Kamis, 21 April 2016

Tribun Jateng Edisi Minggu, 17 April 2016 (Resensi)

Minggu, 17 April 2016 review saya tentang buku karya Sungging Raga berjudul "Reruntuhan Musim Dingin" tak disangka dimuat Tribun Jateng. Awalnya pesimis karena sudah tiga minggu tak ada kabar pemuatan. Tepat saat saya berangkat ke Blitar untuk mengisi acara di Universitas Islam Balitar, ada kabar pemuatan yang langsung diinfokan oleh kak Sungging Raga melalui akun facebook saya.



Review dengan judul "Memaknai Kenangan dalam Perjalanan Cinta" adalah resensi perdana saya yang dimuat media cetak. Saya sangat senang karena ternyata tidak hanya dalam lingkup puisi, cerpen, artikel tetapi juga bisa menulis review. Semua adalah berkah. Patut disyukuri.

Semoga bermanfaat dan selamat membaca


Judul buku: Reruntuhan Musim  Dingin
Penulis: Sungging Raga
Penyunting: Ainini
Penerbit: DIVA Press
Cetakan: Pertama, 2016
Halaman: 204 halaman
ISBN: 978-602-391-079-3









Setiap orang, makhluk hidup, bahkan benda mati selalu memiliki sebuah perjalanan  dari masa lalu hingga ke masa sekarang. Perjalanan itu biasa disebut kenangan. Dalam kisah cinta, kenangan menjadi hal yang  paling istimewa. Sejatinya mengingat kenangan itu menjadi kegiatan mengasyikan sekaligus pedih. Dalam kenangan banyak tertoreh suka, luka, kesedihan, kebahagiaan, bahkan ketidakpuasan.
Dan inilah sebuah kumpulan cerpen yang mencoba memeras kenangan dengan cara yang tidak biasa. Kumcer ini terdiri dari dua puluh dua cerpen pilihan dan delapan diantaranya pernah dimuat di media cetak. Ditulis oleh Sungging Raga dengan bahasa renyah sehingga asyik untuk dibaca hingga tuntas. Serta cerita-cerita yang penuh kejutan yang menambah kenikmatan buku ini.
Nalea, sorang tokoh yang dominan dalam buku ini telah melewati banyak perjalanan cinta dan harus memeras kenangan, meski dirasa pahit dan membuatnya merelakan semua yang disuguhkan oleh kenangannya sendiri.
Dibuka dengan cerpen yang berjudul Selebrasi Perpisahan (hal. 25). Menceritakan perpisahan antara lelaki dan wanita di Terminal Tawang Alun, kota Jember yang dingin dan sederhana. Sepasang kekasih yang mengakhiri semua perjalanan dengan suasana sunyi. Ada tetesan air mata yang terbalut kerelaan. Bagaimana perpisahan mereka terjadi?
Kedua, cerpen berjudul Dermaga Patah Hati (hal.32). Judul yang berhasil membuat penasaran apa yang terjadi di suatu tempat romantis. Ada seorang wanita yang setia duduk di dermaga hingga tak memerdulikan waktu berganti siang, malam dan terus berputar. Apa yang dilakukan wanita itu di dermaga?
Lalu, ada yang mengunakan binatang sebagai tokoh dalam cerpen berjudul Melankolia Laba-Laba (hal.40). Diceritakan sebuah laba-laba mencintai gadis penghuni kamar yang ditempatinya. Gadis itu bernama Nalea. Si laba-laba selalu memerhatikan Nalea sepanjang hari; saat berdandan di depan cermin, tidur, keluar kamar hingga masuk ke dalam kamar lagi. Hingga suatu saat gadis itu tak muncul lagi. Si laba-laba tetap menunggu gadis yang dicintainya sembari berdoa suatu saat gadis itu menyadari bahwa laba-laba memiliki perasaan padanya. Kemanakah Nalea pergi?
Adapula cerpen berjudul Reruntuhan Musim Dingin (hal. 64). Cerpen ini menceritakan pada musim dingin tahun lalu, Nalea berkenalan dengan lelaki asing di Craven Cottage. Kala itu sehabis berjualan permen toffee, Nalea sedang membaca buku ketika lelaki itu duduk di sebelahnya. Ia kemudian dinikahi pemilik toko Armoury yang menjual pernak-pernik sepak bola. Apakah kenangan dapat berkembang menciptakan anak-anak kenangan yang lain? Nalea selalu bertanya-tanya. Entah ia bertemu lagi dengan lelaki asing itu atau tidak.
Selain empat cerpen yang telah dipaparkan, masih ada lagi kisah-kiah penuh imajinasi yang tidak biasa. Menarik dan tak terduga.  Hingga membuat berdecak kagum dan takjub. Bagaimana kisah-kisahnya, bisa ditemukan langsung dalam kumcer ini.
Buku ini inspiratif dan asyik untuk dibaca. Membuka gerbang pandangan yang lain, mengantarkan pada sisi pesan baik tersirat maupun tersurat. Buku ini juga sarat makna seperti terdapat beberapa quote yang cukup mengingatkan kita akan arti sebuah perjalanan, “Waktu memang telah membagi dirinya sendiri pada setiap manusia” (hal.99). “Hidup memang selalu menawarkan perpindahan tokoh yang kadang tak diduga.” (hal.d152).
Hanya saja, beberapa cerpen memakai nama Nalea sebagai tokohnya, sehingga mengharuskan lebih fokus dalam menenggelami setiap cerita.
Lapas dari itu semua buku Cerita-Cerita Pilihan berjudul Reruntuhan Musim Dingin ini recomended untuk dinikmati. Mengajarkan banyak hal tentang kenangan dan cara menyikapi perjalanan cinta bila tak semulus seperti yang dibayangkan. Karena cinta bisa saja gugur dan lenyap. “…cinta telah gugur di musim dingin puluhan tahun lalu di Craven Cottage, begitu pula dengn segenap ingatan dan nama-nama yang pernah tinggal, tapi tak pernah sempat menjadi kekal.” (hal.7).**


3 komentar :