Jumat, 19 Agustus 2016

Kopdar Dadakan Ala Harian Surya

Keluarga CIPOERS (Citizen Reporter)
anggi_putri

Holla! Back to my blog, guys. 

Kurang enak rasanya kalau saya tidak menuliskan sebuah perjalanan beberapa hari lalu ini. Sebuah pengalaman menarik yang membuat hati saya berdebar sangat kencang :D bukan karena jatuh cinta, tetapi bertemu dengan keluarga yang memiliki passion dan misi yang sama, yakni berbagi melalui tulisan.

Nah, tepat hari Kamis (18/8/2016) kami para Cipoers atau penulis rubrik Citizen Reporter Harian Surya dan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Surabaya, jurnalis Humas Pemkot Surabaya berkesempatan menimba ilmu penulisan kreatif dengan Manunggal Kusuma Wardaya (41).

Berangkat dari kampus ke kantor Harian Surya, karena ada sebuah urusan dulu. Hingga pukul 09:19 WIB saya masih di kampus. Ada rasa was-was kalau saya sampai sana dan acara sudah dimulai. Berhubung dari sekian banyak CIPOERS yang diundang saya tidak kenal satu pun.

Barulah H-1 saya dihubungi oleh Mbak Alia. Saya mengenalnya karena Mbak Alia datang di acara bedah buku saya di Mojokerto. Kedua kalinya kami bertemu masih di acara bedah buku saya yang dilaksanakan di Sidoarjo. Nah, jika tak berhalangan acara Kopdar CIPOERS ini merupakan pertemuan kami yang ketiga. (mungkin kita jodoh mbak :v)

Meski awalnya kesasar, tetapi pukul 10:00 tepat saya sudah di depan gerbang kantor Harian Surya. Betapa leganya hati saya kala itu. Sampai di sana saya berkenalan dengan beberapa yang turut hadir, seperti Pak Imam, Pak Agus, Fillah, Rizfa, Aulia, dan beberapa kawan lainnya. Mereka pun sangat antusias dengan acara ini hingga rela datang dari Pasuruan, Lamongan, maupun Sidoarjo. Padahal, biasanya sayalah peserta dengan jarak terjauh jika ada sebuah acara. Berhubung saya sedang di Surabaya, maka saya menjadi dekat.


Acara dimoderatori oleh Dhahana Adi Pamungkas mengantarkan ke sebuah perbincangan utama dengan Manunggal K Wardaya, narasumber dan juga kandidat doktor pada Faculteit der Rechsgeleerdheid Radbound Universiteit Nijmegen Belanda ini berbagai pengalaman terkait penulisan cerpen, esai, jurnal, kolumnis hingga musik. Terlebih beliau juga memiliki arsip lengkap mengenai sosok Dara Puspita, popularitas dan bubarnya grup band asal Surabaya yang jauh dari perhatian masyarakat.

Dosen Fakultas Hukum Unsoed Purwokerto ini meyampaikan bahwa hal yang paling utama ditekankan dalam sebuah tulisan adalah: pertama, tentang mengolah rasa menjadi suatu peristiwa yang dapat membangkitkan serta mengajak pembaca hanyut ke dalam cerita tersebut. Gaya penceritaan Manunggal K Wardaya (seolah) menggambarkan dan melukis sebuah cerita degan detail-detail yang tajam. Seperti pada sebuah novelnya "Nada Tjerita".

Kedua, yang tak kalah pentingnya adalah ekspresi gaya penulisan dari seorang penulis harus berbeda dengan penulis lain. Intinya seorang penulis harus memiliki keunikan dan daya tarik tersendiri bagi pembacanya. Meski tidak dipungkiri sebuah pepatah yang mengatakan:
"Tulisan akan menemukan takdirnya sendiri."
Ketiga, tidak terikat doktrin yang membatasi penulis untuk berimajinasi.  Kesimpulan terakhir yaitu bahwa sesuatu itu (menulis) meski dianggap biasa bila dilakukan dengan cara di atas biasa-biasa saja, maka hasilnya akan menjadi sangat luar biasa. Menulis adalah pasion dan proses panjang menuju sebuah harapan. Jika seseorang belum niat dan belum mencoba menulis maka dia tidak mungkin menjadi seorang penulis.
kaos Cipoers


Pertemuan dengan jurnalis ini seolah menjadi asupan semangat untuk terus menulis dan berkarya. Seperti halnya tulisan yang ada di banner acara ini.
"Jangan pernah lelah berbuat hal kecil terhadap orang lain. Berikan kebahagiaan terindah di hati mereka."

Inilah pegiat tulisan yang akan selalu mengobarkan semangatnya. Trust me, i am a citizen Reporter Surya.co.id.


6 komentar :