Tuesday, 9 May 2017

Interferensi Morfologis Bahasa Jawa dalam Bahasa Indonesia pada Rubrik ‘Piye Jal?’ Harian Suara Merdeka

Ganti dengan “


A.  Pendahuluan
Proses komunikasi merupakan kebutuhan manusia, baik komunikasi berbentuk lisan maupun tulisan. Komunikasi dan bahasa merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dengan interaksi yang dilakukan terhadap lingkungannya, hal tersebut dilakukan untuk menyampaikan gagasan, ide, pesan dan lain sebagainya yang berkaitan dengan interaksi. 

Chaer (2010:11) Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi atau alat interaksi yang hanya dimiliki manusia. Di dalam kehidupannya bermasyarakat, sebenarnya manusia dapat juga menggunakan alat komunikasi lain selain bahasa. Namun, tampaknya bahasa merupakan alat komunikasi yang paling baik, paling sempurna, dibandingkan dengan alat komunikasi lain.
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang bilingual atau dwibahasa, yaitu masyarakat yang menggunakan dua bahasa dalam berkomunikasi. Dalam proses komunikasi masyarakat Indonesia menguasai bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional selain bahasa daerah masing-masing. Kedua bahasa tersebut kadang digunakan dalam kehidupan sehari-hari secara bersamaan, baik secara lisan maupun tulis. Situasi semacam ini memungkinkan terjadinya kontak bahasa yang saling memengaruhi. Saling pengaruh itu dapat dilihat pada pemakaian bahasa Indonesia yang disisipi oleh kosa kata bahasa daerah atau sebaliknya. Adanya penyimpangan bahasa dapat mengakibatkan terjadinya kontak bahasa yang merupakan gejala awal interferensi.
Hubungan yang terjadi antara kedwibahasaan dan interferensi sangat erat terjadi. Hal ini dapat dilihat pada kenyataan pemakaian bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Karena hal ini menyangkut kepentingan individu penutur ataupun lawan tutur di saat kondisi bahasa kedua harus digunakan. Situasi kebahasaan masyarakat tutur bahasa Indonesia sekurang-kurangnya ditandai dengan pemakaian dua bahasa, yaitu bahasa daerah sebagai bahasa ibu dan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. 
Penutur bilingual tidak hanya dapat dilakukan dalam percakapan lisan, tetapi juga dilakukan dalam tulisan, khususnya di media massa. Media massa yang sangat dekat dengan masyarakat yaitu koran. Sehingga sangat mungkin masyarakat melakukan interferensi saat menulis opini yang dikirim ke suatu media. Interferensi merupakan fenomena penyimpangan kaidah kebahasaan yang terjadi akibat seseorang menguasai dua bahasa atau lebih.
B. Interferensi Morfologis
Interferensi merupakan proses masuknya unsur serapan ke dalam bahasa lain yang bersifat melanggar kaidah gramatika bahasa yang menyerap. Mengenai pengertian interferensi secara komprehensif. Berikut pernyataan beberapa pakar membatasi pengertian interferensi.
Kridalaksana (1985:26) Interferensi adalah penyimpangan kaidah-kaidah suatu bahasa yang terjadi pada orang bilingual sebagai akibat penguasaan dua bahasa. Penyebab interferensi yang lain adalah kurangnya penguasaan kaidah kebahasaan secara benar.
Alwasilah (1985:131) Interferensi merupakan kekeliruan yang disebabkan oleh adanya kecenderungan membiasakan pengucapan (ujaran) suatu bahasa terhadap bahasa lain mencakup pengucapan satuan bunyi, tata bahasa, dan kosakata.
Soewito (dalam Chaer, 2010:126) menyatakan bahwa “Interferensi dalam bahasa Indonesia berlaku bolak-balik, artinya unsur bahasa daerah bisa memasuki bahasa Indonesia dan bahasa Indonesia banyak memasuki bahasa-bahasa daerah.
Kekeliruan pengucapan satuan bunyi, tata bahasa, dan kosakata berdampak pada gangguan atau penyimpangan pada sistem fonemik bahasa penerima. 
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas dapat ditarik simpulan bahwa interferensi merupakan peristiwa berbahasa yang dilakukan oleh seorang bilingual dengan cara menggunakan suatu bahasa dengan memasukkan unsur-unsur bahasa lain.
Interferensi morfologis dapat terjadi apabila dalam pembentukan kata bahasa Indonesia menyerap unsur bahasa atau afiks lain, dalam hal ini terjadinya penyerapan unsur bahasa Jawa ke dalam pembentukan kata bahasa Indonesia. Persentuhan unsur kedua bahasa tersebut dapat menyebabkan perubahan sistem bahasa yang bersangkutan. Misalnya kata yang berafiks bahasa daerah dan berkata dasar bahasa Indonesia dan sebaliknya, namun struktur morfemisnya mengikuti proses morfologis bahasa daerah atau sebaliknya. Dalam bahasa Indonesia ada tiga unsur proses morfologis yaitu: proses pembubuhan afiks (afiksasi), proses pengulangan (reduplikasi), proses pemajemukan (komposisi) (Ramlan, 1985:51-82)


Proses morfologi dalam bahasa Indonesia seperti yang dikemukakan oleh Ramlan (1985:63) yaitu berupa afiksasi, reduplikasi dan pemajemukan. Hal tersebut sama dengan proses morfologi bahasa Jawa, sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi interferensi morfologi antara bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. 
Menurut Suwito (1983:55) interferensi morfologi dapat terjadi apabila dalam pembentukan kata suatu bahasa menyerap afiks-afiks bahasa lain. Afiks suatu bahasa digunakan untuk membentuk kata dalam bahasa lain, Sedangkan afiks adalah morfem imbuhan yang berupa awalan, akhiran, sisipan, serta kombinasi afiks. Dengan kata lain afiks bisa memempati posisi depan, belakang, tengah bahkan di antara morfem dasar (Ramlan, 1985:63). 
Selain berupa penambahan afiks, gejala-gejala interferensi morfologi dapat pula berupa reduplikasi, dan pemajemukan. Menurut Ramlan (1985:63) 
Berdasarkan proses morfologis bahasa Indonesia, pada penelitian ini akan khusus membahas tentang interferensi morfologis bahasa Jawa yang berupa afiksasi saja.
Interferensi morfologis dapat terjadi pada proses pembentukan bentuk dasar bahasa Indonesia dengan pembubuhan afiks bahasa Jawa. Proses pembubuhan afiks tersebut dinamakan afiksasi. Afiks adalah morfem terikat yang berupa awalan (prefiks), sisipan (infiks), akhiran (sufiks) dan kombinasi afiks (konfiks)(Agustien dkk, 1999:15). Pada penelitian ini ditemukanadanya interferensi yang terjadi karena adanya proses afiksasi yang meliputi pelesapan awalan, penambahan bentuk awalan, penambahan bentuk akhiran, pertukaran bentuk awalan, dan pertukaran bentuk akhiran. Sedangkan proses afiksasi adalah proses pembubuhan afiks pada suatu satuan, baik satuan itu berbentuk tunggal atau kompleks (Ramlan: 1985:49).
C.  Interferensi Morfologis Bahasa Jawa dalam Bahasa Indonesia pada Rubrik ‘Piye Jal?’ Harian Suara Merdeka

1.    Interferensi Morfologis
1.1. Pertukaran Sufiks
Dalam interferensi morfologis terdapat pertukaran sufiks –N bahasa Jawa dengan sufiks –nya bahasa Indonesia. Interferensi tersebut dapat dilihat pada data berikut.
(1)   Soal pangan misale, tak hanya warga yang belanja untuk konsumsi sendiri. (PY/25 Mei 15)
(2)   Jumlah pedagange sekitar 4.850. (PY/25 Mei 15)
Kata misale dan pedagangnya dalam konteks kalimat di atas merupakan kata dasar bahasa Indonesia yang terinterferensi oleh akhiran –e bahasa Jawa. Dalam tuturan di atas kata-kata tersebut tidak perlu lagi diberi imbuhan –e. Kata misale dan pedagange mendapat pengaruh unsur bahasa Jawa yang dipindahkan dalam bahasa Indonesia, apabila kata tersebut digunakan dalam kalimat berbahasa Indonesia sebaiknya diganti dengan kata yang sepadan atau sufiks –e tersebut dihilangkan. Sehingga kata bercetak miring di atas dapat diganti atau dipadankan dengan kata dalam bahasa Indonesia yaitu misalnya dan  pedagang
1.2. Pelesapan Afiks yang Utuh
Pada makalah ini ditemukan adanya interferensi morfologis yang berupa pelesapan afiks yang utuh. Adanya penghapusan atau pelesapan afiks unsur yang trinterferensi terjadi akibat kebiasaan penutur dalam berbahasa ibu. Berikut merupakan contoh tuturan yang berupa pelesapan afiks yang utuh:
(1)      Pak Direktur PDAM Purwodadi, saya punya pertanyaan yang harus dijawab. Kapan air di sebelah timur perempatan Tuku lancar? sudah bayar mahal tapi airnya macet terus. (081325xxx)(PY/ 13/ 4 Okt 06)

            Bentuk kata yang ditulis miring di atas merupakan kata dasar bahasa Indonesia. Bentuk kata punya telah mengalami interferensi yaitu berupa penghapusan awalan baik di awal maupun akhir kata. Pada konteks bahasa Indonesia kata punya seharusnya mendapat afiks meng- i. Kata punya tersebut telah terpengaruh oleh struktur bahasa Jawa, dapat dilihat pada contoh kata dalam bahasa Jawa yang memang tidak mendapat afiks yaitu Aku duwe tas anyar.
1.3.  Pemakaian prefiks Nasal N- Bahasa Jawa
Pada makalah ini diketahui bahwa prefiks N- sering digunakan oleh penutur Jawa saat menggunakan bahasa Indonesia. Penambahan prefiks nasal N-pada kata dasar bahasa Indonesia dapat mengakibatkan interferensi bahasa Jawa dalam pemakaian bahasa Indonesia. Pemakaian prefiks N- pada tuturan yang ada dalam makalah ini merupakan prefiks bahasa Jawa sebagai pengganti bentuk prefiks bahasa Indonesia yaitu meng-. Pemakaian prefiks nasal N- bahasa Jawa dapat terjadi karena kebiasaan penutur dalam melafalkan kata kerja bahasa Jawa pada saat berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Fungsi prefiks N- sebagian besar membentuk kata kerja.
Pada makalah ini ditemukan adanya pemakaian prefik N- yang merupakan bentuk nasalisasi bahasa Jawa dapat dilihat pada tuturan berikut:
(1)      Bapak kapolres kab Semarang, mohon menempatkan petugas di depan kantor Polres, karena personel Anda & tamu sering seenaknya kalau nyebrang (08122887xxx)(PY/12/4 okt 06)
(2)      Mengapa pohon mahoni di kanan kiri jalan kuwu-Doro ditebang, tanpa ada rencana peremajaan? itukan Aset Pemdes Kuwu, kok oknum perangkat desa yang ngatur. Apakah 28 batang semua untuk jembatan darurat. (081326165xxx)(PY/2/11 Sept 06).

Dalam kaidah bahasa Indonesia, tidak terdapat pembentukan kata yang mendapat prefiks N- pada kata dasar seperti data di atas. Berdasarkan analisis di atas dapat diketahui bahwa kaidah pembentukan kata bahasa Jawa yaitu dengan penambahan prefiks N- sedangkan pembentukan kata bahasa Indonesia digunakan penambahan prefiks meng-. Bentukan kata seperti nyeberang dan ngatur merupakan kebiasaan penutur bahasa Jawa yang melafalkan bentuk kata kerja bahasa Jawa. Kata nyeberangngatur, di atas merupakan  kata dasar bahasa Indonesia yang mendapat awalan N- bahasa Jawa. Kata tersebut dalam bahasa Indonesia adalah menyeberang dan mengatur

D.      Simpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan penulis tentang Interferensi Morfologis bahasa Jawa dalam pemakaian bahasa Indonesia pada kolom “Piye Jal?”  Harian Suara Merdeka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Pada kolom “Piye Jal?” Harian Suara Merdeka ditemukan adanya bentuk interferensi yaitu interferensi morfologis yaitu, yang berupa afiksasi.
2.      Bentuk interferensi morfologis berupa afiksasi yang ditemukan meliputi pertukaran sufiks, pelesapan afiks yang utuh dan pemakaian prefiks –N bahasa Jawa.



E.       Daftar Pustaka
Agustien, dkk. 1999. Buku Pintar Bahasa dan Sastra Indonesia. Semarang: CV.    Aneka Ilmu
Alwasilah, A. Chaedar. 1985. Beberapa Madhab dan dikotomi Teori Linguistik. Bandung: Angkasa.
Chaer, Abdul dan Agustina, Leonie 2010. Sosiolinguistik. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Chaer, Abdul. 2003. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta
____________.2007. Linguistik Umum. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Ramlan, M. 1987. Morfologi: Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV. Karyono.
Suwito. 1983. Sosiolinguistik. Surakarta: UNS Press
Jendra. I Wayan. 1991. Dasar-Dasar Sosiolinguistik. Denpasar: Ikayana.

Kridalaksana, Harimurti. 1985. Tata Bahasa Deskripsi Bahasa Indonesia: Sintaksis. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

0 comments :

Post a Comment