ingin berjalan lambat saja agar ada banyak waktu bersama Nurul, Stefanni yang ada 3 itu, dengan semuanya... I love and proud of you, guys.