Senin, 21 Agustus 2017

Chit-Chat Seputar Mahasiswa Berprestasi [Mawapres Tips]

hayoo tebak aku yang mana, hehe

Holla, I’m back. Sudah agak lama tidak membahas hal-hal yang berkaitan dengan personal experience, nah kali ini saya akan membahasnya. Banyak yang merequest topik pembicaraan ini sehingga saya bersungguh menuliskannya.

"Kak, menang Pilihan Mahasiswa Berprestasi ya, gimana sih caranya?"
"Wah selamat ya Kak bisa sampai ke tingkat Kopertis, susah nggak sih?!""Kasih tahu dong kak caranya, kali aja aku yang mahasiswa baru bisa ditularin ilmunya."

Dan masih banyak pertanyaan lain seputar Mawapres. Baiklah, saya akan bercerita mulai awal hingga saya bisa ikut sampai dua tahun berturut-turut sebagai Mahasiswa Berprestasi. Tentu, setiap kampus memiliki aturan dan cara main sendiri-sendiri tapi secara global akan ada kemiripan. Oh, ya yang saya ceritakan ini tentu khusus untuk kampus swasta, untuk yang negeri agak berbeda karena tidak melewati kopertis, tapi tes-tes yang digunakan juga hampir sama kok.

Oke, awal saya ikut pemilihan itu saat saya semester 4. Saat itu saya masih awam dengan istilah Mawapres dan seluk-beluknya. Pemilihan pertama, saya tanpa persiapan karena memang nggak niat ikutan. Saya ikut sebisa saya, tidak belajar mendalam tentang topik yang akan saya buat bahkan saya merasa kebingungan mau membuat karya ilmiah mengenai apa.


Ya, pemilihan awal adalah di tingkat progdi kemudian lanjut ke fakultas yang selanjutnya kompetisi sampai di tingkat Universitas. Kalian akan disuruh mengumpulkan karya ilmiah dengan tema senada dengan jurusan/progdi. Karena jurusan saya Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, jadi yang saya kerjakan harus bernuansa Bahasa, Sastra, atau Pendidikan. Pokoknya nggak jauh-jauh dari itu.

Berkebun Asyik di Petro Agrifood Expo 2017


Karya ilmiah yang dikerjakan tentu saja terdapat format tertentu tentang jumlah halaman, ukuran font, ukuran kertas, penomoran halaman, dan lain-lain. Semua aturan itu akan diberikan saat sebelum kompetisi. Tiap peserta terdapat  1 (satu) dosen pembimbing. Dan sedihnya, saat itu saya mengerjakan semuanya sendiri tanpa dosen pembimbing karena jurusan saya, hmm … kurang mendukung. Saya pun memikirkan seluas pikiran saya memandang *hehe. Selama materi bisa saya kuasai ya saya tulis saja. Karena (katanya) saya ini penulis, akhirnya materi yang saya pilih berkaitan dengan literasi. Tepatnya Lokalitas dalam Literasi.

Persyaratan yang dikumpulkan apa saja?

Kompetisi di jurusan dan fakultas juga sama, kalian hanya perlu menyerahkan persyaratan seperti transkip nilai (mulai semester 1 hingga semester yang kalian jalani), foto copy KTM (Kartu Tanda Mahasiswa), hard copy karya ilmiah, membuat power point file, mengumpulkan 10 piagam prestasi, membuat summary dari karya ilmiah, dan mempresentasikan karya ilmiah yang sudah dibuat itu dalam bahasa Inggris. Untuk IPK memang ada batas minimum-nya untuk mendaftar calon peserta Mawapres dan tiap kampus punya standart masing-masing.

Bagaimana kompetisi di Universitas?

Di tingkat Universitas sama saja kok, semua bahan yang dikumpulkan sama. Tapi sebelum dikumpulkan bisa merevisi terlebih dahulu materi yang sudah dipresentasikan di tingkat fakultas. Oh, iya tiap fakultas hanya diambil 1 orang untuk mengikuti kompetisi mawapres tingkat Universitas. Pengalaman saya, saat Final tersisih 8 orang untuk memperebutkan Juara 1,2, dan 3 (saat ikut 2016), serta tersisih 6 orang (saat ikut 2017). Saya sih menambahkan di segi sertifikat kejuaraan saat mengumpulkan berkas tingkat universitas, yang awalnya hanya 10 sertifikat saya tambah menjadi 20-25 sertifikat.



Saat acara, ada sesi pidato sekitar 2-5 menit dalam Bahasa Inggris tepat sebelum pengambilan nomor undian. Ya, jadi urutan presentasi pun baru diketahui saat hari H itu karena undian dilakukan detik itu juga. Deg-degan pasti. Dalam pidato hanya perkenalan nama, dari jurusan dan fakultas apa, kemudian akan mempresentasikan karya ilmiah dengan judul apa dan isinya secara singkat, padat, dan jelas *hehe. Setelah pidato bisa duduk kembali dan menunggu urutan presentasi deh. Presentasi diberi waktu 10 menit dan komentar juri 10 menit juga jadi total 20 menitan. Kalau molor dikit harap maklum, ini ujian *ehh. Kata seorang yang saya kenal, makin lama juri menanya dan *kepo dengan karya kamu maka itu bisa menjadi indikasi juara.

Alhamdulillah banget, saat 2016 saya Juara 2 dan di tahun 2017 saya diamanahi Juara 1. Suatu amanah yang berat karena saya merasa nggak enak pada diri sendiri kalau mau bolos kuliah, haha :D

Menjadi Juara, Sulit Tidak?

Tentu setiap kompetisi itu memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Pasti ada aja ‘dramanya’. Bener, nggak? Saya pun drama saat nggak ada dosen pembimbing, dan hanya di tahun 2017 saat keikutsertaan saya kedua pas semester 6 baru ada dosen yang perhatian terhadap saya. Itu pun dosen favorit saya, alhamdulillah banget pokoknya. Judul yang saya gunakan untuk karya ilmiah entah sudah berapa puluh kali saya revisi hanya karena menurut saya nggak enak saat dibaca (terlalu panjang, atau kurang padat). Kesulitan lainnya, pihak kampus mencatat nama saya tanpa memberi tahu saya saat 2016 awal ikut. Saya diberitahu H-1 untuk pengumpulan berkas. Alhasil, karya ilmiah itu jadi dalam SKS (Sistem Kebut Semalam), otomatis nggak tidur.

Hal yang paling menegangkan ya saat presentasi di depan 3 juri. Juri pertama khusus ke karya ilmiahnya (substansi karya ilmiah, Bahasa karya ilmiah, dan komponen yang ada di dalamnya), juri kedua khusus fokus pada Bahasa Inggris yang digunakan saat presentasi (you know, saya jurusan Bahasa Indonesia, pastinya saya nggak fasih amat, dan sok pede aja gitu ngomong dengan pikiran yang penting selesai *hehe), dan juri ketiga khusus pada prestasi a.k.a sertifikat yang sudah kalian kumpulkan, beliau mengonfirmasi dan menyuruh kalian menceritakan kembali mengenai perolehan sertifikat-sertifikat itu. Yup, bagian itu sih yang paling menegangkan bagi saya. Hari H yang mencengangkan bahkan lebih serem dari film horror.

Bagaimana di Kopertis?

Nah, setelah dipilih sebagai pemenang yang akan mewakili Universitas ke tingkat Kopertis, dalam hal ini saya ke Kopertis VII yang meliputi wilayah Jawa Timur, selanjutnya yang dilakukan yakni kembali dari awal pengumpulan berkas. Untuk ke Kopertis memang pengumpulan berkas jauh lebih ribet dan lebih banyak. Kopertis hanya menyediakan kuota 45 perwakilan saja dari kampus swasta di Jawa Timur.


Persyaratan Mahasiswa Berprestasi ke tingkat Kopertis ditambah dengan video dalam bahasa Inggris menceritakan atau presentasi singkat mengenai karya ilmiah yang harus diposting ke akun Youtube masing-masing kemudian diberi judul Nama-Universitas-Mawapres 2017 kemudian menyerahkan salinan video tersebut dalam bentuk kepingan CD-R yang dijadikan satu dengan pemberkasan (dibendel jadi satu).

keseruan saat penutupan Pilmapres Kopertis

Hal yang paling menegangkan yakni ‘kepepet Deadline’. You know-lah, harus revisi karya ilmiah, editing video, upload video ke YouTube kalau jaringan lemot bakal lama sekali prosesnya, dan pengiriman berkas harus sesuai jadwal. Saya sangat melupakan kuliah waktu itu hanya fokus ke pemberkasan yang seabrek itu.

ALAMAT MEDIA YANG MENERIMA KARYA

Namun ada hal yang saya sadari, yakni saat ketemu temen-temen perwakilan dari universitas lainnya di Jatim dan semuanya humble, super loyal. Meski memang kami datang untuk kompetisi tetapi jiwa persaudaraan itu tak bisa tercampur dengan ketegangan persaingan. Kami masih bisa tertawa, makan siang dan makan malam bersama dalam kedekatan. Semua tes akhirnya bisa terlewati dengan begitu saja, tanpa beban mendalam. Bahkan kami sempat mau menangis saat penutupan. Seakan ingin terus bersama.

Tes yang diadakan Kopertis terdapat 3 tes, yaitu presentasi karya ilmiah, wawancara prestasi, dan interview kepribadian. Semua tes dilakukan dalam waktu 2 hari berturut-turut. Hanya satu hal yang membosankan yaitu saat menunggu giliran, akan bosan dan sangat mengantuk.

Tips Sebelum Ikut Pemilihan Mahasiswa Berprestasi

  •          Sebaiknya persiapkan diri sejak awal, jangan mendadak seperti saya.
  •          Lakukan ancang-ancang seperti ikuti banyak kegiatan, banyak lomba dan kejuaraan untuk menambah bobot prestasi kalian.
  •          Targetkan IPK selalu tinggi, setidaknya di atas batas minimum kampus
  •          Latih kemampuan speaking 2-3 bulan sebelum ikut kompetisi Pilmapres
  •          Kuasai secara detail materi yang akan dibuat karya ilmiah
  •          Siapkan mental, ini pasti agar tidak kaget atau tidak minder


Baiklah, sepertinya semua sudah saya sampaikan, mulai pengalaman hingga tips menjadi Mahasiswa Berprestasi itu seperti apa. Semoga kalian tertarik agar terus menjadi berprestasi. Kalau saya, hal yang saya tanamkan dalam diri adalah harus selalu menjadi orang yang lebih baik, berbuat terbaik yang saya bisa, dan berbuat positif untuk saya dan lingkungan saya. Hanya itu, untuk memotivasi diri sendiri agar terus bergerak, terus berjuang, dan terus menginspirasi. 

9 komentar :

  1. Serunya. :D Jadi pengen kuliah. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak awalnya sih ngerasa berat akhirnya seru, mending mencoba daripada tidak sama sekali. Ayo kuliah mbak kan ada yang weekend atau kuliah online

      Hapus
  2. Keren! Aku selalu terkendala di bagian bikin karya ilmiah, ujung-ujungnya jadi fiksi karena terbiasa nulis cerpen. Hihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. malah pas awal bikin dulu, wakil rektor 2 bilang kalau tulisanku terlalu puitis, wkwk. Itu akibat kalau penyair nulis karya ilmiah heuheu...

      Hapus
  3. alhamdulillah selamat atas prestasinya mba, semoga berkah ilmunya.

    tahun 2011 lalu saya jd mawapres sampek nasional. suatu pengalaman luar biasa bertemu seluruh mawappres se indonesia.

    mampir blog saya : http://ikeyuliastuti.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah selamat ya mbak... semoga berkah amiiin

      Hapus
  4. alhamdulillah selamat atas prestasinya mba, semoga berkah ilmunya.

    tahun 2011 lalu saya jd mawapres sampek nasional. suatu pengalaman luar biasa bertemu seluruh mawappres se indonesia.

    mampir blog saya : http://ikeyuliastuti.com

    BalasHapus
  5. Ya Allah Mbak Anggiiiii keren banget 😍 Aku pun masih jadi anak kuliahan, duh mampu gak ya ikutan mawapres. Dapet tugas bikin makalah wae sambat 😂

    Betewe seniorku juga ikutan mawapres. Barangkali kenal Umar dari Untag? 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya allah, itu si berbie cantik, xixixi kenal mbak kami bertemu di Kopertis. Wah ternyata itu senior mbak toh. Itu di atas kan juga ada Umar

      Hapus