Kamis, 27 November 2014

Di manakah puisi-puisi Anggi Putri?

Alhamdulillah,
Saya banyak-banyak bersyukur kepada Allah SWT. Entah kapan saya memulai dalam menggerakkan pena. Kini baru saya sadari bahwa sayap yang saya kepakkan sudah melebar ke beberapa bagian, walaupun belum sepenuhnya. Namun hasil sudah begitu nampak. Semoga selalu ada ridho-Nya.

Puisi-puisi yang saya tulis ternyata beberapa telah dimuat di media online. Bahkan hal tersebut baru saya sadari pagi ini ketika saya iseng ingin search di google dengan kata kunci 'puisi-puisi anggi putri'. Sekali klik nama saya ada di urutan teratas pencarian. Betapa terlonjaknya saya ketika menyadari bahwa puisi-puisi yang iseng saya kirimkan ke media online sudah termuat jauh-jauh hari. Bahkan sudah hampir setengah tahunan. Dalam waktu yang cukup lama itu saya tak menyadari sepenuhnya.

Beberapa di antaranya, yaitu:

Puisi berjudul Masihkah? yang dimuat di web loker puisi
www.lokerpuisi.web.id/2014/02/masihkah-oleh-anggi-putri.html

Puisi berjudul Masih Adakah? yang juga dimuat di web loker puisi
http://www.lokerpuisi.web.id/2013/12/masih-adakah-oleh-anggi-putri.html

Puisi berjudul Seteguk Kopi yang Kau berikan yang dimuat di jejak puisi
http://www.jejakpuisi.com/2014/03/seteguk-kopi-yang-kau-berikan-puisi.html

Dua puisi saya dimuat di Sayap Kata Edisi 22 Juli 2014

Puisi berjudul Pa Pu Ma yang dimuat di blog KPKers
http://kpkers.blogspot.com/2014/11/puisi-pa-pu-ma-karya-anggi-putri.html

Beberapa puisi yang ada di blog Aliran Puisi Baru:
1. Motif-motif Tak Bernyawa
http://eventaliranpuisibaru.blogspot.com/2014/10/motif-motif-bernyawa.html

2. Menyibakkan Sunyi dengan Doa
http://eventaliranpuisibaru.blogspot.com/2014/06/menyibakkan-sunyi-dengan-doa.html

3. Setetes Darah
http://eventaliranpuisibaru.blogspot.com/2014/11/setetes-darah.html

4. Pemuda Merah Putih
http://eventaliranpuisibaru.blogspot.com/2014/08/pemuda-merah-putih.html

Puisi Idul Fitri dimuat di blog Nektarity
http://www.rumpunnektar.com/2014/07/kumpulan-puisi-idul-fitri-karya.html


Barakallah ^_^



Jumat, 21 November 2014

Kopdar KPKers Surabaya

Kali ini saya bertemu dengan orang-orang yang luar biasa, mereka semua penulis Surabaya dan Sidoarjo. Saya tahu acara ini hanya dari  facebook dan ingin datang bersama salah seorang teman saya, Isnaini Afifah. Alhamdulillah, Isna mau saya ajak berjuang menuju Rungkut, dengan naik lin hingga oper  beberapa kali.

Jumat, 14 November 2014

Pengalaman Tak Terduga

Rabu, 12 November 2014 pukul 15.00 WIB


Siang itu matahari sangat terik. Kendaraan penuh memadati kota Surabaya yang penuh polusi. Asap kendaraan menyesakkan paru-paruku. Napas pun kembang kempis. Sudah tiga bulan aku berada di kota terbesar kedua di Indonesia itu untuk menempuh studi.

saya baca puisi Parade Jatim Cerdas

Jumat, 07 November 2014

Event Menulis Surat Cinta untuk Ibu (AE Publishing)






Bertepatan pada tanggal 22 Desember yaitu Hari Ibu, PJ Event beserta  AE Publishing mengajak kalian semua untuk menulis ‘surat’ untuk Ibu. Ungkapan terima kasih, rasa kasih sayang, dan cinta kepada sosok yang berjasa dalam melahirkan kita ke dunia. Sosok pelita kehidupan yang tak akan terganti.Oke, simak persyaratannya dengan saksama!

Gerimis Masa Silam




Dedaunan di pekarangan Rumah Sakit Umum kian basah. Hujan tak jua reda. Sesekali lelaki itu menengok keluar ruangan. Ia termangu di daun jendela sembari menyeruput secangkir kopi panas. Hari-hari melelahkan telah terlampaui.
            “Ah, rasanya baru kemarin kakiku menginjak ruangan ini,” gumam lelaki itu sembari mengulas senyuman. Kini pikirannya tak lagi ada di sana. Bayangan masa silam kembali meracau otaknya.
            ***

Lentera di Balik Hujan





Sebatas itu kau berada
Sebenarnya kau menyalahi dirimu sendiri
Kau menyalahi takdirmu sendiri
Mending jadi matahari atau rembulan
Terang menyinari
Jangan jadi korek api!
Kamu kian redup diteroa hujan
Aku tidak melihat egoisme dalam dirimu
Aku tidak melihat kata optimis dalam dirimu
Kamu hanya tertawa saat bersama
Dan kembali,
Sendiri dalam sunyi
Lenteraku
Kenapa? Kau bakar dirimu itu
Jelas tidak imapulata!

Surabaya, 4 November 2014

Pengungkapan




Selagu merdu nyanyian pagi
Mendayung jiwa ke ujung pelangi
Gelombang kenang membanting diri
:gemetar menitu sunyi

Berpendar asmara meneguk kelana
Mengadu samsara bertopang cakrawala
Kau bertudung sutra senja
Sayang berpulang pada-Mu jua

Di layar bingar bertukar sapa
Dalam mimpi Kau menjelma
Dalam hati Kau bertahta
:datang semasa

Libas habis waktuku!
Ah, bertukar rayu pun tak mau
Negosiasi kan kelabu
Surabaya, 4 November 2014

Kamis, 09 Oktober 2014

Ketika Api Melibas Puisi

Bagaimana jika api amarah melahap diri tanpa sisa?
Bahkan sajak ini pun ikut lebur bersama pekatnya jelaga
luluh-lantah hingga tiada kan tahu arah
merantau lama dalam ketiadaan

Tak puaskah merajut duka samsara dalam linang air mata?
yang mengubur dalam kedamaian dalam jurang kekecewaan semata
bahwa yang terukir tinggallah sisa-sia
: ampas dunia

kesendirian yang menentang segala,
mengadu penuh pertentangan dan wicara hati yang bungkam
tiada arti, tak terdengar dalam kelopak mimpi
metamorfosa tak bergulir lagi

membakar bait-bait lama yang tiada bertepi
puisi ini pun meruang dan memakan hati


Surabaya, 9 Oktober 2014
9:55 WIB

Senin, 06 Oktober 2014

Pengelana


Setiap yang tercipta akan lenyap
berlanjut pada pembaruan yang lebih sempurna
begitupun syair ini akan luluh
dan mengalir menuju ceruk muara yang disebut keakuan

daun jendela yang melambai
memanggil suara hati yang terdiam
membisu dalam sebuah ruang-ruang
sudut perhentian yang menjadi saksi ketiadaan

Ia merantau ke kota ke desa,
Pun menyusuri laut dan samodra
mencari pijakan yang sebenarnya maya
tak bertuan, tak berpenghuni, hanya akan menghamba

:pada semesta raya
jejaki buana
istana jiwa-jiwa pengelana
aksara

Surabaya, 6 Oktober 2014
20:36 WIB



Minggu, 28 September 2014

Sabtu, 19 Juli 2014

MACAM_MACAM NOVEL

Ada beberapa macam-macam novel. Novel dapat dibagi berdasarkan bentuknya, waktunya, dan alurnya. Selain itu, Novel juga dapat dibagi menjadi beberapa macam berdasarkan isi dari novel tersebut.
Berikut terdapat macam-macam novel, yaitu:
Novel Romantis
Novel romantis adalah novel yang memuat cerita panjang bertemakan percintaan. Novel ini hanya dibaca khusus oleh para remaja dan orang dewasa. Alur ceritanya pertemuan kedua tokoh yang berlawanan jenis tersebut ditulis semenarik mungkin. Lalu dilanjutkan dengan konflik-konflik percintaan hingga mencapai sebuah titik klimaks, lalu diakhiri dengan sebuah ending yang kebanyakan bercabang jadi tiga: happy ending (dua tokoh utama bersatu), sad ending (dua tokoh utama tidak bersatu), dan ending menggantung (pembaca dibiarkan menyelesaikan sendiri kisah itu).
Novel Komedi
Novel komedi adalah novel yang memuat cerita yang humoris (lucu) dan menarik dengan gaya bahasa yang ringan dengan diiringi gaya humoris dan mudah dipahami.
Novel Religi
Novel ini bisa saja merupakan kisah romantis atau inspiratif yang ditulis lewat sudut pandang religi. Atau novel yang lebih mengarah kepada religi meski tema tersebut beragam.
Novel Horor
Novel ini biasanya bercerita seputar hantu. Sisi yang menarik dari novel ini adalah latar tempatnya, yang kebanyakan sebagai sumber hantu itu berasal. Cerita juga biasa disajikan dalam bentuk perjalanan sekelompok orang ke tempat angker.
Novel Misteri
Novel ini adalah novel yang biasanya memuat teka-teki rumit yang merespons pembacanya untuk berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah tersebut. Bersifat mistis, dan keras.Tokoh-tokoh yg terlibat biasanya banyak dan beragam, seperti polisi, detektif, ilmuwan, budayawan, dll.
Novel Inspiratif
Novel Inspiratif adalah novel yang menceritakan sebuah cerita yang bisa memberi inspirasi pembacanya. Biasanya novel inspiratif ini banyak yang berasal dari cerita nonfiksi atau nyata. Tema yang disuguhkan pun banyak, seperti tentang pendidikan, ekonomi, politik, prestasi, dan percintaan. Gaya bahasanya pun kuat, deskriptif, dan akhirnya menemui karakter tokoh yang tak terduga.

ANALISIS SEMIOTIKA

Dalam buku Analisis Teks Media, Alex Sobur memuat kerangka Analisis Semiotika yang dianut oleh Semiotik Sosial dari Halliday dan Hassan:
  1. Medan Wacana (field of discourse): menunjuk pada hal yang terjadi: apa yang dijadikan wacana oleh pelaku (=media massa) mengenai sesuatu yang sedang terjadi dilapangan peristiwa.
  2. Pelibat Wacana (tenor of discourse) menunjuk pada orang-orang yang dicantumkan dalam teks (berita); sifat orang-orang itu, kedudukan dan peranan mereka. Dengan kata lain, siapa saja yang dikutip dan bagaimana sumber itu digambarkan sifatnya.
  3. Sarana Wacana (mode of discourse) menunjuk pada bagian yang diperankan oleh bahasa: bagaimana komunikator (media massa) menggunakan gaya bahasa untuk menggambarkan medan (situasi) dan pelibat (orang-orang yang dikutip); apakah menggunakan bahasa yang diperhalus atau hiperbolik, eufemistik atau vulgar.

Majas

Ada beberapa pengertian majas. Pengertian Majas atau gaya bahasa adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis.
Majas merupakan bahasa kias atau pengungkapan gaya bahasa yang dalam pemakaiannya bertujuan untuk memperoleh efek-efek tertentu agar tercipta sebuah kesan imajinatif bagi penyimak atau pendengarnya.
Seorang penulis sastra juga terkadang terkenal dengan tulisan-tulisan majas dalam karyanya. Dalam hal ini seorang penulis sastra dalam menyampaikan pikiran dan perasan, baik secara lisan dan tertulis kerap menyampaikannya dengan bahasa majas yang khas.
Pada dasarnya, majas dibagi ke dalam 4 kelompok utama yakni:
  1. Majas Perbandingan
  2. Majas Sindiran
  3. Majas Penegasan
  4. Majas Pertentangan
Masing-masing kelompok majas ini terdiri atas berbagai subjenis majas yang dikelompokkan berdasarkan identifikasi gayanya masing-masing. Adapun macam-macam majas yang masuk ke dalam kelompok majas perbandingan antara lain:
Alegori yakni majas yang menyatakan sesuatu melalui sebuah kiasan atau penggambaran. Misalnya: “Hidup ini bagai sungai yang mengalir. Sebelum bermuara, kita tak tahu apa yang terjadi di sepanjang alurnya.”
  1. Alusio, yakni majas berupa ungkapan yang tidak terselesaikan pada sesuatu yang dimaksud sebab telah diketahui siapa dan apa yang dimaksudkan. Contohnya: “Sudah lama aku tidak melihat batang hidungnya.” 
  2. Simile, yakni majas yang membandingkan dengan cara eksplisit. Majas ini gampang dikenali sebab menggunakan kata penghubung contohnya bagaikan, ibarat, umpama, bak dan masih banyak lagi lainnya. Contoh majas ini: “Bak seorang penari, gerak tubuhnya sangat luwes.”
  3. Metafora, yakni majas yang juga membandingkan suatu benda dengan benda lainnya dengan didasarkan pada sifatnya yang serupa. Contohnya: “Cuaca terlihat mendung berlangit abu-abu sebab sang raja siang tidak memunculkan dirinya.”
Masih ada macam-macam majas lainnya yang masuk ke dalam kelompok majas perbandingan antara lain: Majas metonimia, majas aptronim, majas antonomasia, majas hipokorisme, majas hiperbola, majas simbolik, majas eponym, majas fabel, majas litotes, majas asosiasi, majas persinifikasi, majas depersonifikasi, majas pars pro toto, majas totum pro parte, majas eufimisme, majas antropomorfisme, majas disfemisme dan masih banyak lagi lainnya.
Sementara itu, macam-macam majas yang masuk ke dalam kelompok majas sindiran antara lain:
  1. Majas ironi, yakni majas yang menyindir dengan menyatakan kebalikan dari fakta yang ada. Misalnya: “Kulitmu begitu putih serupa mayat.”
  2. Majas Sarkasme, yakni majas yang menyindir secara langsung dan lebih kasar. Misalnya: “Kamu dikenal sebagai pribadi yang pintar, lantas kenapa harus bertanya lagi padaku?”.
Majas lainnya yang masuk ke dalam kelompok majas sindiran ini antara lain: majas sinisme, majas satire, majas innuendo.
Adapun macam-macam majas yang masuk ke dalam kelompok majas penegasan antara lain:
  1. Majas apofasis yakni menegaskan dengan cara yang seolah menyangkal.
  2. Majas pleonasme, yakni majas yang menambahkan sejumlah keterangan pada sebuah pernyataan yang sebenarnya sudah jelas.
  3. Repetisi, yakni majas yang mengulang kata atau frase dalam satu kalimat.
  4. Majas pararima, yakni mengulang konsonan baik pada akhir maupun awalan dalam sebuah kata.
  5. Majas koreksio, yakni merupaka majas yang menyajikan hal-hal keliru dengan memaparkan maksud yang sesungguhnya.
  6. Majas asyndeton yakni majas yang menggunakan sebuah pengungkapan tanpa memakai kata penghubung.
  7. Majas aliterasi yakni majas yang menggunakan pengulangan konsonan di awal kata dengan tatanan yang berurut.
  8. Tautologi adalah majas yang mengulang kata dengan menggunakan semua sinonimnya.
  9. Majas sigmatisme adalah kalimat dimana terdapat gaya pengulangan huruf S untuk memperoleh kesan tertentu.
  10. Majas klimaks yakni majas yang memaparkan sebuah pikiran atau suatu hal secara berurutan dari sebuah hal yang sederhana hingga yang kompleks atau klimaks.
  11. Majas alonim adalah majas yang menggunakan berbagai jenis nama untuk menegaskan sesuatu, dll
Terakhir, macam-macam majas pertentangan antara lain:
  1. Majas paradox yakni majas yang mengungkapkan dengan cara menyatakan dua hal yang dibuat seolah bertentangan namun pada hakekatnya dua hal yang dikemukakan tersebut benar.
  2. Majas oksimoron yakni majas dengan menggunakan paradoks dalam 1 frasa.
  3. Majas antithesis yakni pengungkapan sesuatu dengan memakai kata-kata berlawanan makna dengan yang lain.
  4. Majas kontradiksi interminus yakni sebuah pernyataan yang memiliki sifat penyangkalan dan telah disebutkan pada bagian awal.
  5. Majas anakronisme merupakan ungkapan yang mengandung sebuah ketidaksesuaian antara sebuah peristiwa dengan waktu terjadinya persitiwa tersebut.

Pengertian Sajak

Ada beberapa pengertian sajak. Kata “SAJAK” Berasal dari kata Arab “saj” yang bermaksud karangan puisi. Sajak adalah persamaan bunyi. Persamaan yang terdapat pada kalimat atau perkataan, di awal, di tengah, dan di akhir perkataan. Walaupun sajak bukan menjadi syarat khusus bagi sesuatu puisi lama, tetapi pengaruhnya sangat mengikat kepada baentuk dan pilihan kata dalam puisi itu.
Sajak merupakan puisi Melayu moden yang berbentuk karangan  berangkap, berbentuk bebas dan tidak terikat pada jumlah baris, perkataan sebaris, suku kata sebaris, rangkap, rima dan sebagainya.
Tema - Persoalan pokok atau persoalan utama yang dikemukakan dalam sebuah puisi. Tema boleh juga di
artikan sebagai idea pusat atau idea dasar.
Abdul Hadi W.M. menjelaskan bahwa sajak itu ditulis untuk mencari kebenaran. Katanya lagi, "dalam sajak terdapat tanggapan terhadap hidup secara batiniah". Oleh itu bagi beliau, di dalam sajak harus ada gagasan dan keyakinan penyair terhadap kehidupan, atau lebih tepat lagi, nilai kemanusiaan.
Menurut H.B. Jassin, sajak itu adalah suara hati penyairnya, sajak lahir daripada jiwa dan perasaan tetapi sajak yang baik bukanlah hanya permainan kata semata-mata. Sajak yang baik membawa gagasan serta pemikiran yang dapat menjadi renungan masyarakat.
Sajak dibagi kepada jenis tertentu berdasarkan beberapa aspek, seperti berikut ini:
  • Dari aspek aliran, sajak dikatakan romantisme, realisme, eksistensialisme, dan lain-lain.
  • Dari aspek bentuk (luaran), sajak dikatakan kuatren, terzina, soneta, dll.
  • Dari aspek kebolehfahaman, sajak dikatakan polos (diaphan), taksa (ambiguous), prismatik, atau kabur; dan
  • Dari aspek ciri kandungan, sajak dikatakan abstrak atau konkrit. Sajak merupakan bahan yang sesuai untuk disampaikan kepada para pelajar sebagai bahan sastra di dalam pengajaran dan pembelajaran.