Rabu, 18 Oktober 2017

Diary PPL Part 2: Kalian Unik

          


Kali ini saya mau melanjutkan cerita tentang PPL di minggu kedua. Penasaran nggak? Kalau nggak ada yang penasaran saya nggak jadi cerita nih :D

Baiklah minggu kedua saya sudah mulai bisa beradaptasi dengan mereka. Sikap mereka yang lucu membuat saya betah dan ingin segera menuju kelas XI IPA-7 tiap kali ada bunyi informasi: Jam ke-5 segera dimulai, relakskan diri anda sejenak dan konsentrasi pada mata pelajaran berikutnya … tingg… tungg … tingg


Bel pergantian belnya sungguh sangat persis seperti di stasiun kereta, apalagi di belakang sekolah terdapat dua jalur kereta yang sesekali kereta akan lewat dan suara gerbong-gerbong itu membuat telinga saya sudah kebal. Akhirnya saya sangat merasa kalau ini stasiun #eh ini sekolah, hehe…

Sebelum saya memasuki ruang kelas, beberapa siswa laki-laki sudah melihat saya dari depan kelas dan berlari menghampiri saya. Sedangkan ada beberapa siswa perempuan yang kemudian bersalaman dengan saya. Sedang yang dilakukan siswa laki-laki itu bertanya,"Bu, biar saya bawakan," ucapnya sambil menyambar map presensi dan beberapa buku yang saya bawa.

Diary PPL Part 1; Oh My God

Saya tersenyum dengan tingkah mereka. Dalam hati, saya berfirasat kalau mereka sudah mulai terbiasa dengan kehadiran saya. Masuk kelas saya presensi merekea, seperti biasa saya panggil nama mereka satu per satu dan saya mencoba menghafal lagi. Pertemuan itu saya mulai tahu yang mana Dean, Nurul, Stefanny Hildegard, Ernes, Calvin, Azzam, Dimas, Emer, dan Dea. Yeyy! Minggu ini saya menghafal banyak. Saya juga mulai bisa membedakan Stefany yang jumlahnya 4 orang #abaikan

Guru pamong datang tepat setelah saya selesai mengucap nama Valerie, nama terakhir di kelas tersebut. Saya memulai pelajaran dengan santai dan mencoba mengatur waktu. Media saya kali ini adalah …. Mereka nampaknya penasaran hari ini kita akan melakukan hal apalagi dengan teks eksplanasi. Malam sebelumnya saya sudah mencari teks berbagai tema, mengulitinya *eh tentu saja tidak, saya menggunting bagian per bagiannya sesuai struktur kemudian saya acak lalu saya juga siapkan kertas buffalo dan lem agar mereka menyusunnya kembali.

Rupanya anak SMA juga merindukan keterampilan menempel layaknya anak TK. Mungkin itulah yang sedikit bisa menghilangkan stress. Bahkan ada yang rela menghias kertas buffalo yang sudah tertempel teks itu dengan aneka coretan. Saya sangat mengapresiasi mereka. Tentu.

Saya membahas satu per satu, rupanya jadi asyik saat ada kelompok yang susunannya terbalik. Dari kesalahan itulah maka bisa mengetahui yang benar. Kesalahan bisa menjadi pembelajaran agar kita tak mengulangnya kembali.



Saya agak merasa lucu dengan Pamuji, dia selalu menganggap saya kurang perhatian padanya. Sesekali waktu saya selalu menghampiri tempat duduknya, mengingatkan agar dia memakai sepatu dengan benar, duduk dengan benar, dan lain sebagainya. Namun di akhir pertemuan pesan darinya membuat saya tertawa namun juga suka dengan dirinya.

Sedang Bagas, dia sangat keberatan karena saya murah senyum karena katanya, dia menjadi ingin menatap saya kalau saya tersenyum. Wah :D dia cukup aktif bertanya jika tak mengerti dengan soal yang terlalu rumit.

Minggu kedua saya juga mengajar di hari Rabu dengan teks yang berbeda. Guru Pamong cukup baik memperbolehkan mengisi di hari Rabu meski tak masuk hitungan di laporan. Tujuannya agar saya dekat dengan anak-anak, agar saya cepat hafal mereka semua, juga agar saya mengetahui berbagai karakter mereka satu per satu. Ah, saya juga hafal Ari dan Fairuz (baca ceramahnya seperti bang Roma), juga Hana Amanda karena kalau nggak salah dia membawa boneka waktu itu.


Baiklah, minggu kedua yang berkesan ini memang benar-benar tak bisa lagi diulang atau dibolak-balik seperti menggoreng tempe. Namun tak apa, semua adalah histori yang menyenangkan.

2 komentar :