Tampilkan postingan dengan label JEJAK (MEDIA). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JEJAK (MEDIA). Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Juni 2019

3 Pemuatan dan Menang Challenge Setelah Sakit Seminggu, Ini Penampakannya!


Produktivitas menulis seseorang memang berbeda-beda. Begitu juga mood menulis setiap orang tidak melulu naik. Ada saatnya mood tersebut sangat buruk sehingga membuat malas menulis. Bukan tidak ada ide, tapi malas melanjutkan hingga tamat. Apakah temen-temen pernah mengalaminya? Kalau begitu kita idem, haha. 

Rabu, 21 November 2018

Cara Kirim Puisi ke Koran Dinamikanews | Pemuatan Puisi Anggi Putri Edisi 420

Anggi Putri

Mungkin banyak yang bertanya, Kak kok nggak lihat tulisan di koran lagi. Hmm, saya agak gimana gitu baca pertanyaan kamu. Baiklah, akan saya jawab dengan cukup sederhana. Saat ini saya masih dalam masa transisi, dimana banyak hal yang ingin saya coba kerjakan tapi waktu tidak memungkinkan. Apa kamu pernah juga berada di posisi yang sama? Jika belum, rasanya sangat menyenangkan mungkin buatmu.

Baiklah, akhirnya saya memenuhi permintaan netijen untuk semangat nulis puisi. Jika kamu kangen dengan puisiku bisa searching di blog ini atau cari saja di internet dengan kata kunci: Puisi Anggi Putri. Semoga keluar puisi saya di sana.

ALAMAT MEDIA YANG MENERIMA KARYA


Kali ini saya mengirim ke koran Dinamikanews. Meski koran lokal dan tidak berhonor, namun saya cukup apresiasi dengan hadirnya kembali dan perbaikan sistem dari mereka. Yups, sebenarnya dahulu kala saya sudah pernah dimuat oleh koran ini tapi setelah itu mereka sudah tidak menyediakan lembar budaya.

Assalamualaikum. Selamat siang.
Naskah puisi anda sdh kami terima. Sedang kami baca dan kurasi. Terima kasih. 

Barlan Guntoro|Redaktur Sastra

Setelah kehadirannya lagi di kancah kesusastraan ini, rupanya perbaikan sistemnya cukup bagus. Saya sangat merekomendasikan buat kamu para pemula yang belajar menulis puisi dan ingin tulisan masuk koran. Koran Dinamikanews ini bisa menjadi wadah yang tepat. Kenapa? Karena kalian akan mendapat balasan naskahmu akan direview pihak redaktur dan kamu disuruh menunggu. Nah, sisanya tunggulah barang 2 minggu. Jika dimuat Alhamdulillah, jika tidak ya wasyukurillah. Semua pasti ada hikmahnya.

Alamat email Dinamikanews: dinamikanews@yahoo.co.id

Kamu harus kirim 10 puisi dan jangan lupa untuk menyertakan biodata narasi di akhir naskahmu (masih dalam satu file). Jika masih bingung bisa baca:

TUTORIAL KIRIM KARYA KE MEDIA


Berikut akan saya cantumkan beberapa puisi yang dimuat, barangkali di gambar kurang jelas.

Kenang Terkenang

kenanglah hingga hilang,
meski hidup hanya menjanjikan sesaat
dan ketimpangan-ketimpangan yang sederhana
manusia hanya secarik kertas
dengan titik di atasnya, meski
banyak hasrat tersungkur di jari-jari
dan keinginan hanya sebatas pintu kota
yang sulit dibuka semua

diamlah, hingga subuh terdengar mesra
di antara barang bunga tulip
segenggam asa, di antara embun jatuh
tak ada kata runtuh
hingga sinar pagi menjemput
orang-orang untuk menjajakan kenangan

Sby, 29 Oktober 2018


Epilog

telah usai kutanak air mata
untukmu. senja pun gugur di dada
bersama akar-akar gelisah yang melata
dan rasa sakit yang berubah jadi samudra

sudah selaksa waktu sangsai
mengasah usiamu yang berhenti
di ufuk rindu. biar kutabur kenangan
tepat di atas ranah kepulangan
yang sebenarnya telah terbakar ingatan

kuhidu sekali lagi aroma kembang
yang kelopaknya menyelimutimu,
 menyelimuti memori, hati, dan dunia
 sudah berbeda; kau lebur dalam doa

Jombang, 23 Juni 2018

Suatu Petang

pecahan matamu telah kubaca
mulai cerita musim dimana
hari berpulang, begitu cepat tanpa diksi
senja mati terbakar sepi

kuhidangkan secangkir kopi
dan obrolan petang meski matamu
masih saja tergenang
bersama potongan-potongan gerbong kereta
 perjalanan, mimpi, cita, dan lamunan usang
doa subuh telah hangat di tungkumu
 meski genggamanku sebatas ilusi
datang dan pergi
dan kutatap kau terus menyeruput air mata;
kepergian abadi

 Jombang, 23 Juni 2018



Selasa, 26 Juni 2018

Selasa, 17 April 2018

Puisi-Puisi Anggi Putri - Radar Surabaya edisi Minggu, 8 April 2018

Selamat membaca puisi-puisi saya di Radar Surabaya edisi Minggu, 8 April 2018


.
Ini kali ketiga puisi saya dimuat Radar Surabaya tapi soal honor belum satu pun yang cair. Mohon bagi kawan-kawan yang tahu berikan saya info ke salah satu sosial media saya. Terima kasih.

Puisi-puisi ini lupa saya kirim kapan yang jelas sudah lama. Mungkin kode alam disuruh untuk produktif kembali. Baiklah, semoga.

Selasa, 13 Maret 2018

Puisi Anggi Putri di Koran Suara Merdeka 4 Maret 2018


Sebenarnya saya hanya iseng kirim karena masih agak gimana kalau nggak diterima. Akhirnya hari Rabu saya mengirim 7 buah puisi itupun puisi yang saya tulis karena ada tantangan 7 hari menulis puisi. Saya juga tidak tahu karakter puisi yang diinginkan oleh koran Sura Merdeka atau SM ini, namun beberapa teman penulis mendesak saya agar segera mengirim.

Rabu malam puisi saya terkirim. Hari minggu ada kabar sudah dimuat. Tentu saja saya kaget, secepat itukah. Kadang saja koran lokal bisa 2 minggu baru dimuat. Ya, mungkin ini keberuntungan yang sedang berpihak pada saya. Apapun itu patutlah bersyukur.

Satu diantara puisi yang termuat dalam koran SM ini saya persembahkan untuk seseorang yang akhir-akhir ini menjadi penyemangat saya dalam berkarya dan bergerak.

Email SM; swarasastra@gmail.com jika sahabat semua juga mencoba kirim. Ingin kirim ke koran lain baca di sini

Omong-omong SM ini ada honornya tapi konon katanya sangat sulit cair dan harus menagih berkali-kali. Sampai saat ini saya juga berusaha mencairkannya, jika sahabat semua pernah dimuat dan bisa cair bisa sekali infokan ke saya bagaimana caranya. Terima kasih dan selamat membaca puisi-puisi saya.

Satu diantaranya saya letakkan sini.

TERGENANG
kudengar napasmu sebelum jubah malam pulang

mengantar wicara yang beringsut 
pada akar kesunyian. hingga segala tergenang
menjadi sepotong harapan 
membusur panah ke jantung waktu

masih kudengar napasmu sebelum mimpi menjemput

kulihat wajahmu terlelap di seberang kota
sebelum pagi bermandikan intrik 
pada jalan-jalan sepi

masih kuingin dengar napasmu

hingga musim tak menentu
hingga surut seluruh ragu;
dirimu



Surabaya, 14 Februari 2018

Sabtu, 20 Januari 2018

Puisi-Puisi Anggi Putri Radar Mojokerto edisi 14 Januari 2018

Tahun 2017 sudah tertutup dengan rapi bukan berarti sudah selesai semua hal. Pembukaan tahun 2018 membuat saya harus ekstra menjadi lebih baik dari tahun 2017. Tentang apa, ya tentang segala hal khususnya dalam produktif berkarya. Meskipun awal tahun 2018 ini saya disibukkan oleh pekerjaan skripsi dan beberapa hal lain, tapi tak boleh menyurutkan semangat untuk terus ngeblog dan berkarya di media. Saya akan menyempatkan waktu untuk tetap produktif. Semoga kawan-kawan yang membaca tulisan-tulisan saya juga ikut BERGERAK bersama.



Harapan saya, kawan-kawan yang baca blog tidak hanya jadi silent reader tapi juga ikut komen sekadar saling sharing atau memberi saran terhadap isi tulisan saya yang masih berproses ini hingga selanjutnya dapat meningkatkan passion menulis kita bersama.

Alhamdulillah, tahun 2018 ini ada puisi-puisi saya yang tayang di Radar Mojokerto pada Minggu, 14 Januari 2018. Sebuah pembuka tahun yang apik. Semoga bisa terus berkarya.

Berikut beberapa puisi di dalamnya.


Entitas Waktu
: Handz

aku mengenalmu sebagai pagi yang
berpendar ke segala mata angin
membuatku lesat bersama embun
yang menetes di atas bebatuan licin

kedua retina yang menjadi tempat
pertumpahan keluh kesah, gigil kesunyian
dari mata paling ranum yang kau tawarkan
pesan yang tak sempat kupandang;
lamat-lamat itu berubah jadi sekotak debar

seribu angin dan musim telah gugur
sekat dan waktu melepuh jadi debu
tapi kutahu, kau akan terus berjalan
menebas batas-batas kenyataan
mnenggelamkan mimpi buruk dan kegelisahan

sederhada, berpikirlah tentang sebuah peta
berpikirlah tentang labirin senja
berpikirlah tentang perjamuan dermaga
berpikirlah tentang kita—


Surabaya, 8 Januari 2018


Kalau Ada Waktuku

kalau ada waktuku, kenanglah
ada ribuan kata yang pulang ke muasalnya
menyaksikan perdebatan, kesepakatan, dan rayuan
mengobati geletar duka yang lama membusuk
dan tak henti-hentinya berteriak

hidup akan mengental seperti luka tanpa darah
dan air yang datang dari hilir mencari jalan
agar sampai pada sebongkah tujuan
begitu jauh langkah yang dibuat
begitu kau harus mengingat

Surabaya, 8 Januari 2018

Selasa, 12 Desember 2017

Sensasi Ikut Makan Bajamba di Ranah Minang



Sebelumnya banyak yang DM saya setelah melihat status saya yang pada tanggal 29 November kok unggah foto di Bandara Minangkabau.

Mbak traveling ya? Tapi setelahnya kok unggah foto rumah gadang, kok foto bareng Wakil Wali Kota, kok ada juga foto bareng penari bahkan sama sastrawan. Sebenere sampean lapo ke Sumatera Barat?

Baiklah, saya mau klarifikasi, cieelah bahasanya. Jadi, saya mendapat undangan ke Payakumbuh Botuang Festival yang acaranya tanggal 1-2 Desember 2017. Lha, kok berangkat tanggal 29 November? Iya, itu saya sengaja karena ingin berkunjung ke beberapa tempat dan ketemu teman dunia maya yang ingin saya tahu wujud asli mereka whuhahaha..

Dan lagi seperti biasa…

Sambil menyelam minum kopi.

Di Payakumbuh, setelah saya nomaden sebelum acara berlangsung, saya akhirnya ke tempat panitia di Balai Kaliki, Koto Nan Gadang. Lebih lengkapnya bisa langsung lihat Vlog Tour Room di Rumah Gadang Dt. Gindo Sinaro nan Kuniang di sini.

Perjalanan saya ke Padang-Bukittinggi-Payakumbuh akan saya tulis dalam beberapa Part agar enak dibaca dan tak terlalu panjang per postingan. As you can see on the tittle, kali ini mengenai makan bajamba yang saya alami di tanah Minang. Sebuah tradisi yang pertama kali saya ikuti. Sangat senang dong tentunya, karena tidak setiap hari tradisi ini digelar lho.

Apa sih Makan Bajamba?
Makan bajamba itu makan bersama-sama yang dibagi dalam kelompok-kelompok bisa berjumlah 5-7 orang di tiap lingkaran. Kali ini kelompok makan saya terdiri dari Bu Rina (Jakarta), Uni Ami (Suliki), Naff (Yunani), Sarah (Padang), Winni (Medan), Finni (Padang), dan Annisa (duh maaf, lupa dari mana). Tradisi ini juga dikenal sebagai makan barapak ini dilakukan masyarakat Minangkabau pada hari-hari besar keagamaan, pesta atau upacara adat, dan hal penting lain.



Ada hal-hal unik yang wajib dilakukan saat makan bajamba, nasi harus diambil sesuap saja dengan tangan kanan. Setelah ambil sedikit lauk pauk, nasi dimasukkan ke mulut dengan cara dilempar dalam jarak yang dekat. Ketika tangan kanan menyuap nasi, tangan kiri telah ada di bawahnya untuk menghindari kemungkinan tercecernya nasi. Jika nasi yang tercecer di tangan kiri, harus dipindahkan ke tangan kanan lalu dimasukkan ke mulut dengan cara yang sama. Oh, ya kami makan bajamba ini di tengah sawah yang baru saja dipanen.


Sebelum makan bajamba, menu makan dibawa masyarakat setempat dengan tampeh lalu diarak dari kampung ke sawah


Untuk menuju sawah yang dimaksud, kami harus berjalan sekitar 2 kilometer menaiki dan menuruni bukit. Setelah itu lewat beberapa pematang sawah yang hanya cukup untuk satu kaki. Seru-seru ngeri rasanya, jika jatuh ya wallahu alam, bercampur lumpur deh. Hal yang saya suka di Payakumbuh ini adalah setiap sawah pasti terdapat ekosistem belut yang jumlahnya tidak sedikit. Ada juga alat untuk menangkap belut yang biasa digunakan masyarakat setempat menangkapi belut, namanya Luka (luka-luka yang kurasakan, wkwk) semacam bambu berbentuk mirip jaring, cara pakainya tinggal ditanam ke dalam tanah. Tunggu 2-3 jam dan angkat. Voila! Sudah ada belut yang tercyduk.
Saat menanjak, semangat pagi

Selain hal di atas, ada yang menarik nih, disajikan pertunjukan pacu itiak (balap itik) dan silek lunau (4 orang pria bersilat di dalam lumpur) untuk memeriahkan dan menambah kekhasan acara Minangkabau ini.

Sangat bersyukur kepada Allah karena saya bisa terbang ke Sumbar dengan FREE Tiket Pesawat. Semuanya memanglah proses dan kerja keras. Dan hasil memang tak pernah mengkhianati proses. Reportase mengenai makan bajamba ini juga dimuat Koran Surya Rubrik Citizen Reporter jadi Headline 10 Desember 2017.




Kamis, 01 Juni 2017

ALAMAT MEDIA YANG MENERIMA KARYA



Holla, karena banyak yang bertanya kepada saya melalui e-mail ataupun inbox maka agar saya tidak menjawabnya satu per satu, maka saya akan tulis di sini. Mungkin teman-teman ingin menulis dan mengirim ke media bisa langsung melihat surel-nya di bawah ini.

Selain karena belum mengetahui langkah-langkahnya, sebagian cenderung malu bahkan takut bertanya. Berikut alamat-alamat media massa yang menerima naskah Cerita Pendek (Cerpen), Sajak (Puisi), dan atau karya-karya lainnya:

Selasa, 25 April 2017

Pemuatan Esai Kesadaran Tradisi Literasi - RADAR MOJOKERTO 9 APRIL 2017


Alhamdulillah Esai saya mengenai Kesadaran Berliterasi dimuat Radar Mojokertoi 9 April 2017

Teman-teman yang ingin mengirimkan karya ke media tersebut bisa melalui surel; opini_darmo@gmail.com menerima esai, resensi buku, puisi, cerpen, oipini, dan cerma. Yuk mulai menulis.


Salam literasi. Tabik.

Minggu, 06 November 2016

Senin, 26 September 2016

Ruang Budaya "Rakyat Sumbar" 24 September 2016

Holla! Alhamdulillah ini minggu ketiga bulan September, puisi saya dimuat tiga minggu berturut-turut. Jangan tanya apakah saya kirim tiap minggu, jawabannya pasti TIDAK. Saya kirim sudah lama sekitar bulan Agustus beberapa puisi ke beberapa media. Setelah menanti dengan sabar dan tenang, inilah hasilnya. 

Berikut daftar muat lengkapnya:

Ruang Budaya Harian "Rakyat Sumbar" (Group JPNN) edisi Sabtu, 24 September 2016. Cerpen "Sumur Belakang Rumah" (Epon Putra). Puisi-puisi Anggi Putri ("Dua Mata", "Percakapan Malam", "Isyarat Tua"). Esai "Puisi dan Jiwa yang Galau" (Edi Warsidi).


Minggu, 18 September 2016

Puisi Radar Surabaya 18 September 2016

Setelah minggu lalu puisi-puisi saya dimuat Duta Masyarakat, kali ini masih di kawasan Surabaya yakni Radar Surabaya. Ini kali kedua puisi-puisi saya nangkring di koran ini. Yang (katanya) ada honor pemuatan namun sulit pencairannya.

Nasib saya sama dengan teman-teman penulis lain, juga teman sekampus saya sudah ke tempat redaksinya namun nihil.Tapi, bagi saya ini untuk penyemangat buat diri sendiri dan orang lain. Selalu menebar kebaikan adalah segalanya.

Bagi kalian yang ingin kirim karya ke Radar Surabaya bisa melewati e-mail:radarsurabaya@yahoo.com.

Media ini menerima cerpen, esai, puisi, resensi.

Selamat berkarya!

Berikut dua diantara puisi yang dimuat:
EMBUN MENETES DI KELOPAKMU

embun menetes di kelopakmu
sapu tangan waktu berlarian
pada pipi yang berkerut samar
aku pun terjaga dari rasamu
sakit paling ngilu

embun menetes di kelopakmu
senyum tak tereja jelas
kata bungkam dan belum tuntas
seolah terpotong
jadi repih di pelataran

embun menetes di kelopakmu
kutahu kau adalah getas
yang diretas dua arah:
pagi dan malam tersedu
terbentang langit pengusung rindu-rindu

Surabaya, 23 April 2016

MENJAJAK KENANG

masih kutuntaskan
menggurat surat-surat
harum bunga mengusap cahaya
duduk mengeja kata

kelasah mengantar sunyi
di gerbang tua
waktu menggulung tak menjawab
mengalir dalam degup ratap

kubiarkan saja candu menjalar
meradang saat rembulan
di ujung malam
menuang imaji
dalam warna-warna rasa


Surabaya, 22 April 2016

Minggu, 11 September 2016

Puisi Duta Masyarakat 11 September 2016

Puisi Duta Masyarakat, Minggu 11 September 2016
Pagi ini saya mendapatkan kabar dari Mas Teguh bahwa puisi-puisi saya dimuat koran Duta Masyarakat. Meski ada sedikit kekecewaan karena redaksi salah mencantumkan  nama saya, tapi saya memakluminya karena banyaknya naskah yang masuk ke meja redaksi. Saya mengirim sekitar 2 minggu yang lalu dan baru dimuat hari ini.

Berikut puisi-puisinya:

PEREMPUAN LANGIT

lama parasmu tak bertukar tangkap dalam jubah waktu
mungkin guliran airmata telah tersibak dari pipi
desakan rindu tak mampu terbendung lagi
mentari sulit menelusup dari celah pagimu

Perempuan langit,
kasih sayang telah tetas dalam palung jiwa
merenda sepanjang relung sukma
siap memamah setiap butiran rasa yang kau tuang
bersamaan rengkuh dan belai mesra

Perempuan Langit,
pelangi dari matamu selalu memuja hari
seolah waktu adalah tunggu
dan hujan bagai asupan dahaga paling murni
yang disediakan musim di balik dingin

Surabaya, 14 September 2015



PERADUAN SUNYI

aku ingin bersembunyi dalam sunyi
tanpa kelebat mata yang mengawasi
lantaran pintu gaduh kututup rapat
dan celah sudah tak terlihat
dari jendela keakuanku sendiri

waktu hanya sebagai penentu
sedang  Kekasih adalah pertapaanku
biar kucumbu, kupeluk, kupinang
bersama puja di sepertiga malam
yang membagi berkah dan nikmat
di semesta alam;
di hati paling dalam

Surabaya, 8 Mei 2016



RAGU

beda denyar dalam jantung ini
padi di bendang pun tak sama
ia merunduk memikirkan nasibnya
sekian tahun ke depan

keinginan untuk membuat senyum mentari
terbakar raja siang
tergulung bualan petinggi

harganya kian naik
rakyat bungkam dan patuh
kerna oposisi telah jadi makanan
yang jarang dimakan lagi

Surabaya, 22 Oktober 2015