Kamis, 06 November 2014

Gerimis Masa Silam




Dedaunan di pekarangan Rumah Sakit Umum kian basah. Hujan tak jua reda. Sesekali lelaki itu menengok keluar ruangan. Ia termangu di daun jendela sembari menyeruput secangkir kopi panas. Hari-hari melelahkan telah terlampaui.
            “Ah, rasanya baru kemarin kakiku menginjak ruangan ini,” gumam lelaki itu sembari mengulas senyuman. Kini pikirannya tak lagi ada di sana. Bayangan masa silam kembali meracau otaknya.
            ***


            Di tengah gerimis, bocah jalanan bertubuh kurus berjalan tanpa alas kaki sambil mengetuk-ngetuk gerahamnya karena kedinginan. Jaket yang menyelimuti tubuhnya tak lagi menyimpan kehangatan. Tenggorokannya kian kerontang. Keadaan di bawah jembatan juga sepi senyap. Tempat menimba ilmunya itu tak lagi ramai seperti pagi hari.
            “Tunggu, Nak!” Langkahnya terhenti. Seorang lelaki tua turun dari mobil dan menghampirinya.
            “Mana rumahmu?”
            “Saya tidak punya rumah. Biasanya saya belajar sekaligus tinggal di bawah jembatan itu,” ucapnya sembari menunjuk jembatan yang berukuran raksasa di ujung jalan.
            “Kamu mau jadi anak Bapak? Kamu boleh tinggal bersamaku. Di rumah hanya ada aku dan si Pussy, kucingku. Istriku telah meninggal dua tahun lalu.”
            Dengan polosnya bocah lelaki itu mengiyakan ajakan orang yang baru dikenalnya. Dari penampilannya sepertinya dia terpelajar. Rapi dan sopan. Bocah itu tersenyum seusai melirik stetoskop di saku jas lelaki tua,” Beliau Dokter.”
***
            Masih dilihatnya darah yang membasahi sebagian badan jalan. Di tepi sudah dikerumuni massa yang membantu membersihkan serpihan-serpihan kaca mobil yang berserakan. Sedang Dokter Ferry masih terpaku melihat seorang mayat yang digotong menuju ambulance. Kakinya mengalami patah tulang dan detak jantungnya semakin melemah.
            Beberapa saat secangkir air mata hangat bercucuran membasahi pelipis lelaki muda itu. Suara sirine ambulance semakin membuatnya takut. Ketakutan itu kian bertambah ketika sudah berada di rumah sakit.
            Tubuh lelaki tua itu semakin melemah. Matanya tak kunjung terbuka. Beberapa tim medis berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawanya.
            “Kumohon, bangunlah,” ucap Dokter Ferry di sisa tenaganya. Sedang di luar ruangan terlihat seorang wanita dengan wajah gelisah. Ia juga mengkhawatirkan seseorang di dalam sana.
            “Ferry ...” panggil lelaki tua dengan nada suara rendah.
            Dokter Ferry menggenggam tangannya erat. Seakan ia tak ingin kehilangan sosok yang ada di depannya dalam waktu lama. Ia begitu mencintainya.
            “Maafkan Ayah ... jaga istrimu baik-baik. Tak ada yang Ayah banggakan kecuali ka-mu ....” Setelah mengatakan demikian, napas lelaki tua itu sudah tidak ada. Pupus harapan Dokter Ferry untuk menghabiskan hidup bersama sosok yang dipanggilnya dengan sebutan Ayah.
            “Selamat jalan Ayah, aku mencintaimu,” diciumnya kening lelaki tua yang sudah terbujur tak bernyawa itu dengan penuh kasih sayang. Seusai itu, Dokter Ferry keluar ruangan dengan hati yang teriris-iris.
            “Tabahkanlah hatimu, Mas,” ucap wanita yang sedari tadi menunggu di luar ruangan. Matanya pun berkaca-kaca dan ia tak bisa membendung tangisnya ketia Dokter Ferry mendekapnya.
            “Ayah telah meninggalkanku, Vi.”
            “Ayah akan bahagia di surga,” timpal Vivi, istrinya.
            Di hari yang sama, Ayahnya dimakamkan. Titik-titik air mata kehilangan masih menyelimuti Dokter Ferry. Ia  amat mencintai sosok Ayah angkatnya itu. Di usia kecilnya ia bisa mendapat kasih sayang dari seorang Dokter yang tidak memiliki siapa-siapa dalam hidupnya. Dan cintanya ... akan terkenang sepanjang masa. Pahlwan hidupnya, Ayahnya.
***

0 komentar :

Posting Komentar