Jumat, 25 Desember 2015

KAJIAN SOSIAL BUDAYA CERPEN "PARA PENGHUNI SORTER" KARYA HARDJONO WS


Kajian Sosial Budaya
Cerpen “Penghuni Sorter”

Untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Ilmu Sosial Budaya Dasar



Oleh:
Anggi Putri Winarti (14610033)
Aisyah Farah Diba (14610032)



UNIVERSITAS WIJAYA KUSUMA SURABAYA
FAKULTAS BAHASA DAN SAINS
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
TAHUN 2015





KAJIAN SOSIAL BUDAYA
DALAM CERPEN “PENGHUNI SORTER” KARYA HARDJONO WS

I.                  LATAR BELAKANG
Cerpen yang berjudul “Penghuni Sorter” karya Hardjono WS, merupakan cerpen yang sarat dengan unsur sosial budaya. Oleh karena itu penulis akan mengkaji cerpen yang berjudul “Penghuni Sorter” ini dengan kajian sosial dan budaya.  Kajian sosial dilandasi dengan teori struktural C. Levi Starauss, yang membahas tentang tataran sosiologis yang menggambarkan keadaan sosial budaya pada masyarakat tersebut. Karya sastra yang mengandung unsur sosial sering ditemui pada cerpen ataupun novel. Teori C. Levi Starauss tidak membahas tentang keadaan sosial budaya saja, melainkan tataran geografis, tataran ekonomi, dan tataran tentang ghaib, akan tetapi dalam kajian ini hanya membahas tentang kajian sosial budaya pada cerpen yang kita miliki, karena sosial budaya merupakan kajian yang sangat penting untuk dikaji.
Kajian sosial juga dilandasi oleh teori Siswanto 1988 tentang ilmu sosial dasar adalah sebagai organisasi pengetahuan tentang pokok masalah sosial, tidak merupakan penggabungan beberapa ilmu sosial. Fakta sosial merupakan abstraksi kejadian sosial yang konkrit yang dinyatakan dengan pernyataan diskriptif ( Koentjoronigrat 1971).
Hal yang menjadi bahan kajian sosial adalah berbagai kenyataan secara bersama-sama merupakan masalah sosial. Adanya keanekaragaman golongan-golongan dan kesatuan sosial lain didalam masyarakat yang masing-masing mempunyai kepentingan dan kebutuhan serta pola pikir dan tingkah laku sendiri-sendiri yang berbeda sehingga menyebabkan pertentangan ( M. Moenandar Soelaiman 1987).
Kajian sosial merupakan suatu kajian yang meliputi interaksi sosial, konflik sosial, status sosial, kepentingan umum, kepedulian, dan kepribadian sosial yang ada dalam masyarakat.
Kajian budaya adalah ilmu budaya dasar yang identik dengan Basic Humanities. Humanities berasal dari kata latin Human yang berarti manusiawi, yang berbudaya dan berbudi halus (refined) diharap seseorang mempelajari Basic Humanities tidaklah sama dengan the humanities (pengetahuan budaya) yang menyangkut keahlian filsafat dan seni : seni pahat, seni tari, dan lain-lain. Melainkan teori budaya yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah kebudayaan sepertinorma, adat, saling menghormati, saling menghargai, intuisi, sikap, dan lain-lain.
Kajian budaya  atau cultural studies merupakan bidang yang majemuk dengan produksi teori yang kaya dan beraneka ragam. Kajian budaya menyangkut beberapa masalah, antara lain: etika, estetika, psikis, sikap atau keinginan, dan masyarakat majemuk.
Masalah budaya adalah segala sistem atau tata nilai atau sikap mental, pola pikir, pola tingkah laku dalam berbagai aspek kehidupan yang tidak memuaskan bagi masyarakat secara keseluruhan, atau dapat dikatakan bahwa masalah budaya adalah tata nilai yang daat menimbulkan krisis-krisis kemasyarakatan yang akan menyebabkandehumanisasi” atau terjadi pengurungan terhadap seseorang.


II.               PEMBAHASAN
Sosial
Dalam Cerpen “Penghuni Sorter” banyak terdapat masalah sosial budaya. Hal ini dapat dilihat dari berbagai macam aspek, antara lain:
1.    Interaksi atau hubungan sosial
            Interaksi sosial yaitu hubungan saling memengaruhi. Hubungan antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok yang dapat menimbulkan pengaruh satu sama lain.
            Dalam cerpen ini terdapat interaksi atau hubungan sosial antara tokoh Mak Pah dengan masyarakat sekitar. Hal ini dapat dilihat pada kutipan dibawah ini:
“Aku masih ingat bagaimana Mak Pah ini membantu orang-orang kecil seperti tukang becak, sopir bemo, taksi bahkan anak-anak muda yang banyak mangkal di gedung tua dekat warung Mak Pah ini berada.”
            Dari kutipan di atas dengan jelas kita mengetahui interaksi social Mak Pah dengan masyarakat sekitar sangatlah baik. Meski Mak Pah merupakan nenek tua miskin, tapi tidak menutup kemungkinan untuk berbagi meskipun hanya sepiring nasi atau gorengan, secangkir the, kopi, ketan, tempe, atau krupuk. Kebaikan hati Mak Pah sangat kentara di mata masyarakat sekitar tempat Mak Pah berjualan.
            Selain itu juga dapat dilihat hubungan interaksi tokoh Mak Pah dengan anak angkatnya. Hal ini dapat dilihat dalam kutipan di bawah ini:
“Mak Pah tak pernah punya anak. Tetapi semenjak mendirikan warung kecil tempat orang-orang kecil mangkal, Mak Pah mengambil anak angkat untuk membantunya. Bermacam-macam anak angkat Mak Pah. Setelah bosan ikut, mereka pergi lagi.”
            Dari kutipan di atas dapat kita ketahui bahwa anak-anak angkat Mak Pah tidak mempunyai rasa terima kasih terhadap Mak Pah. Seolah Mak Pah adalah tempat persinggahannya sementara, ketika mereka bosan bisa pergi begitu saja. Interaksi antara kedua tokoh ini kurang baik, meski Mak Pah bersikap layaknya seorang ibu kandung. Namun tetap saja terdapat ketimpangan antara keduanya.
2.    Konflik
Konflik terjadi ketika antara individu yang satu dan yang lain mengalami masalah. Hal ini mungkin terjadi karena berbeda pendapat atau persepsi, ideologi, dan lainnya. Konflik adalah proses yang dinamis dan keberadaannya lebih banyak menyangkut persepsi dari orang atau pihak yang mengalami dan merasakannya.
Dalam cerpen ini terdapat konflik antara tokoh Suami Mak Pah dengan keponakannya. Dapat dilihat pada kutipan dibawah ini:
“Ia menganggap laki-laki Mak Pah menerima semua warisan itu. Ponakan Mak Pah tak percaya. Hanya warisan ia harus melenyapkan nyawa pamannya. Katanya butuh banyak uang untuk naik haji.”

Dari kutipan di atas dapat dilihat bahwa interaksi social antara suami Mak Pah dengan keponakannya memang tidak harmonis. Keponakannya serakah dengan harta warisan sehingga rela melenyapkan nyawa suami Mak Pah dengan alas an butuh uang untuk naik haji. Perbuatan keponakan Mak Pah ini sangat tidak berperikemanusiaan. Bahkan jika ditinjau dalam hubungan kekeluargaan sekalipun.
3.    Status Sosial
                  Status sosial adalah sekumpulan hak dan kewajiban yang dimiliki seseorang dalam masyarakatnya (menurut Ralph Linton). Orang yang memiliki status sosial yang tinggi akan ditempatkan lebih tinggi dalam struktur masyarakat dibandingkan dengan orang yang status sosialnya rendah. Dalam lingkungan masyarakat kita melihat bahwa ada banyak perbedaan yang berlaku dan diterima secara luas oleh masyarakat. Di sekitar kita ada orang yang menempati jabatan tinggi seperti gubernur dan walikota dan jabatan rendah seperti pedagang atau petani. Di sekolah ada kepala sekolah dan ada staf sekolah. Ada orang biasa saja dan ada orang yang miskin.
Dalam cerpen ini terdapat status sosial dari dari tokoh utama yang terdapat dalam
kutipan:
“Airmata Mak Pah sudah tidak ada lagi. Habis, tidak bisa menangis lagi karena sudah biasa menerima kenyataan dan mengalami penderitaan itu. Coba berapa kali rombong Mak Pah ini harus dipindah, diusir, bahkan dibawa ke penertiban kota. Tetapi begitu saya mampu membayar uang tebusan ke kantor kecamatan, Mak Pah diperbolehkan jualan lagi. Aneh, kan?”

Dari kutipan di atas dapat kita ketahui bahwa status social seseorang sangat berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat. Orang yang status sosialnya rendah akan senantiasa ditindas dan tidak dihargai, meski ia tidak mempunyai kesalahan yang sangat besar. Ia hanya ingin mencari uang dan mencukupi kebutuhan sehari-hari.

4.    Kepribadian
                  Kepribadian adalah keseluruhan cara seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain. Kepribadian paling sering dideskripsikan dalam istilah sifat yang bisa diukur yang ditunjukkan oleh seseorang.
  Dalam cerpen ini terdapat kepribadian dari tokoh yang ada pada cerita.
Kepribadian Tokoh Aku
Tokoh Aku memiliki sikap balas budi terhadap kebaikan orang lain (Mak Pah) yang ditunjukkan pada:
“Kupercepat langkahku menuju warung kecil, milik Mak Pah, seorang nenek yang sejak dulu aku kenal.”
Kepribadian Tokoh Mak Pah
Tokoh Mak Pah mempunyai sifat suka tolong-menolong, ia selalu menolong siapapun yang membutuhkan bantuannya, meski ia hanya orang miskin yang tidak bergelimang harta. Hal ini dapat dilihat pada kutipan:
“Aku masih ingat bagaimana Mak Pah ini membantu orang-orang kecil seperti tukang becak, sopir bemo, taksi bahkan anak-anak muda yang banyak mangkal di gedung tua dekat warung Mak Pah ini berada.”
Selain itu, tokoh Mak Pah bersifat tegar dalam menghadapi kenyataan hidup. Hal ini dapat dilihat pada kutipan:
“Airmata Mak Pah sudah tidak ada lagi. Habis, tidak bisa menangis lagi karena sudah biasa menerima kenyataan dan mengalami penderitaan itu.”
Kepribadian Tokoh Anak Angkat Mak Pah
Anak-anak angkat Mak Pah tidak balas budi, tidak menghargai jasa orang yang mengangkatnya sebagai anak. Hal ini dapat dilihat pada kutipan:
“Mak Pah tak pernah punya anak. Tetapi semanjak membuka warung kecil tempat orang-orang kecil mangkal, Mak Pah mengambil anal angkat untuk membantunya. Bermacam-macam anak angkat Mak Pah. Setelah bosan ikut, mereka pergi lagi.”
Kepribadian Tokoh Suami Mak Pah
Suami Mak Pah adalah lelaki yang pekerja keras, ia tetap bekerja meski pekerjaannya selalu berganti-ganti. Hal ini dapat dilihat pada kutipan:
“Anehnya setelah perang usai, hidupku tetap susah tidak seperti teman laki-lakiku yang lain. Banyak yang menjadi tentara, sedangkan suamiku tidak. Pekerjaan laki-lakiku selalu berganti, tetapi yang paling sesuai adalah penjual buah-buahan.”
Budaya
5.    Etika
                  Etika adalah baik buruknya perilaku dari seseorang atau individu dalam berinteraksi terhadap sesama.
Dalam cerpen ini terdapat etika dari tokoh yang ada pada cerita.
Masalah budaya yang terkandung dalam cerpen “Penghuni Sorter adalah pembagian warisan yang berakhir dengan pertengkaran hingga terjadi saling bunuh, orang-orang kecil (rakyat kecil) yang harus bekerja keras untuk mencukupi kebutuhannya.

III.             PENUTUP

1.    Simpulan
a.      Dari analisis cerpen “Penghuni Sorter” karya Hardjono WS mengandung unsur kajian sosial budaya.
b.      Unsur sosial yang terdapat dalam cerpen tersebut adalah:
·   Interaksi atau hubungan sosial
·   Konflik
·   Status sosial
·   Kepribadian
c.       Unsur budaya yang terdapat dalam cerpen “Penghuni Sorter” adalah:
·   Etika


Sinopsis Cerpen Penghuni Sorter
Karya Hardjono WS

Mak Pah, wanita tua penjual kopi di sebuah warung kecil di tepi jalan. Ia adalah wanita yang begitu tegar menghadapi kenyataan hidup. Meski keadaannya miskin, ia tak pernah enggan menolong orang lain, seperti tukang becak, pelacur-pelacur, hingga anak-anak remaja. Dulu, ketika masih berjualan kopi di dekat gedung bioskop megah itu, Mak Pah sering membawakan pisang goreng, kopi, maupun wedang jahe untuk pekerja pabrik dan tukang becak yang berada di sekitar gedung bioskop. Saat zaman perang, Mak Pah menjadi tukang susu perah orang Belanda. Kemudian kawin dengan seorang pejuang. Awalnya Mak Pah bangga terhadap suaminya yang merupakan pejuang, namun lambat laun suaminya tiddak menjadi apa-apa. Suami Mak Pah bergonta-ganti pekerjaan hingga yang paling cocok adalah menjadi penjual buah-buahan.
Dikarenakan perebutan warisan dengan keponakannya, suami Mak Pah tewas dibunuh keponakannya sendiri. Keponakannya itu dijatuhi hukuman sepuluh tahun penjara, namun belum lima tahun sudah keluar ditukar dengan dua ekor sapi. Memang tidak ada bedanya rombong kopi dan nyawa. Yang berbeda hanyalah besar kecil uang tebusan.




DAFTAR PUSTAKA

(http://isbd.blogspot.com/kajian-sosial-dan-budaya.html) diunduh pada 30 Juni 2015 pukul 16:41

WS, Hardjono.2011.Tentang Kami Penghuni Sorter.Mojokerto: Kupu-kupu Lucu Publishing


0 komentar :

Posting Komentar